Aku Menikahi Anak Angkat Ku

Aku Menikahi Anak Angkat Ku
Rencana berdarah I


__ADS_3

Dua hari berselang semenjak hilangnya Dean. Alika dan Johan masih tetap berusaha dengan penuh harapan, tidak sedikitpun keduanya merasa putus asa karena mereka yakin jika Dean pasti akan baik-baik saja.


Disisi lain Tao yang sedang dalam perjalanan menjemput Rio dari kampus melihat Alika yang sedang memasang poster orang hilang ditempat umum dan membagikanya kepada setiap orang yang dia temui. Tao kagum dengan kegigihan Alika yang tidak pernah menyerah meskipun dia terlihat lelah.


Usai menjemput Rio, Tao memutuskan untuk bicara pada Dean. Tao menceritakan tentang apa yang dilihatnya dan Dean hanya menanggapinya dengan tersenyum.


"Tuan?" Ucap Tao bingung.


"Hanya tinggal sebentar lagi, apa kau sudah siap untuk menjalankan rencana kita?" Sahut Dean balii bertanya.


"Tuan sebelum kita menjalankan rencana ini apa kita berempat bisa bicara?" Ucap Tao dengan wajah murung.


"Sesuai keinginan mu" Sahut Dean yang kemudian mamanggil Rio dan Hans.


Mereka berempat pun berdiri disatu ruangan yang sama. Diantara mereka berempat hanya Tao yang terlihat paling tegang, entah apa yang sebenarnya ada didalam pikiranya tetapi jelas terlihat jika dia sedang mengkhawatirkan sesuatu.


"Tuan tugas kali ini aku merasa tidak yakin" Ucap Tao ragu-ragu.


"Aku mengerti perasaan mu, dan aku tidak menyalahkan mu jika kau merasa cemas" Sahut Dean ramah.


"Tuan membiarkan and terluka itu sama sekali bukan ide yang baik, jika aku yang terluka itu tidak masalah tapi jika anda yang terluka aku merasa. Kalau itu tidak benar" Ucap Tao mengutarakan isi hatinya.


"Kalian bertiga tenanglah. Aku sudah memikirkan rencana ini dengan baik, dan kita berempat juga akan bekerja sama bukan? lalu apa yang harus ditakutkan?" Sahut Dean sembari memegang pundak Tao.

__ADS_1


"Kami percaya pada mu Tuan" Ucap Hans dengan penuh keyakinan.


"Tuan setelah semua ini selesai bisakah kita berempat pergi keluar dan merayakan ulang tahun ku bersama?" Ucap Rio mencairkan suasana.


"baiklah. Jika rencana ini berhasil kita semua akan merayakan ulang tahun mu, kau senang?" Sahut Dean sembari tersenyum ramah.


Mereka berempat pun segera bergerak pada posisinya masing-masing. Hans mendatangi rumah Sarah dan mengirimkan sebuah map berwarna biru yang berisikan semua informasi kesehatan Dean dan tempat keberadaan Dean, setelah membuka map itu Sarah yang sudah gelap mata segera menuju ke lokasi yang tertulis didalam map itu.


Sementara itu Rio dan Dean sudah berada digudang tua tempat yang akan menjadi kenangan terburuk bagi Dean. Rio mengikat Dean dikursi sesuai dengan rencana mereka sebelumnya, saat mengikat Dean wajah Rio terlihat sangat murung.


"Apa kau cemas?" Tanya Dean kepada Rio yng sedang mengikat tubuhnya.


"Tuan... jika hari ini adalah hari terakhir kita bertemu..." Ucap Rio lirih.


"Percayalah kepada ku, tidak ada satupun makhluk didunia ini yang bisa merenggut nyawa ku selagi aku masih bersama dengan kalian yang aku cintai" Sahut Dean sembari menatap wajah Rio.


"Bagus. Dimana Tao?"


"Dia sedang bersiap tuan, dia terlihat sangat tegang karena ini pertama kalinya dia akan membiarkan tuan terluka didepan matanya"


"Dia sangat ambisius tapi juga emosional, terkadang aku berfikir jika kalian itu kembar karena sifat kalian itu mirip sekali"


"Tuan apa aku boleh melindungi mu?" Tanya Rio setelah menyelsaikan pekerjaanya.

__ADS_1


"Boleh tapi bukan hari ini, biarkan aku terluka hari ini karena hanya dengan cara ini aku bisa menghancurkan musuh ku"


"Tuan aku akan pergi ke posisi ku, tuan harus tetap baik-baik saja" Ucap Rio sembari berlalu pergi menuju keluar gudang dan berjaga-jaga disana bersama dengan anak buah Dean yang lainya.


Tidak lama kemudian Sarah datang dan diikuti dengan Hans. Hans mengambil tempat persembunyian yang jaraknya cukup dekat dengan Dean, dan menyiapkan senjatanya untuk sekedar berjaga-jaga.


"Kau..." Ucap Sarah usai membuka pintu gudang tua itu dan melihat Dean terikat dikursi yang ada dihadapannya.


"Selamat datang nek, bagaimana kabar nenek? Apa nenek sehat?" ucap Dean berbasa-basi.


"Aku tidak tau siapa yang membawamu kemari tapi aku yakin orang itu pasti juga sangat membenci dirimu sama seperti diriku" Ucap Sarah sembari memeriksa tali yang mengikat tubuh Dean.


"Apa kau sangat membenci ku nek?"


"Aku tidak hanya membenci mu, tapi aku sangat membenci mu!" Sahut Sarah sembari mencengkram leher Dean dengan kuat.


"apa kau tau? Karena kau dilahirkan ke dunia ini anakku, anakku satu-satunya Alesa Rahma! Putri kesayangan ku dia meninggal! Karena mu dia tiada!" Sambung Sarah berucam sembari meluapkan amarahnya dengan tangan yang terus mencengkram leher Dean dengan kuat.


"Apa karena itu kau sangat ingin melenyapkan ku?" Ucap Dean sembari tersenyum.


"Aku sudah melakukan segala hal untuk bis melenyapkan mu. Tapi semua itu gagal kau tau kenapa? Karena kau itu pembawa sial! bahkan karena kesialan mu itu yang kuasa sampai tidak ingin menerima mu kembali padanya" Sahut Sarah sembari melepaskan tangannya dan berjalan mundur beberapa langkah dari Dean.


"Aku menyayangi mu nek" Ucap Dean lirih.

__ADS_1


"Jangan panggil aku nenek! aku bukan nenek mu! selamanya aku tidak akan mengakui diri mu sebagai keturunan ku!" Ucap Sarah dengan berteriak, dan melemparkan sebuah potongan kayu kearah Dean dan mengenai luka operasinya.


Darah mengalir dari luka Dean dan wajahnya terlihat menahan rasa sakit. Sarah terlihat senang ketika melihat hal itu dan pada saat itulah Sarah mengarahkan pisau pada Dean dan bersiap untuk melemparkannya.


__ADS_2