
"Bunda kata kak Rio bunda dan kakak Dean sedang bertengkar ya?" Ucap Rio membuat Alika terkejut.
"Dia mengatakanya?"
"Iya katanya bunda juga bertengkar dengan ayah, bund... ayah itu orangnya seperti apa? Kenapa ayah tidak menjenguk aku?" Tanya Rio dengan wajah polosnya.
"Ayah mu akan segera datang, jangan khawatir ya... kau sudah melihat kak Dean?"
"Sudah tapi tadi hanya sekilas lalu dia kan terus dibawa sama kak Hans"
"Kamu sudah kenalan ya sama dua kakak yang tadi?"
"Iya, mereka bilang mereka keluarga kak Dean tapi bukan anak ayah dan bunda"
"Kamu pasti bingung ya"
"Tidak juga karena tadi sudah dijelaskan sama kak Hans..."
"Baguslah kalau begitu, sekarang kamu istirahat ya..."
__ADS_1
"Iya, bunda"
Alika menyanyikan lagu tidur untuk Li dan menemaninya hingga terlelap. Setelah Li tidur Alika mengirimkan pesan kepada Johan dan Dean, Alika meminta mereka untuk datang menemui Li dan membawakan hadiah kecil untuknya.
Dean mengiyakan permintaan Alika dan segera menuju ke rumah sakit setelah megantarkan Hans dan Rio pulang. Dean membelikan ponsel dan beberapa buah untuk Li, saat sampai dirumah sakit Dean melihat Alika sedang mengambil paket belajaan online didepan rumah sakit.
Dean pun mendatangi Alika dan membantunya membawakan barang belanjaanya. Mereka berdua masuk ke kamar Li bersamaan, Alika terkejut karena saat masuk dia melihat Li menangis ketakutan ditempat tidurnya.
Alika menjatuhkan barang bawaanya dan segera memeluk Li dengan erat.
"Ada apa? Kenapa?" Tanya Alika khawatir.
"Gelap?" Ucap Alika bingung sembari beradu pandangan dengan Dean.
Dean pun lantas menyalakan lampu kedua diruangan itu hingga ruangan itu menjadi sangat terang. Li baru berani membuka matanya setelah cahaya lampu yang begitu terang menyinarinya.
"Maafkan bunda..." Ucap Alika sembari menenangkan Li yang masih ketakutan.
"Dia takut gelap dan dia rabun senja, kita harus bisa menenangkannya dan menjaga agar ruangan ini tetap terang" Ucap Dean kepada Alika.
__ADS_1
Perlahan Alika melepaskan pelukanya dan duduk dihadapan Li, menggenggam tangannya erat. "Kalau kau takut saat gelap, kau harus berani mengeluarkan suara mu agar ada yang menolong mu... kalau kau diam seperti tadi kau bisa tetap dalam kegelapan dalam waktu yang lama" Ucap Alika memberikan nasehat.
"Ehm"
Karena terlalu ketakutan hal itu akhirnya berpengaruh pada kesehatan Li. Melihat Li yang mulai kesakitan Alika menjadi panik dan berkali-kali menekan tombol alrm darurat, dokter segera datang dan memeriksa keadaan Li.
Alika dan Dean menunggu diluar dan kemudian disusul dengan datangnya Johan. Setelah beberapa menit mereka dipersilahkan masuk oleh dokter.
"Ini agak sulit nyonya... putra anda mengalami Fobia nyctophobia atau fobia pada gelap, hal ini bisa membuatnya mengalami serangan panik saat berada ditempat yang tidak ada cahayanya dan karena kepanikan yang berlebihan bisa membuat detak jantungnya tidak beraturan dan bisa membuatnya merasa sakit dibagian dada, tapi dia juga mengalami rabun senja dimana dia akan sering kehilangan pengelihatanya ditempat yang kekurangan cahaya...
Ini jelas menjadi kondisi yang sangat sulit untuknya. Ditambah lagi luka dibagian kepalanya juga belum sembuh sepenuhnya dan bisa membuatnya mengalami sakit kepala bila sedang panik atau ketakutan" Ucap dokter menjelaskan.
"Dokter... saya akan menjaganya dengan baik, tadi saya memang ceroboh karena meninggalkanya sendirian tapi saya tidak akan melakukan itu lagi" Ucap Alika penuh keyakinan.
Alika kemudian berjalan mendekati Li dan berdiri disampingnya. "Sudah tidak apa-apa... jangan takut ya" Ucap Alika lirih.
"Bunda maaf..."
"Jangan minta maaf, sekarang yang terpenting kau baik-baik saja... coba lihat siapa yang datang. Itu ayah dan kakak mu" Ucap Alika menghibur Li yang terlihat sedih.
__ADS_1