
"Apa dia berniat mengambil Jingmi?" Tanya Hans khawatir.
"Tidak... tapi dia datang untuk membunuh anaknya sama seperti beberapa tahun yang lalu" Sahut Rio dengan suara lirih.
"Kakak apa ibu akan pulang malam?" Tanya Jingmi kepada kedua kakaknya.
"Ibu akan pulang lebih awal berhentilah berenang, pakai baju mu, dan makan siang sana" Sahut Rio memberikan perintah.
Jingmi bergegas pergi ke kamarnya dan Rio mengajak Hans untuk duduk bersama diruang tamu.
"Aku tidak mengerti untuk apa dia kembali, bukannya dia sudah mendapatkan paman Johan dan dia berjanji untuk tidak menyentuh keluarga kita lagi" Ucap Hans bingung.
"Aku juga masih tidak mengerti kak waktu itu aku berhasil menyelamatkan Jingmi mungkin juga karena keberuntungan. Aku sempat memeluknya dan membawanya masuk ke dalam mobil tepat saat wanita itu hampir menusuk Jingmi" Sahut Rio menjelaskan.
"Dari mana kau tau jika itu dia?"
__ADS_1
"Aku tidak akan pernah bisa melupakan wajah jahat wanita itu bahkan meskipun aku mati"
"Apa Jingmi melihatnya?" Tanya Hans cemas.
"Untungnya tidak karena aku mengalihkan perhatianya dengan memeluk dia dan memaksa dia untuk segera masuk mobil" Sahut Rio sembari menghela nafas.
"Sepertinya percaya pada wanita ular seperti dia memang sebuah kesalahan" Ucap Hans sembari memegang kepalanya.
Saat keduanya saling diam dan merenung tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara benda pecah. Suara itu berasal dari kamar Jingmi dan terdengar sangat keras, keduanya bergegas dan berlari menuju kamar adiknya.
Rio bergegas membawa Jingmi untuk meninggalkan kamar itu sementara Hans masih disana untuk memeriksa keadaan. Hans kemudian mengirimkan foto keadaan kamar Jingmi yang kacau pada Alika, Hans juga mengatakan jika Alika harus segera pulang karena mereka tidak tau hal gila apa lagi yang akan terjadi setelah ini.
Alika yang menerima pesan itu bergegas untuk segera pulang dan saat sampai dirumah dia langsung menghampiri Jingmi anak bungsunya.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Alika cemas.
__ADS_1
Jingmi memeluk Alika dengan erat dan Alika membalas pelukan anaknya dengan lembut. "Tidak apa-apa... sudah tidak apa-apa" Ucap Alika lirih.
"Siapa pelakunya?" Tanya Alika kepada kedua anaknya yang lebih tua.
"Kami tidak tau tapi tadi aku menemukan kertas ini" Sahut Hans sembari memberikan kertas yang tadi membungkus batu itu pada Alika.
Alika melepaskan pelukanya dan membuka kertas itu, dikertas itu tertulis sebuah kalimat peringatan yang berbunyi."Ini tidak akan pernah berakhir Alika!" .
"Siapapun yang mengirim surat dengan cara seperti ini jelas dia tidak berniat baik, Hans perintahkan anak buah mu untuk menjaga rumah ini dengan ketat... Rio kau harus selalu bersama dengan Jingmi urusan ini biarkan ibu dan Hans yang menanganinya" Ucap Alika memberikan perintah.
"Ibu apa mungkin ini ulah Beca?" Ucap Rio menebak.
"Kita masih belum bisa menyimpulkan apapun karena kita masih kekurangan bukti, tapi jika memang benar ini ulah Beca maka aku akan memberinya sebuah pelajaran yang berharga tapi jika ini ulah orang lain aku juga tidak akan memaafkanya" Ucap Alika sembari memeluk Jingmi.
"Siapapun kau jika kau sudah berani menargetkan anak-anakku maka kau harus berurusan dengan ku" Ucap Alika dalam hati sembari memeluk Jingmi dan meremas kertas itu hingga tak berbentuk dan melemparkanya ke dinding.
__ADS_1