Aku Menikahi Anak Angkat Ku

Aku Menikahi Anak Angkat Ku
Sudah Bangun.


__ADS_3

Alika kembali ke kamar Li dan saat dia masuk dia sangat terkejut saat melihat Li sudah siuman dan duduk ditempat tidurnya. Alika juga bertemu dengan dokter yang memeriksa Li.


"Selamat nyonya. Anak anda sudah bisa melewati semua masa sulitnya, tapi nyonya saya harap dia jangan sampai tertekan karena itu sangat tidak baik untuk kesehatanya" Ucap dokter sembari menyalami Alika penuh haru.


"Terimakasih dokter" Sahut Alika lirih.


Alika kemudian berjalan mendekati Li dan memeluknya. "Kamu bangun kenapa lama sekali?" Ucap Alika sembari menitikan air mata.


"Li dia itu ibu mu, kau mungkin tidak mengingatnya karena kecelakaan itu" Ucap Hans menutupi kebenaran itu dari Li.


"Ibu?" Ucap Li lirih.


"Bukan... tapi bunda" Sahut Alika dengan lembut.


"Bunda..."


Dean masuk ke dalam ruangan dan membuat suasana haru berubah menjadi hening. Hans menarik tangan Dean dan Johan kemudian menjelaskan segalanya kepada mereka.


Mereka bisa mengerti tindakan Hans itu. Mereka juga berterimakasih karena Hans bisa bertindak secara cepat dan juga tepat walaupun sedikit ceroboh dan juga sempat kebingungan.


Sedangkan masih Alika duduk disamping Li dan mentap wajahnya. Berkali-kali Alika membelai wajah anaknya itu dan menangis haru bercampur dengan kesedihan. Walau hanya berdua diruangan itu tapi rasanya seperti ada puluhan orang disana.


"Bunda aku sakit berapa lama?" Tanya Li dengan lirih.

__ADS_1


"Dua hari" Sahut Alika lembut.


"Baru dua hari tapi aku sudah melupakan semuanya"


"Tidak masalah, kehilangan kenangan masa lalu itu tidak apa-apa karena masa lalu tidak harus diingat juga... yang terpenting adalah masa kini dan masa depan" Sahut Alika sembari menatap wajah Li dengan penuh kasih sayang


"Bunda selama aku tidak sadar, aku mendengar suara wanita... aku tidak ingat dia mengatakan apa tapi suara itu, apa itu bunda?"


"Kau mendengarnya?"


"Iya... suaranya terdengar sangat menenangkan"


"Benar itu suara ku"


"Bunda... disini ramai sekali"


"Eum..." Sahut Li mengangguk.


"Li... apa kau lapar?" Ucap Alika mengalihkan pembicaraan.


"Dokter bilang aku hanya boleh makan makanan yang cair..."


"Kau pasti tidak menyukainya" Ucap Alika sembari tersenyum lembut.

__ADS_1


"Bunda..."


"Iya?"


"Ada anak kecil sudut ruangan, kenapa dia disana? Apa dia keluarga kita juga seperti dua kakak yang tadi?" Tanya Li dengan polosnya.


Alika langsung melihat ke sudut yang dimaksud oleh Li. Alika tidak terkejut ataupun takut dengan kemampuan spesial Li yang bisa melihat hal seperti itu, karena menurut Alika semua orang itu memang punya kemampuan yang berbeda-beda dan mungkin ini adalah ujian baginya untuk bisa belajar menjadi ibu yang baik bagi Li.


"Yang kau lihat tidak sama dengan dua kakak tadi, anak itu adalah makhluk lain yang satu dunia dengan kita tapi berbeda alam" Sahut Alika dengan penuh kasih sayang.


"Bunda... maaf" Ucap Li lirih.


"Jangan minta maaf karena kau tidak salah, dan juga bunda tidak ada masalah dengan kemampuan mu itu"


"Bunda tidak takut dengan ku?"


"Kenapa seorang ibu harus takut pada anaknya sendiri"


"Bunda... entah kenapa aku merasa aneh, bunda tidak akan marah atau memukul ku kan?"


Alika tersenyum lembut. "Bunda tidak akan menyakiti mu, bunda berjanji" Sahut Alika lirih.


Li menundukan kepalanya seperti takut pada Alika. Alika beranjak dari duduknya dan memeluk Li dengan penuh kasih sayang.

__ADS_1


"Jangan takut... bunda akan selalu ada disini untuk mu, tidak akan ada satupun orang didunia ini yang bisa menyakiti mu" Ucap Alika sembari memeluk Li erat dan Li membalas pelukan Alika itu dengan tanganya yang dingin dan sangat mirip dengan tangan kakaknya.


"Bunda... entah kenapa rasanya aku tidak pernah dipeluk seperti ini, padahal bunda pasti sudah sering melakukanya semenjak aku kecil dan sebelum aku sakit" Ucap Li menuruti kata hatinya.


__ADS_2