
Pagi hari dirumah baru. hari ini Alika merasakan hidupnya benar-benar berubah, Setelah membuka matanya Alika segera merapikan tempat tidurnya dan mandi setelah itu membangunkan Johan dan Dean kemudian menyiapkan sarapan.
Langkah demi langkahnya dirumah baru terasa sangat berbeda. Ketenangan, cinta, dan masa depan yang indah selalu ada dibenak dan hatinya kebahagiaan yang selama ini dia impikan kini sudah bisa dia rasakan.
Pagi ini Alika menyiapkan roti bakar dengan bermacam-macam selai dan toping dia juga membuat teh hangat untuk suaminya dan susu hangat untuk anaknya. Kemudian seperti biasa setelah semuanya siap Alika akan duduk dimeja makan menunggu suami dan anaknya turun untuk sarapan.
"Selamat pagi love" Ucap Johan yang berjalan menuruni tangga dan duduk dikursi utama meja makan.
"Pagi...'' Sahut Alika dengan senyum manisnya.
"Pagi ayah, pagi bunda" Ucap Dean yang masih berjalan ditangga.
"Pagi..." Sahut Alika sembari menyajikan sarapan dipiring Johan.
"Dean mau selai apa?" Tanya Alika menawarkan.
"Coklat aja bun" Sahut Dean sembari duduk dikursi yang berhadapan dengan Alika.
"Tumben?... ga mau rasa kacang lagi?" Ucap Johan dengan nada bicara menggoda Dean.
"Boosen yah kacang mulu" Sahut Dean menanggapi sembari tersenyum.
"Ya udah ini buruan dimakan" Ucap Alika sembari menyajikan roti itu dipiring Dean.
"Hari ini ayah pulang telat ya, paling jam delapan malam lewat baru sampai rumah" Ucap Johan sembari menyantap makananya.
"lagi banyak kerjaan ya a?" Ucap Alika penasaran.
"Iya. soalnya ada beberapa urusan juga yang belum selesai" Sahut Johan dengan nada datar.
"Tenang aja bun. Karyawan ayah itukan 97% laki-laki jadi bunda ga usah khawatir" Sahut Dean menggoda Ayah dan bundanya.
__ADS_1
Alika dan Johan hanya menanggapi ucapan Dean dengan senyuman. Alika memperhatikan Johan dan Dean yang sedang makan dengan seksama, sejenak Alika mengingat kembali masa lalunya yang mana kala itu dia dikurung oleh ibu tirinya dan tidak diberi makan seharian sehingga karena lapar dia terpaksa minum air putih yang ada dikamarnya saat itu.
Tapi mengingat hal itu Alika hanya bisa menghela nafas panjang dan tersenyum. Apa yang dia alami dimasa lalu adalah jalan baginya menuju masa depan yang bahagia, walau dia tau ada begitu banyak bekas luka yang tak mungkin bisa hilang tapi dia memiliki sesuatu yang lebih indah untuk dipikirkan dari pada masa lalunya yaitu keluarganya.
Setelah Johan berangkat ke kantor Alika duduk dikursi ditepi kolam renang. Sembari menikmati jus jeruk Alika membaca sebuah buku resep membuat kue.
"Bunda" Ucap Dean mengejutkan Alika.
Alika pun terkejut dan langsung merespon panggilan Dean."Iya kenapa?"
"Aku keluar dulu ya bun"
"Mau kemana? kamukan belum terlalu sehat" Ucap Alika sedikit khawatir.
"Dean mau keluar dulu buat nebus obat bun, obat untuk jantung Dean udah mau habis"
"Kalau gitu sini resepnya, biar bunda aja yang keluar buat beli obatnya" Sahut Alika sembari beranjak dari duduknya.
"Iya tapi tetep aja bunda ga mau kamu pergi sendirian, kalau nanti kamu kenapa-kenapa gimana?" Ucap Alika dengan penuh perhatian.
"Dean janji habis dari beli obat Dean langsung pulang, bunda jangan khawatir ya..." Sahut Dean dengan sedikit memaksa.
"Ya udah, iya tapi jangan lama-lama bunda khawatir sama kamu" Sahut Alika yang memberikan izinnya dengan hati.
Dean pun berangkat dengan menggunakan mobil dan menyetir sendiri. Alika yang melihat Dean pergi sendirian merasa tidak enak hati tapi jika dia mengikuti Dean maka Dean pasti akan kecewa padanya karena berfikir jika Alika tidak bisa mempercayai Dean.
Alika hanya bisa diam dan berharap semoga Dean bisa segera pulang. Sebenarnya Dean memutuskan untuk pergi sendirian bukan karen tanpa alasan, karena sebenarnya Dean memiliki tujuan lain.
Dean tiba-tiba menghentikan mobilnya. "Bunda... maafin Dean, tapi aku ga tahan lihat kemesraan bunda dengan ayah. Semakin hari kalian semakin dekat walau aku ga bermaksud membuat bunda berpisah dengan ayah tapi melihat kedekatan kalian aku juga tidak tahan, hati ku sakit sekali bun"
Dean kemudian mencoba memikirkan cara agar dia bisa lebih dekat dengan Alika. Setelah beberapa saat Dean akhirnya menemukan cara untuk bisa mencapai keinginannya untuk bisa lebih dekat dengan Alika, tapi rencana Dean bukanlah rencana yang bisa diterima oleh akal sehat.
__ADS_1
Dia berencana untuk menggunakan kasih sayang dan perhatian Alika padanya untuk bisa selalu dekat denganya. "Bunda... mungkin bunda ga akan suka dengan cara ini, tapi cuma ini yang bisa Dean lakuin untuk bisa selalu dekat dengan bunda walau pun nyawa ku taruhanya tapi cinta itu harus diperjuangkan dan harus ada pengorbanan."
Dean kemudian melanjutkan perjalanannya untuk membeli obat. Saat sampai disana Dean membali dua jenis obat yang berbeda, obat pertama dia beli sesuai dengan resep pemberian dokter sedangkan obat kedua yang dia beli adalah obat berdosis tinggi yang dapat membuat penyakit jantungnya kambuh jika dia mengonsumsi obat itu.
Hal yang dilakukan oleh Dean sangatlah berbahaya karena bisa saja dia kehilangan nyawanya sesaat setelah meminum obat itu. Dean memberi tulisan dibawah botol pil obat itu, dibotol pertama dia tandai dengan huruf A yang berarti obat asli dari dokter sementara di obat kedua dia memberi huruf B yang berarti obat berbahaya yang dia siapkan sendiri.
Tidak sampai disitu Dean juga masih mempunyai rencana lainya yang juga sama gilanya. Disaat perjalanan pulang Dean melaju dengan kecepatan tinggi dan kemudian dia berhenti didekat sebuah gubuk tua tempat para preman dan brandal biasanya berkumpul. Dean kemudian masuk ke dalam gubuk itu dan menemui salah seorang dari mereka.
"Hei anak orang kaya mau apa kesini?!" Tanya salah seorang preman itu kepada Dean dengan kasar.
"Aku datang untuk memberi kalian pekerjaan" Sahut Dean dengan sinis.
"Kerjaan apa heh?!"
"Mudah saja, kalian tembak aku dan kalian dapatkan uangnya" Sahut Dean dengan tenang.
Para preman itu terkejut dengan ucapan Dean yang seakan-akan berencana untuk bunuh diri itu. "gobl*k mau mati lu" Sahut salah seorang diantara preman itu.
Deam kemudian meletakan uang sepuluh juta diatas meja didepan para berandalan itu. "Tugas kalian mudah, ikuti sampai didepan rumah ku saat kalian melihat seorang wanita keluar untuk membuka pintu kalian tembak aku. Kalian bebas menembak disemua bagian tubuh ku kecuali kepala ku" Ucap Dean dengan suara yang sangat tenang.
"Oke gimana kalo dada lo aja yang kita tembak?" Tanya ketua berandal itu dengan meletakan tanganya dibahu Dean.
"Tugas kalian hanya menembak ku sebanyak satu kali, dan ingat ini adalah rahasia kita" Sahut Dean acuh tak acuh.
"Kapan lo mau kita habisin?"
"Kalian tidak akan bisa membunuhku, karena kemampuan menembak kalian bahkan tak sebaik anak tk" Sahut Dean dengan tenangnya.
"Bangs*t" Ucap salah seorang dari mereka mengupat.
"Kita liat saja nanti. yang penting kapan kau mau kita memulai ini?" Tanya ketua berandal itu kepada Dean.
__ADS_1
"Hari ini juga, sekarang juga aku mau kalian mengikuti ku sampai rumah saat sudah sampai lakukan sesuai rencana" Sahut Dean sembari berjalan keluar dari gubuk itu dan di ikuti oleh ketua berandalan itu dan satu anak buahnya.