
"Nyonya, tuan besar dan tuan muda melarang kami untuk mendekat apapun yang terjadi, sekarang apa yang harus kami lakukan jika seandainya para orang desa itu menyakiti mereka nyonya?" Tanya Kafa orang kepercayaan Johan.
"Ikuti perintahnya" Ucap Alika sembari menghela nafas panjang.
Alika yang sebenarnya juga merasa tidak tega jika harus melihat kedua orang terdekatnya seperti itu tetap berusaha untuk tegar. "Bunda ayah dan kakak kenapa? Kenapa mereka berlutut bund?" Tanya Jingmi dengan polosnya.
"Mereka membuat kesalahan dan harus mempertanggung jawabkanya" Sahut Alika sembari menitikkan air mata karena tidak tega.
"Dia benar-benar melakukanya..." Ucap Hans lirih.
"Kafa... dan kalian semua jaga Jingmi dan Rio. Apapun yang terjadi jangan biarkan mereka mendekati kami" Ucap Alika memberikan perintah.
"Bunda..." Ucap Jingmi khawatir.
__ADS_1
"Bunda juga harus berada disamping mereka karena bunda juga bersalah, kalian berdua tetap disini" Sahut Alika sembari tersenyum dengan terpaksa.
"Tunggu kak... aku juga pernah melakukan kesalahan, aku juga pernah membantu kak Dean menghabisi banyak orang. Aku juga harus dihukum" Ucap Rio memaksa ingin ikut.
Alika hanya bisa mengangguk dan menahan air mata. Rio pun ikut bersama dengan mereka menemani Johan dan Dean berlutu memohon maaf kepada semua orang yang ada disana.
"Alika apa yang kau lakukan?" Tanya Dean bingung.
Perlahan ada seorang wanita tua renta mendekati mereka. Wanita itu berjalan kearah Johan dan duduk bersimpuh dihadapanya, wanita itu meletakan tanganya diatas kepala Johan dengan lemah lembut.
"Sini biar ku lihat... biar ku lihat wajah orang yang sudah membunuh anakku ini, nak... kau sangat tampan dan kau berani meminta maaf pada kami setelah semua yang kau lakukan... kami juga tau jika selama ini kau dan keluarga mu sudah membantu kami sebagai cara mu untuk meminta maaf...
Nak setelah hari ini aku seorang ibu bisa pergi menemui putra ku dengan tenang. Karena aku bisa mengatakan hal ini kepada mu, aku memaafkan mu... karena meskipun kau sudah membunuh satu anakku kau juga sudah menyelamatkan anakku yang lainya" Ucap wanita tua itu yang kemudian meletakan bunga mawar putih yang dia bawa didalam genggaman tangan Alika.
__ADS_1
Semua orang yang sudah ikhlas dan memaafkan Dean dan Johan memberikan bunga mawar putih yang mereka bawa kepada Alika sebagai tanda penghargaan atas keberanianya untuk mendorong kedua orang terdekatnya itu meminta maaf.
Tapi tidak semua dari mereka memaafkan Dean dan Johan dengan begitu saja. Ada seorang pria tua yang juga sudah kehilangan anaknya karena Dean berkata jika dirinya akan memaafkan Dean setelah dia menghabisi nyawa Dean.
Tanpa ragu Dean beranjak dan mendekat pada pria itu kemudian berlutut dihadapanya. "Aku sudah membunuh anak anda... sekarang anda pun berhak melakukan hal yang sama" Ucap Dean pasrah.
Pria itupun memukul wajah Dean dengan sangat keras. Berulang kali pria itu memukul Dean dengan tangan kosong kemudian dengan batang kayu, Johan yang menyaksikan hal itu berniat melindungi Dean tapi Alika menahanya.
"Orang tua itu hanya marah karena dia sudah kehilangan anaknya, tapi percayalah dia tidak akan membuat mu merasakan rasa sakit seperti yang dia rasakan... dari tatapan matanya aku masih melihat kasih sayang dan belas kasihan" Ucap Alika sembari menahan tangan Johan.
Dan benar saja orang tua itu berhenti memukul Dean setelah melihatnya lemah tak berdaya. Orang tua itu kemudian menangis sekeras yang dia bisa melepaskan semua kesedihanya.
"Anakku sudah mati" Ucap orang tua itu sembari terisak tangis.
__ADS_1