Aku Menikahi Anak Angkat Ku

Aku Menikahi Anak Angkat Ku
Hukuman mu adalah Cinta ku


__ADS_3

"Bukankah cinta itu begitu rumit? Kita saling mencintai tapi tidak bisa saling memiliki" Ucap Alika dengan mengalihkan pandangannya.


"Itu karena cinta kita hanya seperti angin, yang bisa dirasakan tapi tak bisa digenggam" Sahut Dean dengan senyuman.


"Terkadang hidup memang sangat tidak adil, kenapa aku harus berada dititik dimana aku sendiri tidak bisa memilih antara cinta atau setia" Ucap Alika yang duduk membelakangi Dean.


"Bukankah kau sudah memilih setia" Sahut Dean singkat.


"Iya... aku memang lebih memilih setia tapi aku tidak tau apakah pilihan ku ini benar atau salah karena jujur akupun tidak bahagia dengan pilihan ku"


"Kau bisa merubah pilihan mu itu"


"Tidak Dean. Aku tidak akan merubah pilihan ku karena aku lebih memilih terluka dari pada tidak setia"


"Ikatan pernikahan memang sangat luar biasa, bisa menyatukan dua jiwa tapi memisahkan dua cinta" Sahut Dean sinis.


"Cinta tidak harus saling memiliki tapi harus saling mengerti" Sahut Alika sembari beranjak dari duduknya.

__ADS_1


Alika berjalan mengambil Beberapa buah apel dan juga pisau kemudian meletakanya dimeja.


"Mungkin ini hukuman untuk semua yang sudah aku lakukan" Sahut Dean sembari menghela nafas panjang.


"Mungkin ini bukan hanya hukuman bagi mu tapi juga ujian untuk kesetiaan ku" Ucap Alika meletakan pisau buahnya kemudian memeriksa suhu tubuh Dean.


"Selama ini aku sudah banyak sekali melakukan kesalahan, aku juga sudah membunuh banyak orang dan untuk itu sekarang aku sedang dihukum. Aku sudah kehilangan sahabat yang juga saudara ku, aku kehilangan kepercayaan ayah ku, dan aku harus menerima kenyataan jika wanita yang aku cintai adalah ibu tiri ku"


"Jika kau merasa diri mu sedang dihukum maka percayalah semua hukuman ini masih belum berakhir, karena aku yakin masih ada banyak hukuman yang harus kau terima" Sahut Alika menanggapi.


"Apapun alasanya membunuh seseorang bukanlah hal yang benar" Sahut Alika dengan suara lembut.


"Aku tidak membunuh semua saingan ayah, aku hanya membunuh mereka yang lebih dulu menyerang ayah" Ucap Dean dengan sedikit menyesal.


"Dean... aku tidak memiliki hak untuk mengungkit masa lalu mu atau menyalahkan mu untuk itu, tapi aku sangat menyayangkan kenapa kau melibatkan Rio dan yang lainya? Sekarang satu persatu dari mereka menghilang dari hidup mu dan hanya Rio yang tersisa untuk mu... aku harap kau tidak mengulangi kesalahan yang sama dan bisa menjaga Rio dengan sebaik mungkin" Sahut Alika menasehati.


"Jika bisa memilih aku tidak hanya ingin bisa melindunginya tapi aku juga ingin mengulang waktu dan memperbaiki masa laluku"

__ADS_1


"Masa lalu tak bisa diubah tapi masa depan bisa diperindah" Sahut Alika sembati tersenyum.


"Aku inginkan masa depan indah itu bersama mu" Ucap Dean tanpa berpikir panjang.


"Jangan pernah mengharapkan apa yang tidak mungkin kau milki" Sahut Alika dengan lembut.


"Selama ini aku sudah melakukan kejahatan, sudah saatnya sekarang aku menerima hukuman dan kaulah hukuman ku" Ucap Dean menatap mata Alika.


"Anggaplah begitu... anggap aku sebagai hukuman terburuk mu jangan anggap aku sebagai cinta mu, jangan pernah" Sahut Alika dengan mata berkaca-kaca.


Kemudian terdengar suara petir menggelegar menjadi pertanda akan turunya hujan. Alika membuka sedikit tirai jendela itu dan melihat derasnya air hujan yang turun membasahi tanah.


"Hujannya sangat lebat" Ucap Alika lirih.


Seketika Dean melepas selang infus ditanganya dengan paksa. "Sekarang aku mengerti seperti apa rasanya kehilangan dia yang ku cintai" Ucap Dean berdiri disamping Alika.


"Dean hidup ini bukan hanya tentang cinta dan kekuasaan. Kau membunuh demi menjaga kekuasaan ayah mu dan memperjuangkan cinta mu, tapi apa kau sadar sebenarnya ketika kau mengambil satu nyawa maka ada banyak orang yang kau buat menderita" Sahut Alika dengan menitikkan air mata.

__ADS_1


__ADS_2