
Saat diperjalanan Alika melihat Dean yang terlihat cemas. Alika langsung menghampiri Dean dan menjelaskan kenapa dia bisa berada disana, Dean pun mengatakan hal yang sama dengan Alika.
Mereka berdua pun berjalan bersama menuju alamat yang dikirimkan oleh wanita misterius itu. Alika merasa cemas karena dia takut untuk mengetahui kebenaran tentang suaminya, dia takut jika semua kepercayaannya akan dikhianati.
"Apa tujuan wanita itu sebenarnya?" Tanya Alika bingung.
"Entahlah. Tapi wanita itu adalah orang yang sama yang sudah menabrak Rio, dan aku tidak akan melepaskanya" Sahut Dean emosi.
"Kau kendalikan diri mu, aku takut kita hanya sedang dijebak" Ucap Alika menenangkan Dean.
"Kau jangan khawatir aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti mu, jika ada yang berani menyentuh mu akan ku kirim mereka ke neraka"
"Kau harus tenang, jika emosi seperti ini kaulah yang bisa terluka"
"Kau tidak pernah berubah" Ucap Dean sembari tersenyum.
Saat mereka sampai ditempat itu mereka semakin curiga. Alika dan Dean diarahkan ke sebuah gedung tua yang sudah kosong, gedung itu terlihat lusuh dan dindingnya pun sudah terlihat rapuh.
Dean berdiri didepan Alika dan menggandeng tangannya. "Aku membenci misteri" Gerutu Dean dalam hati.
__ADS_1
Saat memasuki gedung itu Alika dan Dean mendapatkan pesan. Pesan itu berisi jika mereka harus naik ke lantai teratas gedung itu melalui tangga yang ada dihadapan mereka, karena cemas jika ini adalah jebakan Dean berjalan sembari melindungi Alika.
Saat mereka sampai ditempat yang dimaksud wanita misterius itu Dean meminta Alika untuk berdiri dibelakangnya. Dean khawatir jika wanita itu akan menyerang mendadak atau melakukan penyerangan secara diam-diam.
"Sebenarnya apa yang dia inginkan dari kita?" Ucap Alika lirih.
"Entahlah apapun itu ku rasa ini bukan hal yang baik" Sahut Dean sembari terus waspada.
"Apapun yang terjadi jangan pernah melepaskan tangan ku, jika aku menyuruh mu pergi maka kau harus pergi" Ucap Dean memperingatkan.
"Tapi..."
"Iya aku percaya" Sahut Alika dengan hati cemas.
Mereka pun melangkah masuk ke ruangan terbuka itu. Alika dan Dean melihat seorang wanita yang sedang duduk dikursi goyang tua dan ada seorang remaja yang diikat dikursi lainya.
"Siapa mereka?" Tanya Alika kepada Dean.
"Entahlah... siapapun mereka sepertinya ini ada hubunganya dengan kita" Sahut Dean sembari melihat kesekeliling.
__ADS_1
"Tamu ku sudah datang ya..." Ucap wanita bergaun putih itu kepada Dean dan Alika.
"Siapa kau? Dan kenapa kau membawa kami kemari?" Tanya Alika bingung.
"Nama ku Sila, aku adalah mantan kekasih suami mu dan juga ayah mu" Sahut wanita itu sembari menunjuk kearah Alika dan Dean.
"Ayah ku sudah tidak memiliki hubungan dengan mu!" Ucap Dean membentak.
"Iya mungkin tidak, tapi lima belas tahun lalu ada... aku memperjuangkan cinta Johan sampai ingin gila rasanya, aku mengejar dia seperti orang tidak waras... semua aku lakukan demi dia tapi apa? Dia tidak pernah mncintaiku dia hanya mempermainkan diri ku" Ucap Sila sembari tersenyum tapi juga marah.
"Kau hanyalah wanita bayaran, ayah ku membayar mu untuk menemaninya dia tidak meminta mu untuk mencintainya!" Sahut Dean kasar.
"Kau adalah masa lalu suamiku, lalu kenapa masih mengganggu kami?" Ucap Alika dengan keberanian.
"Ya aku memang hanya masa lalunya, tapi kau lihat anak itu? Dia bukan hanya masa lalunya dia adalah masa lalu, masa kini, dan juga masa depanya!" Sahut Sila sembari tertawa seperti orang gila.
"Apa maksudmu?" Tanya Alika bingung.
"Lima belas tahun lalu aku sudah melayani suami mu itu, dan aku melahirkan anaknya. Tapi dia meninggalkan aku bersama dengan anak sialan ini, selama ini dia hanya mengirimkan uang untuk biaya perawatan anak sial ini tanpa pernah menemui aku walau hanya sekali... tidak walau hanya sekali, sekali saja pun tidak" Ucap Sila sembari berjalan kearah anak itu.
__ADS_1