Aku Menikahi Anak Angkat Ku

Aku Menikahi Anak Angkat Ku
Khawatir(╯_╰)


__ADS_3

Saat malam selesai Alika pun masih terjaga dan dia masih memikirkan kejadian sore tadi. Dia khawatir jika Fani memberitahukan tentang kejadian tadi kepada ibunya, dan kemudian ibu Fani akan menyakiti Johan atau Dean. Bagi Alika dirinya sudah terbiasa disakiti oleh Fani dan ibunya tapi jelas dia tidak akan bisa menerima jika seandainya mereka sampai menyakiti Johan ataupun Dean.


Alika yang terlalu khawatir akhirnya malah tidak bisa tidur. Dia pun memutuskan untuk pergi ke dapur untuk membuat kopi tapi saat keluar dari kamarnya Alika melihat pintu kamar Johan terbuka, Alika kemudian memberanikan diri untuk masuk dan dia melihat Johan yang sedang tertidur.


Perlahan Alika mendekati Johan dan duduk disampingnya. Saat Alika memeriksa luka ditangan Johan Alika merasa ada yang salah dengan suaminya, kemudian dia mulai memeriksa suhu tubuh Johan dan benar saja malam itu Johan mengalami demam.


Alika bergegas pergi ke dapur dan mengambil air dingin untuk mengompres Johan. Alika mengompres Johan, mencoba untuk menurunkan demamnya semalaman Alika terjaga untuk merawat suaminya saat fajar tiba Johan melihat ada Alika sedang tertidur disampingnya dengan semangkuk air dingin yang terletak dimeja dan ada sapu tangan didalam tangan lembutnya.


Seketika itu Johan langsung menyadari jika semalaman Alika lah yang merawatnya dan dia terjaga semalaman hanya untuk dirinya. Johan mengangkat tubuh Alika dan membaringkanya diatas tempat tidur kemudian menyelimutinya, Johan kemudian segera bersiap untuk pergi bekerja.


Saat Johan menuju dapur dia mendapati Dean yang sedang menyiapkan sarapan untuk semua orang.


"Dean?" Ucap Johan yang kebingungan.

__ADS_1


"Ayah... hari ini aku yang siapkan sarapan karena ibu sepertinya sudah letih karena menjaga ayah semalaman" Sahut Dean sembari terus meneruskan pekerjaanya.


Alika yang terbangun dari tidurnya kemudian tersenyum. Dia menyadari apa yang baru saja terjadi dan sudah bisa menebak jika pasti Johan lah yang sudah memindahkan dirinya ke atas tempat tidur. Alika mendengar suara Johan dan Dean sedang berdebat mengenai menu sarapan didapur, kemudian Alika turun dan melihat tingkah lucu keduanya dari tangga.


Alika duduk ditangga dan melihat suami dan anaknya yang sedang berdebat hanya karena selai kacang. Alika tersenyum namun senyuman itu kemudian menghilang ketika Alika teringat akan ketakutanya tentang apa yang akan dilakukan ibu tirinya kepada keluarganya.


"Ibu?" Ucap Dean dengan lirih, Johan dengan seketika melihat Alika yang sedang terhanyut didalam lamunannya.


"Sepertinya ibu mu sedang memikirkan sesuatu" Ucap Johan kepada Dean.


"Ibu hari ini terlihat berbeda, apa yang sedang ibu pikirkan?" Tanya Dean kepada Alika.


"Ibu tidak apa-apa... kau sudah selesai sarapan?" Sahut Alika balik bertanya, tak lama Johan kemudian juga duduk didekat Alika dan menggenggam tangan istrinya.

__ADS_1


"Apa yang mengganggu pikiran mu?" Tanya Johan dengan lembut.


"Tidak ada...'' Sahut Alika sembari tersenyum, senyuman Alika sama sekali tidak menunjukan keceriaan ataupun ketenangan tapi justru menunjukan kekhawatiran.


"Apa kau masih memikirkan mengenai kejadia kemarin sore?" Tanya Johan dengan penuh perhatian.


"Apa tidak apa-apa jika kau mengambil tindakan itu? Aku tidak masalah jika mereka membenci ataupun menyakiti ku, tapi jika mereka menyakiti kalian apa yang harus aku lakukan?" Ucap Alika mencurahkan kekhawatiran yang dia simpan dihatinya.


"Ibu jangan khawatir jika mereka berani bertingkah aku akan memberi mereka pelajaran" Sahut Dean mencoba menenangkan Alika.


"Kau tidak tau selicik apa mereka... mereka tidak akan segan untuk menyakiti siapapun yang mereka anggap sebagai penghalang" Ucap Alika dengan segala kecemasan dihatinya.


"Ibu wanita itu menghina ibu karena ku tidak kuliah bukan? Kalau begitu aku akan segera mendaftar kuliah... lagi pula aku adalah penerus perusahaan ayah jadi aku harus belajar agar bisa menjadi pemimpin yang baik bukan" Sahut Dean yang berusaha menghibur Alika dan menghilangkan kecemasan dihatinya.

__ADS_1


"Kau jangan khawatir. Aku tidak akan membiarkan siapapun mengusik keluarga kita, percayalah pada ku," Ucap Johan yang ikut menenangkan hati istrinya.


Mendengar ucapan suami dan anaknya Alika merasa sedikit lebih tenang. Alika kemudian memeluk kedua pria terkasihnya itu dan menitikkan air mata yang sudah dia tahan sejak malam disaat Johan sakit.


__ADS_2