Aku Menikahi Anak Angkat Ku

Aku Menikahi Anak Angkat Ku
Kejujuran I


__ADS_3

Saat jenazah Tao dikebumikan Hans dan Dean hanya bisa menangis tanpa suara. Hans menaburkan bunga diatas tanah makan yang masih merah itu dan mengusap nisan Tao dengan berlinang air mata.


Sementara itu Dean terkulai lemas tak berdaya. Seluruh tenaganya seakan sudah terkuras habis, tidak ada kebahagiaan, tidak ada senyuman, ataupun kepuasaan yang dia rasakan. Yang ada hanyalah kesedihan dan rasa kehilangan yang mendalam.


Bagi Dean kini semuanya sudah tidak ada gunanya lagi. Semuanya seakan terasa hampa, semua kebahagiaan yang dia rangkai bersama ketiga sahabatnya seakan hancur tak berbentuk.


"Hans, Rio... mulai sekarang aku akan terus bersama kalian dan akan tinggal bersama kalian" Ucap Dean sembari memeluk tubuh lemas Rio.


"Tuan kebersamaan kita ini sekarang apa gunanya? Aku bisa terus bertahan adalah karena Tao. Karena dia begitu mirip dengan mendiang adikku, dan kini dia sudah tiada lalu untuk apa aku masih disini? kini semuanya sudah selesai tuan" Sahut Hans sembari mengggenggam tanah makan Tao.


"Hans?"


"Tuan jagalah Rio, bawa dia bersama mu meski itu merepotkan tapi jagalah dia. Aku mungkin akan pergi ke tempat dimana aku bisa bersama dengan kedua adikku" Ucap Hans sembari beranjak pergi.


Namun tiba-tiba Alika berdiri dihadapan Hans. "Apa kau akan pergi?" ucap Alika bertanya sepenuh hati.


"Iya nyonya, aku titipkan anak itu kepada kalian. meski dia ceroboh dan sangat emosional tapi dia anak yang baik" Sahut Hans dengan lirih.

__ADS_1


"Kemana kau akan pergi? Apa kau akan menemui mereka dengan menghabisi dirimu sendiri? apa kau akan melakukan hal bodoh itu?" Ucap Alika menegur Hans.


"Jika memang hanya itu jalan yang bisa saya tempuh untuk bisa kembali bertemu dengan adik-adik saya, maka itu akan saya lakukan" Ucap Hans sembari berlalu pergi.


Alika tidak bisa menghalangi keinginan Hans. Alika hanya bisa turut bersedih dan kemudian duduk didekat Dean dan meraih tangan Rio kemudian menariknya ke dalam pelukanya.


"Bunda?" ucap Dean lirih.


"Ayo kita pulang, kasihan dia... dia pasti sangat kelelahan, tubuhnya begini lemah pasti karena belum makan" Ucap Alika sembari menahan air mata.


"Biar aku yang bersamanya" Ucap Dean kepada Alika.


Sesampainya dirumah keheningan pun mulai terasa. Alika membawa Rio ke kamar tamu dan menemaninya hingga tertidur, sementara itu Johan dan Dean duduk diruang tamu berteman dengan keheningan dan kesedihan.


Saat Alika menatap wajah Rio dia teringat pada masa kecilnya. Dulu Alika juga sering menangis dimakam ibunya karena rindu, dimakam ibunya Alika sering mengadukan rasa sakit yang didapatkanya karena siksaan dari ibu tirinya.


Sekarang Alika kembali melihat kesedihan itu terpancar dari wajah seorang anak berusia 18 tahun yang masih polos dimatanya itu. Usai menidurkan Rio, Alika berjalan menemui Dean dan Johan.

__ADS_1


Alika duduk disamping Johan dan terdiam, terhanyut bersama dengan keheningan.


"Ada yang ingin aku katakan kepada ayah dan bunda" Ucap Dean membuka pembicaraan.


"Ayah juga ingin bicara dengan mu" Sahut Johan cepat.


"Katakan Dean ada apa?" Ucap Alika menengahi.


"Ayah, Bunda maaf. Sebenarnya selama ini aku sudah berbohong kepada ayah dan bunda, selama ini sebenarnya aku memiliki teman bukan... maksudku sahabat, sahabat yang sudah ku anggap sebagai saudara ku sendiri. Mereka adalah Tao, Hans, dan Rio.


Selama ini aku merahasiakan semua ini dari ayah agar bisa melindungi mereka dari kejaran kepahitan masa lalu mereka. Selain itu sebenarnya aku tidak diculik, aku sendirilah yang merencakan segalanya agar nenek menemui ku dan seakan-akan menculik diri ku kemudian menyakiti ku dan kemudian Tao ku tugaskan untuk memberi tahu ayah dan bunda tentang dimana keberadaan ku.


Agar kalian bisa melihat saat nenek menyakiti ku dan memberinya hukuman. Aku tidak tau jika nenek akan berbuat segila itu dan aku tidak menyangka jika Tao akan mengorbankan dirinya demi melindungi aku.


Ayah perihal penembakan itu aku juga yang merencanakanya. Akulah yang membayar orang untuk menembak diri ku sendiri dan aku juga yang menyuruh mereka untuk membuat ayah dan ibu kesulitan menemukan ku ketika aku menghilang dari rumah sakit" Ucap Dean menceritakan segalanya.


Johan pun beranjak dari duduknya dan menarik tangan Dean kemudian menampar wajahnya dengan keras. Alika hanya memalingkan wajahnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

__ADS_1


"Apa lagi?! Apa lagi yang kau sembungikan dsri kami?! apa lagi?!" Ucap Johan yang terbakar api amarah.


__ADS_2