
"Selamat pagi semua" Ucap Alika menyapa semua orang dimeja makan.
"Semua data sudah terkumpul, kita hanya perlu menyerang balik perusahaan Jangna" Ucap Johan serius.
"Itu bagus sekarang semuanya sudah bisa kita kendalikan" Sahut Dean dengan santai.
"Sekarang semuanya aku serahkan pada mu, kau urus perusahaan yang mencoba menjadi batu penghalang kita itu" Ucap Johan memberikan perintah pada Dean.
"Baiklah karena sekarang semuanya sudah bisa dikendalikan sepertinya tidak akan ada masalah besar dikantor hari ini" Sahut Alika sembari menyajikan makanan untuk Jingmi.
"Karena kemarin kepala ku jadi sakit" Ucap Hans mengeluh.
"Kau terlalu bekerja keras, semalaman tidak tidur demi mengumpulkan semua data ini bahkan sampai mendapatkan informasi sedetail ini" Sahut Dean memuji.
"Sepertinya kau demam... kemarin malam sambil bekerja kau tidak minumkan?" Ucap Alika sembari memeriksa suhu tubuh Hans.
"Tidak... aku tidak minum kak, hanya saja sepertinya kebanyakan minum kopi" Sahut Hans dengan suara lemas.
__ADS_1
"Hari ini tidak ke kantor dulu juga tidak apa-apa, sepertinya kondisi tubuhmu sangat tidak baik" Ucap Johan menyarankan.
"Ini bukan masalah pak, lagi pula jika tidak ke kantor aku tidak bisa melihat perkembangan dari masalah ini..." Sahut Hans menolak.
"Kalau begitu hari ini setelah kita pulang dari kantor aku akan memanggil dokter pribadinya Jingmi, dan memintanya memeriksa kesehatan semua orang jadi semuanya akan mendapatkan vitamin dan obat untuk yang sakit" Ucap Alika dengan tegas.
"Bunda... dokter Haris sepertinya akan senang kalau kita undang makan malam juga" Sahut Jingmi dengan senyuman.
"Baiklah... kita undang beliau makan malam juga" Ucap Alika sembari tersenyum ramah.
Didalam rumah itu Alika memang berlaku selayaknya seorang ibu rumah tangga. Dia mengurus segalanya dengan baik, menjaga semua orang walaupun tidak memiliki ikatan apapun, karena bagi Alika semua orang yang ada didalam rumah itu adalah keluarganya terutama Jingmi.
"Aku benci kalau harus berurusan dengan orang licik macam patua itu" Ucap Hans ketika melihat direktur perusahaan Jangna memasuki pintu utama.
"Tahan emosi mu. Lagi pula dia bukan masalah besar untuk kita" Sahut Dean menenangkan.
"Karena dia aku jadi harus sibuk dan tidak punya waktu untuk bersama Rio dan Jingmi, dia harus membayar mahal untuk itu" Ucap Hans menggerutu.
__ADS_1
"Kau kesal begini malah akan membuat mu repot sendiri" Sahut Johan angkuh.
"Hm..." Hans menghela nafas panjang sembari memegang kepalanya.
"Apa masih sakit?" Tanya Dean perhatian.
"Bukan masalah besar kak... kita harus selesaikan urusan dengan patua itu dan aku ingin tidur nyenyak" Sahut Hans kesal.
"Baiklah ayo kita selesaikan ini" Ucap Alika memberikan semangat.
Mereka segera duduk dikursi yang sudah disediakan. Rapat dimulai oleh Johan yang mengajukan penawaran dan juga pendapatnya mengenai tender dan penjualan saham kepada perwakilan perusahaan Yogi, kemudian dilanjutkan oleh perusahaan Jangna yang lagi-lagi memberikan saran serta penawaran yang tidak masuk akal dan membuat semua orang kesal.
"Jadi kita bisa menjual 60% saham dari perusahaan Yi, Yogi, dan perusahaan Nam dengan harga rendah kemudian setelah omset penjualan meningkat kita akan menaikan harga saham menjadi 4x lipat dengan begitu semua kerugian akan bisa tergantikan oleh keuntungan bersama... dan perusahaan Jangna yang akan membeli semua saham itu dalam tempo waktu yang sesingkat-singkatnya" Ucap perwakilan perusahaan Jangna menyampaikan pendaatnya.
"Perusahaan Jangna ini apa mau menguntungkan diri sendiri saja? Kemudian membuat kita ketiga perusahaan yang lainya runtuh secara bersamaan?!" Sahut Hans kesal.
"Perusahaan Jangna sebelumnya juga sudah menyusun konspirasi untuk menjual saham dengan harga rendah bukan? Tapi itu semua hanyalah tipuan agar kita semua sebagai perusahaan pesaing mengikuti langkahnya dan akhirnya mengalami kerugian besar! Karena semua pihak yang membeli saham dari perusahaan Jangna dengan harga rendah adalah bagian dari perusahaan Jangna itu sendiri! Ini adalah sebuah tipuan dan yang lebih mengherankan lagi perusahaan Jangna dengan sangat berani memalsukan nama konsumenya yang sebenarnya merupakan bagian dari perusahaanya itu sendiri dengan nama perusahaan kami. Perusahaan Yi!" Ucap Hans menjelaskan semuanya dan kemudian menunjukan semua bukti mengenai apa yang dia ucapkan kepada semua orang yang ada diruang rapat itu.
__ADS_1
Johan dan Dean hanya bisa tersenyum tanpa mengatakan sepatah katapun. Mereka tahu jika apa yang dilakukan oleh Hans memang idak salah, bahkan itu adalah langkah yang sangat tepat tapi mereka hanya menyayangkan karena Hans tidak ingin mengikuti permainan ini lebih lama lagi sebab mereka sudah tau jika perwakilan perusahaan Jangna itu pasti akan mengajukan pendapat yang lebih konyol lagi dari pada yang barusan itu.