
Setelah makan malam Alika kembali ke rumah sakit dan melihat bungkusan hadiah yang diberikan oleh Johan yang tidak sempat dibukanya tadi. Alika membuka bungkus kado itu dan melihat sebuah kotak merah didalamnya, ketika Alika membuka kotak itu ternyata isinya adalah sebuah gelang emas yang indah.
Alika juga menemukan sebuah surat cinta dari Johan. Alika duduk disamping Li dan membaca surat itu, "Hari ini aku baru menyadari betapa cantiknya dirimu... entah aku harus meminta maaf karena telah melepaskan mu atau karena telah mengikat mu dengan hubungan ini, tapi aku sangat mencintai mu cincin pernikahan kita masih setia aku kenakan... aku tau dijari mu kini sudah tidak ada lagi cincin itu, tapi gelang ini adalah tanda jika aku akan terus memperjuangkan mu" Tulis Johan dalam suratnya itu.
Alika mengambil gelang itu dan kemudian mengenakanya. "Aku tidak bisa memilih siapapun diantara kalian, biarlah tuhan yang menentukan siapa jodoh ku dimasa depan nanti" Ucap Alika dalam hati.
Alika pun membenahi selimut Li kemudian memperhatikanya baik-baik. Alika menatapnya dengan penuh kasih sayang, untuk sejenak Alika teringat pada Sila yang menyayat tangan Li tanpa belas kasihan.
Alika kemudian meraih tangan kiri Li dan melihat luka sayatan itu yang kini sudah dibalut perban. Alika menghela nafas panjang kemudian menyelimuti tangan Li perlahan, Johan masuk ke dalam kamar Li dan mengejutkan Alika.
"Masih ada urusan?" Tanya Alika acuh.
"Aku hanya ingin mengatakan, sebentar lagi Li akan keluar dari rumah sakit kalian pulanglah ke rumah. Aku akan tinggal diapartemen saja" Ucap Johan dengan lembut.
"Lupakan. Aku akan membawa Li bersama ku"
"Kau jangan berpikiran seperti itu kau sendiri yang bilang jika dia adalah tanggung jawabku, jadi biarkan dia menikmati hasil kerja keras ayahnya"
"Sekarang kau bisa berkata sebijak ini. Seandainya dari dulu kau melakukan itu mungkin dia tidak perlu menderita seperti saat ini"
"Aku tau kau masih tidak ingin bicara dengan ku, tapi setidaknya pikirkan Li... lagi pula rumah kita dekat dengan SMA Berlian dan Li juga akan bersekolah disana"
"Baiklah aku setuju"
"Kau tidak perlu menghadiri sidang perceraian kita, aku sudah menyewa pengaca untuk mewakili mu" Ucap Johan dengan hati ragu.
__ADS_1
"Jangan lupa untuk selalu datang mengunjungi Li, dia sangat bahagia saat berada didekat mu"
"Anak itu dia sangat tampan" Ucap Johan menatap Li Jingmi.
"Wajahnya mirip sekali dengan mu, tapi kulitnya lebih pucat"
"Nama Li Jingmi itu kau berikan bukan untuk menyindir aku kan?" Tanya Johan menggoda Alika sembari melihat tangan Alika yang sudah mengenakan gelang hadiah darinya.
"Aku harap setiap kali kau menyebut namanya kau bisa mengingatnya dan menyayanginya" Sahut Alika sembari tersenyum.
"Aku sudah dengar dari Dean jika dia takut gelap, jadi aku menambahkan beberapa lampu dikamarnya dan juga diseluruh rumah"
"Dokter bilang dia bisa ikut terapi pemulihan, tapi aku menolaknya... aku tidak ingin dia mengingat masa lalunya" Ucap Alika sendu.
"Jika kalian sudah selesai boleh ku masuk?" Ucap Dean mengejutkan Alika dan Johan.
" Kalau begitu aku permisi" Ucap Johan berpamitan.
"Tunggu" Ucap Alika menghentikan langkah Johan.
"Aku kembalikan apa yang bukan menjadi hak ku pada mu" Ucap Alika sembari mengembalikan cincin nikahnya ke tangan Johan.
"Apa kau akan bersedia jika aku meminta mu mengenakan ini lagi suatu hari nanti?" Tanya Johan tulus.
"Biarkan waktu yang menjawabnya" Sahut Alika lirih. Kemudian mengiringi langkah Johan meninggalkan kamar Li.
__ADS_1
"Kau ada apa kesini?" Tanya Alika pada Dean.
"Kalung itu masih kau pakai?" Sahut Dean balik bertanya.
"Bukan urusan mu" Sahut Alika acuh.
"Aku mungkin tidak bisa meluangkan banyak waktu untuk mu dan Li, karena aku juga harus mengurus Rio dan Hans... tapi aku akan tetap ada jika kalian membutuhkan ku" Ucap Dean dengan datar.
"Semua terserah pada mu, tidak ada hubunganya dengan ku"
"Alika berhentilah menghindari ku"
"Dean... aku tidak menghindari mu ataupun Johan, tapi aku tidak ingin membuka hatiku untuk siapapun"
"Aku tau kau mencintai ku"
"Cinta bukan berarti aku ingin menjadi pasangan mu, cinta tetap cinta tapi cinta tidak harus selalu bersama... karena mencintai mu saja sudah salah untukku apa lagi hidup bersama dengan mu itu jelas itu lebih salah lagi"
"Dimana kesalahannya? Kau sudah bukan ibu tiri ku lagi lalu dimana letak kesalahanya?"
"Diantara kita memang tidak ada ikatan darah ataupun raitan keluarga lagi, tapi menerima mu sebagai pasangan ku maaf untuk saat ini aku belum siap." Sahut Alika tegas.
"Alika kenapa kau mempermainkan cinta kita?"
"Sejak awal kau sendirilah yang sudah mempermainkan cinta kita, kau juga yang sudah membuat ku ragu dengan ketulusan mu... karena cinta itu rasa hati bukan siasat diri" Sahut Alika tanpa ada keraguan dihatinya.
__ADS_1