
Saat pagi tiba Alika seperti biasa menyiapkan sarapan untuk Jingmi. Alika menyuruh Jingmi untuk sarapan dan kemudian bersiap untuk ikut dengannya ke kantor, Alika tidak tega kalau harus meninggalkan Jingmi bersama pelayan dirumah karena bagaimana pun juga kondisi kesehatan Jingmi masih membutuhkan pengawasan.
Setelah bersiap Jingmi duduk diruang tamu menunggu Alika yang sedang mengambil beberapa alat tulisnya yang tertinggal dikamar. Karena bosan menunggu Jingmi merapikan majalah yang ada dimeja, setelah itu dia ke dapur untuk mengambil air minum tapi tanpa sengaja terpeleset karena lantai yang basah.
Kepala bagian belakang Jingmi terbentur ujung meja dapur dan berdarah. Kebetulan disaat yang bersamaan Hans datang untuk mengantarkan berkas penting pada Alika.
Saat Hans masuk dia tidak melihat keanehan didalam rumah Alika dan tanpa sengaja dia melihat pecahan kaca dilantai kemudian mengecek kedalam dapur. Hans panik ketika melihat Jingmi yang terbaring dilantai dan sedang kesakitan.
"Kakak!" Teriak Hans dengan sangat keras memanggil Alika.
Mendengar suara Hans yang terdengar panik Alika segera berlari turun dan melihat keadaan dibawah. Alika sangat terkejut ketika melihat Jingmi sudah digendong oleh Hans dan menangis karena menahan rasa sakit dikepalanya, tanpa pikir panjang mereka segera membawa Jingmi ke rumah sakit dan sesegera mungkin memberikan kabar kepada yang lainya jika Jingmi dibawa ke rumah sakit terdekat.
Mereka semua tiba dirumah sakit dalam waktu yang bersamaan dan Jingmi segera dibawa ke IGD. Setelah menunggu beberapa saat dengan hati yang cemas akhirnya dokter keluar dan mengatakan jika semuanya baik-baik saja, hanya saja Jingmi akan sering mengalami pusing karena luka bekas operasinya yang belum sembuh total ditambah lagi dengan luka baru karena kecelakaan ini.
__ADS_1
"Jingmi apa masih sakit?" Tanya Alika cemas.
"Tidak bund... tapi rasanya sangat tidak nyaman, seperti ditusuk pelan" Sahut Jingmi mengeluh.
"Kenapa bisa sampai jatuh? Apa yang terjadi?" Tanya Johan penuh perhatian.
"Sebenarnya tadi aku sedang menunggu bunda dibawah, karena haus aku berjalan ke dapur untuk mengambil minum tapi lantainya licin lalu aku terpeleset dan kepala ku membentur sesuatu... rasanya sangat sakit sampai menangispun sudah tidak bersuara lagi.
"Jingmi kau harus lebih berhati-hati" Ucap Rio dengan perhatian.
"Jingmi masih belum sembuh total sekarang malah terluka lagi, jika dia kurang pengawasan begini bisa-bisa hal yang lebih buruk lainya akan terjadi juga" Ucap Dean cemas.
"Benar juga... apa lagi kami juga hanya berdua, para pelayan pun juga tidak becus kerjanya... sekarang harus bagaimana?" Sahut Alika cemas.
__ADS_1
"Bunda jangan cemas... ini salah ku karena tadi tidak hati-hati, lain kali masalah seperti ini tidak akan terjadi lagi aku janji" Ucap Jingmi menenangkan Alika.
"Bagaimana jika untuk sementara kita tinggal bersama, bukan maksudku untuk berpikiran yang macam-macam tapi ini semua demi keamanan Jingmi... kita berlima bisa bergantian menjaga Jingmi, dengan begitu dia akan aman dan juga tidak akan merasa bosan" Sahut Dean memberikan saran sembari membelai tangan adiknya.
"Aku setuju dengan kak Dean, lagi pula dengan begitu kita semua juga bisa memiliki banyak waktu dengan Jingmi kan" Sahut Rio dengan sangat antusias.
"Saat ada kesempatan bermain dengan Jingmi kau senang sekali" Ucap Hans menggoda Rio.
"Baiklah jika semuanya sudah setuju kita pindah hari ini juga, jadi besok kita bisa bekerja dari rumah... berangkat ke kantor bergantian sesuai dengan jadwal dengan begitu Jingmi akan selalu bisa dalam pengawasan kita" Sahut Johan menerima setiap saran.
"Baiklah aku ikut bagaimana baiknya saja" Ucap Alika memberi persetujuan.
"Aku senang akhirnya bisa tinggal bersama ketiga kakak dan ayah... rumah itu sangat besar tapi sangat sunyi, sekarang pasti akan menjadi sangat ramai" Sahut Jingmi dengan gembira.
__ADS_1