Aku Menikahi Anak Angkat Ku

Aku Menikahi Anak Angkat Ku
Alika, Azizah


__ADS_3

Alika berjalan ditepian pantai menikmati untuk melepaskan beban dihatinya. Disetiap langkahnya hanya ada satu nama yang selalu dia ingat hanya Dean dan akan selalu Dean.


Cinta pertama dan terakhir Alika dialah orang yang bisa membuat Alika merasakan arti cinta yang sesungguhnya. Masa lalu telah mengajarkan pada Alika jika cinta bukanlah tentang memiliki orang yang kita cintai.


Cinta adalah tentang seperti apa kita mengelola hati. Mengelola hati untuk siap berkorban, siap berpisah, dan siap untuk ditinggalkan karena pada dasarnya setiap yang bertemu pasti akan berpisah.


Cinta tidaklah harus saling memiliki cukup dengan saling mengerti dan saling menerima. Perpisahan dalam cinta adalah hal yang biasa tapi menerima perpisahan dan tetap setia bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan sebab kesetian kadang dapat tergoyahkan.


"Kadang kala cinta itu seperti air laut ini, terkadang tenang namun akhirnya menjadi pasang... terkadang bergelombang sebelum akhirnya kembali tenang" Ucap Azizah sembari memegang pundak Alika.


"Gelombang cinta tidak ada yang tau kapan datangnya tapi berbeda dengan gelombang laut dia tidak diharapkan kepergianya" Sahut Alika dengan ketenangan.


"Anda sudah terlalu lama memendam cinta padanya yang sudah tiada, kenapa anda tidak membuka hati?" Tanya Alika kepada Azizah.


"Sama seperti mu yang setia kepada cinta mu, akupun setia kepada mendiang suami ku... fitrah ku untuk menjadi seorang istri telah tertunaikan meski tidak sepenuhnya selesai" Sahut Azizah sembari menatap wajah Alika.


Azizah adalah seorang wanita bercadar dengan suara yang lembut dan sikap yang santun. Azizah menikah dengan suaminya setelah dijodohkan oleh orang tuanya, Azizah mencintai suaminya yang bekerja sebagai dokter namun suami Azizah tewas dalam sebuah kecelakaan ketika usia pernikahan mereka baru menginjak satu minggu.

__ADS_1


Azizah sangat terpukul dengan kepergian suami tercintanya tapi dia tetap berusaha untuk selalu tabah dan ikhlas. Sama seperti Alika Azizah juga memilih untuk tetap setia dengan cinta pertamanya sepuluh tahun berlalu sejak kematian suaminya tidak pernah sekalipun terlintas didalam benaknya untuk menikahi pria lain.


Pertemuan Alika dan Azizah terjadi ketika keduanya sedang berziarah ke makan orang yang mereka cintai. Mereka saling menyapa kemudian saling akrab dan sering bertemu untuk sekedar saling berbagi cerita dan meminta pendapat satu sama lainya. Alika selalu mengagumi kesabaran Azizah yang meski diterpa ujian yang berat tapi dia selalu bisa mengucap syukur dengan senyuman dan tatapan mata yang penuh dengan keteduhan.


Cadar yang menutupi wajah Azizah tidaklah pernah bisa menutupi kecantikan hatinya. Seorang wanita yang setia dengan satu nama meski dengan jiwa dan hatinya yang terluka tapi selalu bisa bersahabat dengan keikhlasan dan berdamai dengan keadaan.


"Kita wanita diharuskan untuk menjaga hati tapi hari ini sepertinya hati mu sudah tidak lagi terjaga" Ucap Azizah yang kemudian berdiri disamping Alika.


"Aku seorang ibu dan calon menantuku meragukan martabat ku, hati ku takut untuk memberi restu tapi anakku tidak ingin mendengarkan aku" Sahut Alika mengatakan kebimbanganya.


"Aku tidak takut jika dia akan menghina ku atau bahkan menjatuhkan aku, tapi aku takut jika dia tidak tulus pada anakku" Alika menyampaikan keraguanya.


"Laut ini sekarang begitu tenang tapi ombaknya mampu menghancurkan karang, wanita itu pasti masih sangat muda tapi dia bisa membuat mu merasakan keraguan"


"Aku ingin meminta putra ku untuk mengakhiri hubunganya tapi aku ragu untuk itu"


"Tugas mu sudah selesai Alika ketiga putra mu itu sekarang sudah dewasa, mereka sudah harus memilih jalan hidupnya masing-masing... jika bagi putra mu menikahi wanita itu adalah hal yang benar untuk dilakukan maka yakinlah bahwa putra mu pasti akan membimbing istrinya kelak untuk menjadi menantu yang berbakti"

__ADS_1


"Aku takut kehilangan lagi"


"Bukankah kehilangan adalah sebuah suratan... biarkan takdir menentukan jalan kita jika sudah terseurat kita harus kehilangan maka jadikan kehilangan itu sebagai ujian dan lalui ujian itu dengan kesabaran maka yang kuasa yang akan menilainya kemudian memberikan obat untuk lukanya"


"Kita terlatih oleh kesedihan dan berjalan diatas genangan air mata"


"Aku dan diri mu selalu disebut sebagai wanita seribu duka tapi percayalah buah dari duka itu sedang dijaga oleh yang maha kuasa untuk kelak diberikan kepada kita dengan wujid yang indah, sempurna, dan manis tiada tara"


"Biasakan kita mendapatkan buah itu segera?..."


"Jangan tamak Alika... karena ketamakan pasti akan berakhir dengan penyesalan"


"Dean..." Ucap Alika lirih.


"Pergilah temui anak mu... berbicaralah denganya, tanyakan kembali tentang keputusanya, dan yakinkan dia dengan pilihanya. Jangan jadi ibu yang mengekang ataupun ingin selalu menang dari anak-anak mu tapi tetaplah menjadi ibu yang bersedia mencintai anak-anaknya dengan segala pilihannya seperti Alika yang aku kenal selama ini....


Tegur putra mu jika dia salah tapi jangan patahkan hatinya hanya demi memberikan dia hukuman" Ucap Azizah yang kemudian berpamitan kepada Alika.

__ADS_1


__ADS_2