
Tiga jam kemudian dokter keluar dari ruang operasi dengan raut wajah muram menandakan sebuah kabar yang tidak diinginkan akan tersampaikan kepada Alika dan Johan.
"Dokter bagaimana keadaan anak kami?" Tanya Johan cemas.
"Maaf sebelumnya bapak dan ibu, tapi ada hal buruk yang perlu saya sampaikan. Peluru yang mengenai dada putra ibu dan bapak bersarang tepat didekat jantungnya, kami merencanakan operasi pengangkatan peluru tapi hal itu sangatlah beresiko... mengingat pasien memiliki riwayat kelainan jantung jadi operasi ini akan sangat beresiko untuknya kemungkinan pasien bisa selamat hanya 50% namun jika kita tidak melakukannya maka pasien tidak akan memiliki harapan untuk bisa selamat" Ucap Dokter menjelaskan dengan raut wajah menyesal.
Mendengar hal itu Johan dan Alika merasa tidak percaya. Alika hanya bisa menangis karena teringat akan kebersamaanya dengan Dean, ada rasa sakit dihati Alika yang bahkan membuatnya sulit untuk bernafas.
"Ibu dan bapak kami membutuhkan tanda tangan dari wali pasien untuk bisa melakukan operasi ini" Sambung dokter berucap.
Dengan berberat hati Johan terpaksa menanda tangani dokumen itu. Walau dia tau kemungkinan Dean akan selamat hanyalah 50% tetapi setidaknya mereka masih memiliki harapan, walau nantinya hal yang tidak diinginkan terjadi maka setidaknya mereka sudah berusaha.
__ADS_1
"Dokter apa saya boleh menemuinya sebelum dia dioperasi?" Tanya Alika sembari terisak tangis.
"Maaf bu tapi kami harus segera melakukan operasi kedua ini, waktu kita tidak banyak karena kondisi pasien saat ini sedang kritis" Sahut dokter yang kemudian kembali masuk ke dalam ruang operasi.
Hanya air mata dan do'a yang dapat menggambarkan perasaan Alika dan Johan saat ini. Tidak ada lagi kata yang tempat untuk menggambarkan perasaan mereka selain "Hancur".
Rencana yang dibuat sendiri oleh Dean. Dengan tujuan untuk bisa selalu berada didekat Alika jistru menjadikanya akan berpisah dengan Alika untuk selamanya. Bukan hanya Alika yang terluka tetapi juga Johan yang terpukul dengan kenyataan jika Dean kini benar-benar berada diambang kematian.
Dan ketika dia mulai bisa menyayangi Dean dengan sepenuh hati entah kenapa hal ini justru harus terjadi.
Alika hanya bisa terdiam, dengan hati yang sudah tidak karuan rasanya. Alika ingat disaat Dean menyelamatkannya dari Fani dan terluka parah karenanya, saat itu Alika sudah berjanji pada Dean jika dia akan melindungi Dean dan tidak akan membiarkan hal buruk apapun terjadi kepadanya.
__ADS_1
Akan tetapi yang terjadi hari ini jelas sangat jauh berbeda. Alika merasa gagal karena tidak bisa menepati janjinya untuk melindungi Dean dan Johan, kegagalan yang berulang kali dirasakan oleh Alika membuatnya sadar jika untuk mendapatkan kebahagiaan maka dirinya harus menghadapi kesulitan.
"Dean... kembalilah kepada bunda, bunda akan melakukan apapun tapi tolong kembalilah... aku merindukan tawa mu, aku merindukan genggaman tangan mu yang dingin, aku merindukan semua tentang diri mu" Ucap Alika dalam hati sembari menitikkan air mata.
Seakan bisa membaca isi hati Alika. Johan berjalan mendekati Alika dan duduk disampingnya, Johan memeluk tubuh Alika dan berusaha untuk menenangkanya meski dia sendiri juga merasa sangat khawatir.
"Dean. pasti akan kembali kepada kita" Ucap Johan mencoba menghibur Alika.
"Jika dia kembali, aku akan melakukan apapun agar bisa membuatnya bahagia... aku tidak inginkan hal lain, ku hanya ingin Dean kembali... anak kita kembali" Sahut Alika yang masih terisak tangis.
"Dean bertahanlah dan kembalilah pada kami, ayah berjanji akan memberikan segalanya kepada mu tapi tolong berjuanglah untuk kembali" Ucap Johan dalam hati sembari memeluk Alika.
__ADS_1