
Malam itu dalam keheningan tiba-tiba dokter datang untuk memeriksa keadaan anak itu. Dokter meminta Alika untuk menunggu diluar dan Alik menurutinya, saat keluar Alika melihat Johan yang masih berada disana dan duduk dikursi yang tersedia.
Alika duduk disamping Johan dan menudukan kepalanya merenung.
"Anak itu pasti akan selamat" Ucap Johan membuka pembicaraan.
"Jika dia selamat kau harus menebus dosa mu padanya, lima belas tahunya dihabiskan dengan rasa sakit dan air mata... kau harus mengganti semua itu dengan kebahagiaan dan cinta seorang ayah" Sahut Alika sembari membenahi rambutnya.
"Aku akan melakukan semua yang kau katakan" Ucap Johan lirih.
Alika bernjak dari duduknya dan berdiri disamping pintu IGD tanpa mengatakan sepatah kata pun kepada Johan. Tak lama kemudian dokter keluar dari ruangan IGD dan meminta waktu untuk berbicara dengan Alika.
"Dokter bagaimana keadaanya?" Tanya Alika penuh harap.
"Dia berhasil melalui masa kritisnya... hanya saja"
"Hanya saja apa dok?" Tanya Alika cemas.
"Hanya saja karena benturan yang sangat keras dibagian kepalanya dia mengalami amnesia permanen, selain itu kemungkinan dia juga akan mengalami gangguan pada pengelihatanya yaitu rabun senja dimana dia akan kesulitan melihat saat berada ditempat yang kekurangan cahaya" Sahut dokter menjelaskan.
__ADS_1
"Dokter apa saya boleh menemuinya?" Tanya Alika.
"Boleh nyonya tapi setelah pasien dipindahkan ke ruang perawatan"
"Baik dok terimakasih" Sahut Alika dengan sopan.
Setelah dokter kembali masuk ke rung IGD bersama beberapa perawat untuk memindahkan anak itu Alika pun mulai berbicara empat mata dengan Johan.
"Anak itu mengalami amnesia permanen juga hal yang bagus, jadi dia tidak perlu mengingat penderitaanya dimasa lalu... tapi ini juga merupakan awal untuk mu, untuk bisa menunjukan itikan baik mu padanya jika tidak aku akan membawanya pergi bersama ku" Ucap Alika serius.
"Aku tidak akan mengecewakan mu" Sahut Johan dengan lembut.
Saat pagi tiba Alika terbangun tapi dia tidak melihat Johan dimana pun. Saat memeriksa ponselnya Alika mendapat pesan dari Johan, Johan mengatakan pada Alika jika dia akan pergi mengurus pemakaman Sila dan kembali ke rumah sakit setelah semuanya selesai.
Alika tidak membalas pesan dari Johan dan kemudian meletakan ponselnya. Alika memeriksa suhu tubuh anak itu dan kemudian tersenyum.
"Suhu tubuh mu sudah normal, apa kau masih kesakitan?... mulai saat ini aku ibu mu, jika kau bangun nanti kau harus memanggil ku bunda. Mengerti anak baik" Ucap Alika sembari membelai rambut anak itu.
Tiba-tiba Dean datang bersama dengan Hans dan Rio. Dean membawakan beberapa makanan ringan dan buah untuk Alika saat melihat Rio, Alika tersenyum dan menyambutnya dengan ramah.
__ADS_1
"Sepertinya kau sangat menyayangi anak itu" Ucap Dean menggoda Alika.
"Jangan menggoda ku, kau sendiri memiliki permata yang lebih berharga dari cinta mu" Sahut Alika balik menggoda Dean.
"Apa kau sudah memikirkan nama untuknya?" Ucap Hans bertanya kepada Alika.
"Li Jingmi" Sahut Alika singkat.
"Nama itu kau dapat dari abjad China?" Tanya Dean heran.
"Iya..."
"Tapi kenapa?" Tanya Dean bingung.
"Mendiang ku adalah wanita Tiong Hoa, dan karena dia anakku maka aku ingin memberinya nama yang bisa mengingatkan ku pada ibu ku" Sahut Alika dengan tulus.
"Arti nama itu apa?" Tanya Rio penasaran.
Alika pun tersenyum "Li artinya kekuatan karena dia berhasil selamat dari maut dan tetap bertahan meski sudah melalui kehidupan yang sulit maka itu artinya dia memiliki kekuatan yang sangat luar biasa, dan Jingmi artinya menghargai orang lain... aku ingin dia tumbuh menjadi anak yang baik dan bisa menghargai semua orang" Sahut Alika dengan lemah lembut.
__ADS_1