
Alika melangkahkan kakinya memasuki area pemakaman tempat Dean dan Tao dimakamkan. Dengan membawa dua ikat bunga Alika menguatkan hatinya untuk bisa kembali ke tempat yang penuh dengan kenangan pahit itu.
Saat Alika sampai dimakam kedua anaknya itu dia melihat ada bunga disana. Diatas makam kedua putranya itu ada bunga mawar dan sebuah botol dengan secarik surat didalamnya. Alika duduk diantara kedua makam anaknya dan meletakan bunga yang dia bawa diatas makam kedua anaknya.
Alika kemudian meraih botol yang berisi surat itu dan kemudian membukanya. Didalam surat itu tertulis "Alika aku tau kau akan mendatangi makam kedua anakmu, maafkan aku karena sudah dibutakan oleh cinta... Alika aku berjanji pada mu aku tidak akan pernah mengusik kehidupan mu dan ketiga putra mu lagi, Alika anakku kini sudah menjadi anak mu dan akupun sudah merelakan hal itu sekarang kita sudah impas... kau dapatkan anakku dan aku dapatkan Johan mu, semoga hidupmu dan ketiga anakmu bahagia tanpa kami.
Sila"
Usai membaca surat itu Alika pun menyadari jika Sila adalah orang yang sudah mengunjungi makam kedua anaknya. Alika pun terdiam sejenak usai membaca surat itu Alika merobeknya dan kemudian membuangnya.
__ADS_1
"Aku terima permintaan maaf mu, dan mungkin ini adalah jalan terbaik bagi kita" Ucap Alika dalam hati sembari menghela nafas panjang.
Alika kemudian mentap nisa Tao dan menyiramkan air mawar keatasnya. "Kau anak yang sangat pemberani... kau sangat baik dan juga manis, andaikan saja aku memiliki kesempatan untuk bisa mengasuh mu maka aku akan merasa sangat bahagia... sayangnya ternyata yang maha kuasa jauh lebih perduli pada mu sehingga dia tidak ingin kau hidup terlalu lama didunia yang kejam ini" Ucap Alika lirih sembari mengusap nisan Tao. Untuk sejenak Alika mengingat kembali detik-detik kematian Tao dan dia merasa sangat iba terhadapnya.
Alika kemudian mengalihkan pandanganya pada makam Dean. Bersamaan dengan turunya air hujan Alika menuangkan air mawar diatas nisan Dean.
Dean hari ini aku datang kemari sebagai seorang ibu. Aku berharap kau bisa berisirahat dengan tenang disana dan aku berjanji pada mu aku akan selalu melindungi mereka bertiga meski pun aku harus kehilangan nyawa ku, akupun sudah tidak perduli" Ucap Alika sembari mengusap nisan Dean.
Hujan deras memasahi tubuh Alika. Awan mendung yang telah menumpahkan airnya seakan mengerti kesedihan Alika dan ikut menangis bersamanya, gemuruh angin diantara pepohonan membuat tubuh Alika yang basah menjadi kedinginan namun rasa dingin itu kini berubah menjadi kobaran api dihatinya tak kala dia teringat pada mereka yang ingin menyakiti ketiga putranya.
__ADS_1
Alika bangkit dari duduknya dan hendak berlalu pergi. Namun ketika Alika membalikan tubuhnya dia melihat seorang pria berdiri dihadapanya dan pria itu adalah ayah Alika.
"Alika..."
"Untuk apa ayah datang ke sini? Apa ayah masih belum puas melihat ku menderita? Apakah kematian kedua anakku belum cukup untuk membuat kalian bahagia?!" Ucap Alika yang terbakar amarah.
"Alika maafkan ayah"
"Maaf?! Ayah... karena istrimu aku menderita dan aku masih tetap diam, lalu anak tiri dan istrimu itu mereka menyakiti putra ku akupun masih diam tapi ibu mana yang bisa diam saat dia mengetahui jika kematian anaknya memang sudah direncanakan!" Sahut Alika dengan nada tinggi dan penuh emosi.
__ADS_1