
Alika duduk termenung diatas tempat tidurnya. Alika tidak tau sampai kapan dia bisa tetap seperti ini, cintanya ada Dean semakin hari semakin dalam tapi kekecewaanya pada Dean semakin hari juga semakin tidak bisa dilupakan.
Sekeras apapun dia mencoba semua itu tetap sia-sia. Sekarang mereka kembali tinggal dalam satu atap yang sama karena Jingmi, tetapi entah sampai kapan akan terus seperti ini.
Ingin rasanya Alika berhenti dan pergi. Tapi dia tidak bisa jauh dari Jingmi ataupun menjauhkan Jingmi dari keluarganya, memang bukan suatu keputusan yang mudah bagi Alika untuk tetap tinggal bersama dengan mantan suami dan pria yang dia cintai.
Perjalanan cinta ini begitu rumit dan sangat sulit untuk dimengerti. Bagaikan terjebak didalam sebuah labirin kehidupan dan dinaungi awan gelap kesedihan yang bisa menurunkan hujanya kapan saja, kehidupan Alika selalu berada diantara kesedihan dan kebahagiaan.
Setiap manusia memiliki takdir hidupnya masing-masing. Terkadang takdir membawa kita pada kesedihan ataupun kebahagiaan, semua itu sebenarnya hanyalah permainan dari kehidupan yang sesaat ini.
Menangisi takdir yang terkadang terasa begitu pahit memang tidak salah. Siapapun juga boleh menangis ketika hatinya sudah tidak lagi kuat menanggung beban yang terlalu berat, tapi dengan menangis bukan berarti semua masalah akan selesai begitu saja.
Sebuah masalah harus dihadapi bukan dihindari. Semakin kita berlari dari masalah maka semakin masalah itu akan tumbuh menjadi besar dan akan semakin menakutkan sehingga kita juga akan semakin takut untuk menghadapinya, takdir mungkin masalah atau masalah mungkin saja takdir.
__ADS_1
Tapi baik itu masalah ataupun takdir keduanya harus dihadapi dengan penuh keyakinan dan ketulusan. Diantara setiap kesulitan pasti akan ada kemudahan dan disetiap kemudahan pun pasti juga akan ada kesulitan, karena keduanya memang sudah menjadi satu hal yang mutlak bagi kehidupan setiap orang.
Seperti juga Alika yang tetap memilih untuk menghadapi semua takdirnya tanpa pernah ingin melarikan diri darinya. Alika tau lari pun juga tidak ada gunanya justru akan semakin menyulitkanya dimasa depan nanti, bagi Alika lebih baik menghadapi masalah dan menangis dari pada harus lari dan kehilangan sesuatu yang berharga baginya.
Disaat Alika terhanyut didalam lamunanya dia mendengar suara ketukan pintu. Alika pun beranjak dari duduknya dan membuka pintu kamarnya, Alika melihat Dean sudah berdiri didepan pintu kamarnya.
"Ada apa? Apa Jingmi membuat mu tidak bisa tidur?" Tanya Alika penasaran.
"Bukan. Jingmi sangat penurut dia sudah tertidur sejak tadi" Sahut Dean dengan cepat.
"Aku hanya ingin bicara dengan mu" Sahut Dean lirih.
"Bicara ditengah malam begini? Lebih baik besok saja" Ucap Alika yang kemudian kembali masuk kedalam kamarnya dan mengunci pintunya.
__ADS_1
Dean hanya bisa pasrah dengan sikap dingin Alika kini. Karena membujuknya pun juga percuma saja, Alika sudah terlanjur kecewa padanya hingga sulit bagi Alika untuk bisa membuka hati untuknya.
Johan yang tidak sengaja melihat Dean didepan pintu kamar Alika segera menghampiri Dean. Johan mengajak Dean untuk turun ke dapur bersama, keduanya memutuskan untuk duduk dan minum kopi bersama.
"Apa dia menolak bicara dengan mu?" Tanya Johan membuka pembicaraan.
"Dia selalu terlihat dingin kepada kita tapi tidak pada anak-anak, sepertinya kita terlalu membuatnya terluka" Sahut Dean yang menyesal.
"Kau dan aku sama-sama melakukan kesalahan yang akhirnya melukai hatinya, kita berdua ternyata memang ayah dan anak" Ucap Johan dengan konyolnya.
"Aku menyesal kau menjadi ayah ku, jika bukan karena mu aku tidak akan terjerumus ke dalam dunia yang gila ini" Sahut Dean dengan ketusnya.
"Aku juga tidak meminta mu untuk terlibat. Kau sendiri yang sudah menceburkan diri mu ke dalam dunia yang penuh dengan pertarungan ini" Sahut Johan dengan santainya.
__ADS_1
"Tidak perduli siapa yang menceburkan siapa atau siapa yang ingin mengikuti siapa. Tapi kak sepertinya kita sedang dalam masalah sekarang" Ucap Hans menyela pembicraan Dean dan Johan dengan tiba-tiba.