Aku Menikahi Anak Angkat Ku

Aku Menikahi Anak Angkat Ku
Ada Apa? I


__ADS_3

Setelah mendengar pernyataan Hans dan memperhatikan semua bukti yang ada akhirnya perusahaan Yogi memilih untuk bekerja sama dengan perusahaan Yi. Johan dan Dean merasa senang dengan hasil kerja Hans, hanya saja mereka sangat menyayangkan sikap Hans yang terlalu cepat mengambil keputusan dan tidak bisa menikmati jalanya permainan.


"Kau tadi agak terburu-buru" Ucap Dean sembari berjalan beriringan dengan Hans.


"Aku kesal sekali tadi kak, kepala ku rasanya pening mendengarkan ucapan patua itu" Sahut Hans yang masih agak kesal.


"Kau ini memang tidak bisa menikmati permainan ya" Ucap Dean menggoda Hans.


"Hmph..." Hans kembali menghela nafas panjang.


"Apa kepala mu sakit lagi?" Tanya Alika yang muncul tiba-tiba.


"Hanya sedikit pusing kak, sepertinya karena kurang tidur" Sahut Hans lirih.


"Kau pulanglah dan istirahat... wajah mu pucat" Ucap Johan dengan sedikit perhatian.


"Aku benci saat begini... malah jadi merepotkan yang lainya saja" Garutu Hans kesal.

__ADS_1


"Jangan bicara begitu... kita semua keluarga lagi pula kau adiknya Dean dan berarti juga adikku" Ucap Alika tanpa berpikir panjang dan kemudian membantu Hans berjalan sampai ke ruangan tempat Jingmi beristirahat.


Saat memasuki ruangan itu mereka semua masuk bersamaan dan ternyata Rio sudah ada disana menemani Jingmi belajar. "Rio kapan kau sampai?" Ucap Johan ramah.


"Sudah dari tadi kakak sampai yah" Sahut Jingmi sembari melanjutkan menulis.


"Kakak sepertinya sedang tidak sehat" Ucap Rio sembari beranjak dari duduknya menuju Hans.


"Hari ini aku akan pulang lebih dulu bersama dengan Hans dan anak-anak, kalian berdua lanjutkan saja urus-urusan disini dan jangan lengah... satu lagi. Kalian berdua harus pulang tepat waktu" Ucap Alika sembari membereskan buku Jingmi.


"Entah kenapa aku jadi merasa jika Alika mulai menjadi ibu rumah tangga dan menjadikan kami seperti anak-anaknya" Gerutu Dean dalam hati.


"Bunda..."


"Iya..."


"Buburnya tidak terlalu encer ya?"

__ADS_1


"Tidak... sengaja bunda buat agak encer agar kakak mu bisa memakanya dengan mudah, karena melihat kondisinya takutnya dia kesulitan mencerna makanan" Sahut Alika dengan lembut.


"Bunda sangat berpengalaman merawat orang sakit" Ucap Jingmi sembari tersenyum.


"Bagaimana aku tidak berpengalaman... Setelah semua kebodohan Dean dan Johan ditambah dengan tragedi pertemuan kita, itu semua membuat ku menjadi sangat paham dalam merawat orang sakit. Walau tidak mengerti tentang obat-obatan tapi kalau hanya soal merawat dengan cara rumahan begini saja aku jelas sudah ahli" Ucap Alika dalam hati.


Setelah semua selesai Alika membawa bubur itu ke kamar Hans. Alika sengaja meminta Jingmi untuk menunggu dibawah dan jangan ribut karena dia khawatir jika Hans terganggu dan tidak bisa istirahat.


"Rio bagaimana keadaanya?" Ucap Alika lirih.


"Kakak sepertinya keadaanya semakin memburuk, dia demam dan selain itu tadi juga sempat mimisan" Sahut Rio cemas.


Alika berjalan mendekati Hans dan memeriksa suhu tubuhnya. "Iya dia demam..." Ucap Alika lirih.


"Kakak jangan cemas aku tidak apa-apa" Ucap Hans dengan suara gemetar.


"Semalam saat begadang kau makan apa? Tidak mungkin hanya karena begadang dan kopi bisa demam seperti ini" Tanya Alika agak cemas.

__ADS_1


"Tidak ada" Sahut Hans lemah.


"Segera hubungi dokter minta datang segera, jangan kabari Dean ataupun Johan jangan buat mereka cemas..." Ucap Alika kepada Rio.


__ADS_2