
Setelah sampai ditepi danau Yi mereka mulai menyiapkan tempat untuk bersantai. Alika sangat menikmati pemandangan danau Yi, kebetulan hari itu disana tidak banyak orang yang datang untuk berpiknik.
Alika merasa sangat senang karena bisa kembali ke danau itu. Saat masih kecil Alika pernah datang ke danau itu bersama ayahnya saat itu Alika sangat senang dan didanau itu dia bermain sepuasnya sebelum akhirnya ibu tirinya datang dan menghancurkan semua kebahagiaanya.
Namun Alika tidak pernah menaruh dendam kepada ibu tirinya. Karena dia selalu berpikir jika apapun yang dia alami saat itu adalah takdir, terkadang Alika hanya menganggapnya sebagai mimpi buruk yang tak perlu untuk di ingat atau diceritakan.
Disaat Alika melihat Dean dan Johan tertawa dan berseda gurau hatinya merasa senang. Alika tidak ingin kembali kepada kehidupan masa lalunya dan dia juga tidak ingin kehilangan keluarga barunya, bagi Alika cukuplah sudah penderitaan masa lalunya itu dan kini tibalah saatnya untuk dia berbahagia bersama keluarga kecilnya.
"Tuan saya akan pergi membeli sesuatu sebentar" Ucap Alika sembari beranjak dari duduknya.
"Tunggu" Sahut Johan sembari meraih tangan Alika.
"Ada apa tuan?"
"Alika... ada sesuatu yang ingin aku katakan" Ucap Johan yang kemudian juga beranjak dari duduknya.
"Apa kau menganggap kami sebagai keluarga mu?" Tanya Johan kepada Alika.
__ADS_1
"Iya tuan" Sahut Alika dengan lirih.
"Kalau begitu tolong jangan panggil aku tuan lagi" Ucap Johan sembari melepaskan tangan Alika.
"Tuan?" Ucap Alika dengan lirih.
Dengan cepat Johan menarik tubuh Alika ke dalam pelukanya dan memeluknya dengan erat. Johan merasa Alika memerlukan dirinya untuk bisa bangkit dan melupakan semua kesedihan masa lalunya, karena itulah Johan berniat untuk memberikan seluruh hatinya hanya kepada Alika walau dia belum bisa mencintai Alika untuk saat ini tapi bukan tidak mungkin jika nantinya dia akan mencintai Alika.
Alika merasakan kehangatan didalam pelukan Johan. Tangan Alika yang kecil dan jari-jarinya yang lentik membalas pelukan Johan dengan penuh kelembutan, Alika merasa pelukan Johan sama hangatnya dengan pelukan ayahnya. Alika bahkan sudah tidak ingat kapan terakhir kali dia memeluk ayahnya sendiri karena semenjak ibu tirinya datang hubungan Alika dan ayahnya memang menjadi tidak akrab.
"Jangan panggil aku tuan lagi, mulai hari ini kau bisa memanggil ku kakak" Ucap Johan sembari melepaskan pelukanya.
"Alika aku akan merubah kehidupanmu, semua kesedihan yang sudah kau alami akan aku gantikan semua itu dengan kebahagiaan yang tidak akan pernah bisa kau lupakan" Ucap Johan dalam hati sembari menatap Alika dari belakang.
"Tuan terimakasih, kau dan Dean sudah menerima ku dan juga membuat ku merasakan kebahagiaan... kalian sudah membuat aku merasa layak disebut manusia, dan mulai hari ini aku pun berjanji aku akan melindungi keluarga kita selamanya" Ucap Alika didalam hati dengan mata yang berkaca-kaca karena bahagia.
Saat Alika sampai ditempat seorang ibu-ibu yang berjualan tanaman dia melihat bibit bunga matahari dan berniat untuk membelinya.
__ADS_1
"Bu saya beli bibit bunga mataharinya" Ucap Alika sembari melihat-lihat tanaman lainya.
"Ini nak" Sahut ibu itu sembari memberika sekantung biji bunga matahari kepada Alika.
"Berapa bu?"
"60 ribu nak"
"Ini bu... kembalianya ambil saja'' Ucap Alika sembari memberikan uangnya.
"terimakasih nak..." Sahut ibu itu sembari tersenyum lebar.
"Nak apa pria tinggi besar dan tampan itu pacar mu?" Ucap si ibu pedagang bunga menggoda Alika.
"Bukan bu... dia bukan pacar saya, dia adalah suami saya" Sahut Alika sembari memandang Johan dari jauh.
"Dia tampan sekali" Puji ibu pedagang bunga itu.
__ADS_1
Meski usia Johan sudah menginjak angka 40 tahun wajahnya memang setampan pemuda berusia 20 tahunan tidak jarang Johan dan Dean dikira kakak beradik, padahal sebenarnya mereka adalah ayah dan anak.