Aku Menikahi Anak Angkat Ku

Aku Menikahi Anak Angkat Ku
Duri di hati


__ADS_3

"Alika. Kedatanganmu adalah impian ku, selama ini aku berusaha untuk membuka hati tidak disangka ternyata aku justru mulai jatuh hati dengan mu setelah pernikahan konyol itu


Cinta memang selalu datang tanpa dapat diduga. Dulu aju jatuh cinta kepada Lesa saat kami sedang sama-sama patah hati, dan kini aku mencintai mu saat kau sudah menjadi istri ku.


Alika ku harap kau pun bisa segera mencintai ku. Karena aku tidak ingin ada orang ketiga dalam pernikahan kita, aku takut jika kau menyimpan hati pada orang selain diri ku." Ucap Johan dalam hati selama didalam perjalanan menuju rumah sakit.


"Tuan apakah nyonya akan bisa mengerti keputusan tuan untuk membebaskan nona Fani?" tanya Kafa (orang kepercayaan Johan) kepadanya.


"Mungkin dia tidak akan bisa menerima hal itu, tapi ini adalah yang terbaik" Sahut Johan dengan nada bicara datar.


"Sejak kemarin tuan belum makan apapun, apa tuan baik-baik saja?"


"Aku tidak apa-apa, aku justru mengkhawatirkan Alika. Dia bahkan tidak makan atau minum tidur pun juga tidak... apa dia baik-baik saja? Ditambah lagi aku justru malah meninggalkanya dalam keadaan seperti ini" ucap Johan yang merasa gelisah.


"Tuan sebaiknya makan sesuatu wajah tuan pucat sekali"


"Kafa. Bisakah kita lebih cepat? Aku ingin segera menemui Alika"


"Baik tuan."


Sementara itu disisi lain Alika masih terus berada disisi Dean yang pingsan karena efek samping suntikan tadi. Dokter sudah mengatakan jika Dean akan baik-baik saja tapi Alika masih saja tetap cemas.


Saat Johan sampai dikamar Dean, Alika menyambutnya dengan senyuman dan kelembutan. Alika meminta Johan untuk duduk disofa dan menyuguhkan segelas air putih hangat kepadanya.


"Apa kau sakit?" Tanya Alika kepada Johan yang terlihat tidak sehat.


"Aku tidak apa-apa... kau sendiri bagaimana?"


"Jangan cemaskan aku, tadi Dean sudah bangun kemudian dia pingsan setelah disuntik... dokter bilang selama masa pemulihan dia akan jadi sangat lemah dan sensitif pada udara dingin" Sahut Alika sembari merapikan jas milik Johan.


"Alika makanlah sesuatu dan istirahatlah" Ucap Johan menasehati.


"Kau sendiri tidak makan apapun sejak kemarin, lalu bagaimana aku bisa makan?" Sahut Alika yang kemudian duduk disamping Johan dan meletakan kepalanya dibahu Johan.

__ADS_1


"Kau terjaga semalaman dan tidak makan apapun kau bisa sakit"


"Seharusnya aku saja yang sakit, tapi kenapa tuhan selalu menaburkan duri disetiap perjalanan hidupku? Bahkan sampai hari ini duri itu terus menancap dihati ku" Ucap Alika sembari beranjak dari duduknya.


Tangan dingin Johan kemudian menggapai tangan kecil Alika dan menahanya. "Aku yang akan mencabut duri itu dan mengobati luka dihatimu" Ucap Johan yang masih menahan tangan Alika.


"Duri itu menancap begitu dalam dan mungkin akan bersarang disana selamanya" Sahut Alika sembari menitikan air mata.


"Apa yang bisa aku lakukan untuk mengurangi rasa sakit mu itu?"


"Aku hanya ingin kau dan Dean tetap disisi ku, menemani setiap langkah ku, dan tersenyum untukku... setidaknya saat bersama kalian aku ingin melupakan rasa sakit ini walau hanya sejenak"


"Apa kau marah pada ibu dan saudari tiri mu?"


"Lebih dari marah aku sangat membenci mereka"


"Dan ayah mu?"


Johan kemudian beranjak dari duduknya dan mendekap Alika dari belakang. ''Alika menangislah jika itu bisa mengurangi beban dihati mu"


"Saat kau menjabat tangan ayahku untuk ijab kabul, semenjak saat itulah aku sudah menyerahkan hidup ku pada mu dan Dean... tapi disaat kita mulai merajut kebahagiaan duri itu mulai melukai kalian..." Ucap Alika dengan penuh sesal.


"Itu bukan kesalahan mu, semua yang terjadi adalah kehendak takdir percayalah jika kita bertiga bersama kebahagiaan pasti akan selalu ada untuk kita"


"Harusnya aku pergi dari kalian agar kalian bisa kembali hidup tenang"


"Jangan pernah berpikir seperti itu lagi. Kau adalah alasan kebahagiaan kami, kau adalah alasan kenapa sampai hari ini aku masih berdiri disini dan Dean... dia berjuang melawan sakitnya itu semua demi dirimu''


"Bu... kenapa ibu ingin pergi?" ucap Dean yang masih sangat lemah.


Mendengar itu Alika dan Johan segera menghapiri Dean. Alika duduk disamping Dean dan Johan berada tepat dibelakang Dean.


"Ibu sudah berjanji, akan selalu memeluk aku jika ku sakit tapi sekarang ibu malah ingin pergi" Ucap Dean dengan sangat lirih.

__ADS_1


"maafkan ibu..."


"Jika ibu pergi, maka saat itu ibu hanya akan kembali saat aku dimakamkan"


"Dean. jangan bicara begitu... ibu akan terus bersama dengan kalian, tidak perduli sebanyak apapun duri yang melukai hati ibu tapi kalian adalah obat dari semua rasa sakit ibu" Sahut Alika sembari menatap mata Johan.


"Kita adalah keluarga, dan kita akan selalu bersama" Sambung Johan menambahkan.


"Ibu maafkan aku"


"Dean kenapa kau minta maaf?" Tanya Alika yang kebingungan.


"Sebenarnya ada rahasia yang belum aku ceritakan kepada ibu..."


"Apa itu? Kenapa kau harus minta maaf?"


"Sebenarnya... aku tidak seperti yang terlihat bu"


"Apa maksudnya itu Dean?"


"Bu... sebenarnya sejak kecil aku menderita kelainan jantung, dan itu adalah alasan kenapa aku sering sekali jatuh sakit"


Alika yang terkejut mendengar hal itu mencoba untuk tetap tenang. "Kenapa baru sekarang kau mengatakannya?"


"Sebenarnya aku sudah lama ingin mengatakan itu, tapi Dean selalu melarang ku bahkan sebenarnya dihari saat kita piknik Dean sempat mengalami sakit dibagian dadanya tapi dia melarang ku memberitahu dirimu" Sahut Johan menjelaskan.


"Tapi itu bisa diobatikan?" Tanya Alika dengan penuh harap.


"Tidak bu... penyakit ini adalah penyakit keturunan dari ibu kandung ku, bu... aku tidak tau sampai kapan aku bisa bertahan tapi aku berharap semoga disisa usia ku kita bertiga bisa selalu bersama" Ucap Dean sembari meraih tangan Alika dan memeluknya.


Johan meletakan tanganya dibahu Dean kemudian membelai rambut anaknya yang terbaring lemah tak berdaya. "Dean selama ini bertahan dengan bantuan obat, meski tau begitu aku selalu menyibukan diri dengan pekerjaan tanpa memperdulikan keadaanya. sampai suatu hari Dean tiba-tiba jatuh pingsan saat menuju rumah sakit sendirian tapi untungnya ayah mu ada disana dan segera menolongnya dua hari dirawat akhirnya Dean baru boleh pulang dari rumah sakit. ayah mu adalah orang yang menyelamatkan nyawa Dean saat itu, jika terlambat lima menit saja mungkin saat ini Dean tidak akan ada bersama kita" Ucap Johan menceritakan semuanya.


"Tuhan betapa tajam duri yang kau taburkan didalam kehidupan ku, betapa sakit duri itu menancap dihati ku... kenyataan pahit apa lagi ini tuhan" Ucap Alika dalam hati sembari meletakan tangan dingin Dean dipipinya.

__ADS_1


__ADS_2