Aku Menikahi Anak Angkat Ku

Aku Menikahi Anak Angkat Ku
Aku kembalikan


__ADS_3

"Ku tau aku salah... sejak awal aku memang merahasiakan semuanya dari mu dan menjebak mu dalam permainan cinta ku. Untuk itu aku minta maaf" Ucap Dean menyesal.


"Yang lalu biarlah berlalu, seperti juga aku yang sudah memaafkan ayah mu akupun juga mamaafkan mu... tapi untuk kembali percaya apalagi menjalin hubungan serius dengan salah satu dari kalian ku rasa itu mustahil" Ucap Alika mengutarakan isi hatinya.


"Saat ini yang terpenting bagi ku adalah masa depan Li Jingmi, mungkin aku juga tidak akan menikah seumur hidup ku karena itu adalah hal terbaik yang bisa aku lakukan" Sambung Alika berucap dengan senyuman tulus dibibir manisnya.


"Cinta ini begitu rumit" Ucap Dean mengeluh.


"Cinta itu sebenarnya sangat sederhana, cukup dengan saling percaya dan saling mengerti satu sama lain... tapi cinta juga punya batasan bukan berarti karena cinta bisa terjerumus dalam kesalahan yang nantinya justru akan menyulitkan" Sahut Alika bijak.


"Kau benar... selama ini karena dibutakan oleh cinta aku justru membuat banyak rencana gila, akhirnya menarik banyak orang dalam rencana itu dan membuat ku kehilangan seseorang juga. Kini hanya tersisa penyesalan" Ucap Dean menanggapi.


"Baguslah kau sudah menyadari itu... sekarang kita bertiga sudah memilih jalan hidup kita masing-masing, mari jalani dengan baik tanpa saling menyakiti ataupun mendustai" Ucap Alika dengan lembut.


"Li sudah mengubah jalan hidup kita semua"


"Bukan Li. Tapi kita sendirilah yang mengubah jalan hidup kita" Sahut Alika sembari berjalan menuju pintu keluar.


"Aku tau kau masih disana... jangan menguping pembicaraan orang jika ingin pulang, pulanglah jika tidak masuklah ada yang ingin aku bicarakan" Ucap Alika kepada Johan yang sejak tadi ternyata masih menunggu didepan pintu sembari menguping pembicaraanya dengan Dean.

__ADS_1


Johan pun kembali masuk ke dalam kamar Li. Dihadapan Johan Alika melepaskan kalung pemberian dari Dean dan mengembalikanya.


Alika memegang tangan Dean dan meletakan kalung itu digenggamanya. "Aku kembalikan ini... saat ini aku sudah bukan ibu mu lagi dan akupun tidak pantas mengenakan kalung ini" Ucap Alika lembut.


Alika kemudian berdiri dihadapan Johan dan melepaskan gelang pemberiannya. "Gelang ini aku sudah mencobanya, tapi aku merasa aku tidak memiliki hak atas gelang ini... sangatlah tidak pantas jika seorang wanita menerima hadiah dari mantan suminya tanpa alasan yang jelas" Ucap Alika tanpa ragu.


Dean dan Johan hanya bisa terdiam dan kemudian berpamitan. Alika pun membaringkan tubuhnya disofa mencoba untuk terlelap tapi dia tidak bisa, Alika pun duduk disamping Li dan menatap wajahnya.


"Aku tidak mengerti pada takdir mu ini tuhan... semuanya berjalan diluar kuasa ku, aku tidak mengerti kemana sebenarnya kau membawa ku apaka semua ini akan berakhir baik atau malah sebaliknya. Hidupku jadi seperti permainan mu aku menikah dengan orang yang tidak aku cintai dan aku diceraikan olehnya agar aku bisa bahagia, tapi hingga kini hanya anak inilah kebahagiaan yang aku dapatkan... ku mohon jangan rebut dia dari ku, sudah cukup permainan mu tuhan tolong jangan kau permainkan hidup anakku juga" Ucap Alika dalam hati.


"Bunda" Ucap Li lirih.


"Aku mimpi"


"Mimpi apa?"


"Aku melihat bunga matahari yang sangat banyak, saat aku mau memetik satu bunga itu bunda melarang ku... lalu bunda membawaku ke sebuah rumah disana ramai sekali ada bunda, ada ayah, ada kak Dean, ada kak Hans, dan kak Rio. Kalian semua tersenyum dan sangat memanjakan aku tapi tiba-tiba ada api yang membuat kita terpisah, aku sendirian didalam api itu ketakutan dan hanya bunda yang menerobos api itu lalu memeluk ku dan aku terbangun" Ucap Li menceritakan mimpinya.


"Li dengarkan bunda... mimpi adalah sekedar mimpi, yang terjadi dalam mimpi tidak akan terjadi didunia nyata dan bunda dalam keadaan apapun pasti akan selalu ada disisi mu. Selamanya" Sahut Alika penuh kasih sayang.

__ADS_1


"Bunda... karena terbangun aku jadi lapar"


"Mau makan buah?"


"mau"


"Tunggu ya bunda kupaskan untuk mu..."


Setelah mengupas buah Alika menyusunya diatas piring dengan sangat cantik. "Bunda menyusunnya?"


"Bukankah ini cantik?"


"Iya... tapi bunda lebih cantik" Sahut Li menggoda Alika.


"Anak manis sudah bisa menggoda bunda ya" Ucap Alika dengan mencubit pelan hidung Li.


"Ini makanlah" Ucap Alika sembari menyuapi Li Jingmi.


"Bunda kapan aku boleh pulang? Aku ingin melihat rumah kita"

__ADS_1


"Sebentar lagi sudah boleh pulang, Jingmi harus sabar ya... nanti setelah pulang kita akan berbelanja kebutuhan sekolah Jingmi dan semua yang Jingmi mau akan kita beli" Sahut Alika menghibur anaknya.


__ADS_2