
Saat Rio membalas pelukan Jingmi tidak sengaja dia melihat ada memar dipundak kiri Jingmi. Karena terkejut akan hal itu Rio segera bangkit dan membantu Jingmi untuk duduk Rio memeriksa memar yang ada ditubuh Jingmi dan menyentuhnya pada saat itu Jingmi pun merasa kesakitan.
"Kenapa bisa terluka? Ada apa?" Tanya Rio cemas.
"Aku tidak tau..." Sahut Jingmi lirih.
Hans yang mendengar hal itu segera beranjak dari duduknya dan menghampiri Rio dan Jingmi. Hans memeriksa luka memar itu kemudian memeriksa seluruh tubuh Jingmi dan betapa terkejutnya mereka saat menemukan luka memar dipunggung, tangan, dada, dan kaki Jingmi.
Sontak hal itu membuat mereka kebingungan dan bertanya pada Jingmi tentang apa yang sebenarnya terjadi tapi Jingmi hanya mengatakan jika semuanya baik-baik saja.
"Li jujurlah pada kami ada apa?" Ucap Hans bertanya dengan tegas.
"Jingmi katakan yang sebenarnya jujurlah pada kami" Ucap Rio menambahkan.
"Kakak aku tidak apa-apa" Sahut Jingmi sembari memegang daun telinganya.
"Ketika kau berbohong kau akan memegang telinga mu" Ucap Rio sembari beranjak dari duduknya.
__ADS_1
"Kakak. Kau mau kemana?" Tanya Jingmi dengan raut wajah menyesal.
"Aku tanya sekali lagi ada apa dengan tubuh mu kenapa bisa mendapatkan banyak luka memar?" Sahut Rio kesal.
"Kakak apa kau marah?" Ucap Jingmi balik bertanya.
"Selama ini aku tidak marah ataupun menegur mu, sepertinya cara ku menyayangi mu yang terlalu berlebihan justru menjadikan mu pribadi yang salah" Sahut Rio yang kemudian berlalu pergi.
Jingmi kemudian menatap Hans dan karena tidak tega Hans memeluk Jingmi dengan penuh kasih. "Dia tidak akan bisa marah pada mu" Ucap Hans menenangkan Jingmi.
"Tapi kak Rio belum pernah terlihat sekesal itu" Sahut Jingmi dengan mata yang berkaca-kaca.
Jingmi menuruti ucapan Hans dan kembali membaringkan tubuhnya. Hans meninggalkan Jingmi seorang diri dikamar itu dan keluar untuk menyusul Rio.
Hans melihat Rio sedang duduk dikursi depan meja belajarnya. Rio terlihat sangat tidak fokus dia termenung dan hanya diam dengan tatapan mata yang kosong.
Hans mendekati Rio dan kemudian meletakan tanganya dibahu adiknya itu. "Kak" Ucap Rio terkejut.
__ADS_1
"Kau tadi kasar sekali pada Li" Ucap Hans menegur.
"Kak luka itu bukan karena terbentur sesuatu karena tidak sengaja, jelas sekali itu seperti luka yang disengaja... kak aku sangat mencemaskan dia selama ini aku selalu melarangnya belajar bela diri tapi mungkinkah luka itu karena..."
"Jangan berfikiran terlalu jauh bisa saja luka itu ada memang karena tidak disengaja" Ucap Hans memotong ucapan Rio.
Disaat keduanya sedang berdebat mengenai dari mana Jingmi bisa mendapatkan luka itu tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Rio membuka pintu dan melihat Jingmi berdiri dihadapanya dengan mata yang merah karena menangis.
"Ada apa?" Tanya Rio cemas.
Jingmi hanya diam dan memeluk Rio sembari menangis tersedu-sedu. Rio yang merasa kebingungan kemudian melepaskan pelukan Jingmi dan kembali mencoba bertanya kepadanya namun Jingmi hanya menangis dan perhatian Rio kemudian teralihkan pada tangan Jingmi yang terluka oleh serpihan kaca.
Rio segera mengangkat Jingmi dan menggendongnya ke tempat tidur. Rio kemudian mencabut serpihan kaca itu dan mengobati luka Jingmi tanpa mengatakan sepatah kata pun.
"Li kenapa kau terluka?" Ucap Hans bertanya karena bingung.
"Karena tadi..."
__ADS_1
"Tadi? Ada apa tadi?" Sahut Rio bingung.