
Saat pagi tiba Alika membenahi ruangan itu dan meletakan ponselnya dimeja. Setelah itu Alika pergi keluar untuk membelikan sarapan untuk Dean, Alika meletakan makanan itu dimeja yang ada dihadapan Dean bersamaan dengan bunga mawar putih yang masih segar.
Alika kemudian pulang setelah dia menyajikan makanan dan menyiapkan obat untuk Dean. Sebelum pulang Alika menulis pesan disecarik kertas untuk Dean, Alika menulis pesan itu dengan hati penuh harapan. Berharap dirinya bisa berjumpa kembali dengan Dean, orang yang dia cintai.
Saat Dean terbangun dia melihat kesekeliling. Dean menyadari jika Alika pasti sudah pergi, dia kemudian beranjak dari sofa dan memeriksa Rio yang masih tertidur. Dean kemudian masuk ke kamar mandi dan mulai membersihkan diri setelah itu dia mengganti pakaianya dan duduk kembali disofa.
Dean melihat kertas yang ditinggalkan oleh Alika diatas meja. "Surat? Apa kau tidak bisa mengirim pesan melalui ponsel saja" Ucap Dean lirih.
Dean membuka kertas itu dan membaca isinya. "Dean aku menyiapkan makanan untuk mu jangan lupa dimakan, minumlah obat mu, dan jaga kesehatan mu... ku harap kita bisa bertemu lagi dan ku harap saat itu kau akan menemui ku dengan keadaan yang baik-baik saja"
"Aku ingin menemui mu tapi mungkin itu tidak akan pernah bisa aku lakukan, ayah ku. Pria itu tidak akan membiarkan ku mendekati mu begitu saja, kecelakaan Rio ini adalah peringatan darinya" Ucap Dean dalam hati.
__ADS_1
Sebelum Rio mengalami kecelakaan Dean menerima pesan peringatan dari orang yang tidak dikenal. Dalam pesan itu tertulis "Jagalah apa yang berharga bagi mu, karena musuh mu adalah orang terdekat mu." Awalnya Dean masih belum mengerti isi pesan itu tapi setelah melihat kejadian ini Dean jadi bisa mengerti jika dirinya saat ini sedang berada didalam sebuah permainan.
Dean memutuskan untuk menyelidiki hal ini. Untuk sekedar berjaga-jaga Dean mengirim pesan kepada Hans untuk kembali menggunakan ponsel Rio, entah dia akan datang atau tidak tapi Dean membutuhkanya untuk bisa menjaga Rio dan menjauhkanya dari bahaya.
Jika memang semua permainan ini diatur oleh Johan maka secara terang-terangan keduanya akan terlibat dalam perang dingin. Saat Rio terbangun dia melihat Dean yang sedang duduk dan merenung.
Melihat ekspresi wajah Dean Rio bisa mengerti jika ada hal yang sedang mengganggu pikiranya. "Kakak" Ucap Rio membuyarkan semua lamunan Dean.
Dean berjalan mendekati Rio dan berdiri disampingnya. "Apa yang kakak pikirkan?" Tanya Rio kepada Dean.
"Sudah lebih baik, tapi masih sedikit pusing" Sahut Rio sembari mengulurkan tanganya.
__ADS_1
Dean menggenggam tangan Rio dan duduk disampingnya. "Apa kau ingat kejadian sebelum kau kecelakaan?" Tanya Dean mencoba memastikan.
"Tidak begitu ingat... yang aku ingat aku melihat mobil hitam mendekat dengan sangat cepat, mobil itu bahkan tidak mengurangi kecepatanya saat jaraknya mulai dekat dengan ku" Sahut Rio lirih.
"Kau pasti sangat kesakitan saat itu" Ucap Dean sembari mengusap tangan Rio.
"Tidak juga... setelah tubuh ku jatuh aku mendengar suara kak Hans berteriak memanggil ku, tapi setelah itu tiba-tiba aku pusing dan entahlah" Sahut Rio sembari tersenyum kecil.
"Kau melihat hal lain disekitar mu saat itu? Yang kau anggap aneh?"
"Tidak ada... hanya saja sebelum kecelakaan aku berulang kali mengalami kejadian aneh"
__ADS_1
"Kejadian apa?" Tanya Dean bingung.
"Aku seperti diteror saat tidak bersama kakak" Sahut Rio dengan wajah murung dan bingung.