
Setelah makan malam Alika duduk ditaman halaman vila. Alika membawa secangkir teh ditanganya dan duduk menikmati indahnya bintang ditemani dengan belaian angin malam.
Alika menghela nafas panjang, melepaskan semua beban yang ada didalam hatinya. "Angin malam tidak baik untuk kesehatan" Ucap Hans menyapa Alika.
"Kau belum tidur?" Sahut Alika bertanya.
"Ada yang ingin aku tanyakan" Sahut Hans serius.
"Apa itu?" Tanya Alika pesaran.
Hans berjalan mendekati Alika dan berdiri tepat dihadapan Alika. Alika beranjak dari duduknya dan mereka pun berdiri berhadapan.
"Apa sebenarnya yang ada didalam pikiran mu?" Tanya Hans membuat Alika bingung.
"Maksudnya?" Sahut Alika balik bertanya.
"Kau mencintai kak Dean tapi kau menjebaknya dalam permainan berbahaya seperti tadi siang lalu kau menolongnya dari bahaya itu. Aku tidak mengerti dengan apa yang kau pikirkan"
"Hans... sudah ku katakan sebelumnya jika aku sudah tidak perduli lagi pada kata cinta, mengenai kejadian tadi siang itu semua bukanlah permainan ku tapi itu adalah bentuk tanggung jawab dari Dean sendiri... jika kau bertanya apa yang sedang aku pikirkan maka jawabanya sangatlah sederhana, aku hanya ingin hidup bahagia bersama keluarga ini tanpa beban" Sahut Alika sembari tersenyum ramah.
__ADS_1
"Jika kau mencintainya kenapa kau tidak menerima dia didalam hati dan kehidupan mu?"
"Aku memang mencintainya tapi aku tidak bisa menerimanya didalam hati ku, karena aku sudah memilih peran ku didalam keluarga ini..."
"Apa maksudnya itu?"
"Hidup ini seperti permainan, kita hatus memilih jalan hidup kita sendiri... dan aku sudah memilih untuk menjadi seorang ibu. Ibu dari anak mantan suami ku bukan kekasih dari anak tiri ku" Sahut Alika menegaskan.
"Kau terlibat dalam cerita kehidupan yang sangat rumit" Ucap Hans lirih.
"Hidup ini adalah takdir dan pilihan, aku sudah memilih jalan ku tapi takdir sudah menentukan alur kehidupan ku dan inilah yang harus aku jalani" Sahut Alika sembari meminum tehnya.
"Sudah ku katakan cinta itu ada dihatiku tapi tidak ada keinginan bagi ku untuk memilikinya"
"Apa kau ingin menjebak kak Dean dalam permainan cinta mu itu selamanya?"
"Aku tidak pernah menjebak siapapun, justru takdirlah yang sudah menjebak kami didalam permainan kehidupan yang rumit ini" Sahut Alika yang kemudian berlalu pergi.
Alika mengabaikan Hans dan masuk ke dalam vila. Alika menyusun semua berkas yang akan dia bawa ke kantor esok hari, disaat Alika sedang sibuk merapikan berkas-berkas itu Jingmi datang dan membantu Alika.
__ADS_1
"Bund..."
"Iya"
"Tadi ayah..."
Alika dengan seketika berhenti. "Ayah?" Ucap Alika bingung.
"Ayah bilang kejadian tadi siang itu karena kesalahan ayah dan kakak, tapi bun sebenarnya apa kesalahan mereka?"
"Kesalahan mereka adalah sesuatu yang tidak bisa bunda ceritakan, pada intinya mereka sudah membuat kesalahan yang sulit untuk dimaafkan" Sahut Alika mencoba untuk menjelaskan.
"Apa benar ayah dan kakak sudah membunuh orang?" Tanya Jingmi yang seketika membuat Alika tertegun.
"Apapun yang mereka lakukan dulu... itu semua adalah masa lalu, semua itu sudah berlalu dan mereka sudah mempertanggung jawabkanya. Jingmi apapun yang terjadi hari ini adalah urusan orang tua, kau tidak perlu memperdulikanya" Sahut Alika dengan tenang.
"Apa artinya itu semua benar?"
"Jingmi... jangan pernah menanyakan sesuatu yang tidak ingin bunda jawab, karena semua itu artinya tidak perlu kamu ketahui" Sahut Alika mencoba membuat Jingmi mengerti.
__ADS_1