
Hari ini Alika mengantarkan Jingmi ke kampus. Dia senang karena melihat Jingmi yang terlihat sangat ceria hari ini, Jingmi bernyanyi, tersenyum, dan memeluk Alika seperti anak kecil yang manja.
Setelah sampai dikampus Jingmi memeluk Alika dan berpamitan. Alika melambaikan tanganya dan melihat anaknya masuk ke area kampus dengan senyum bahagianya.
"Waktu begitu cepat berlalu... dulu kau sangat kecil dan suka menangis sekarang kau sudah dewasa dan sudah berkuliah entah berapa lama lagi aku bisa melihat mu sebagai milikku kelak kau harus menikah dan menjadi milik istri mu" Ucap Alika dalam hati.
Saat Alika membuka pintu mobilnya Sila datang dan menutup pintu mobil Alika dengan kasar. Alika menatap Sila heran karena dia masih bingung sejak kapan wanita itu ada disana.
"Kenapa kau disini?" Tanya Alika bingung.
"Aku datang untuk memberi mu pelajaran!" Sahut Sila marah.
"Pelajaran?" Ucap Alika bingung.
"Aku sudah memberikan anak sial itu pada mu tapi kenapa kau tidak membiarkan Johan meninggalkan mu, enam tahun lamanya aku hidup bersama dengan Johan apa yang kau lakukan sampai dia tiba-tiba memutuskan untuk kembali kesini dan menenui mu?!" Tanya Sila dengan berteriak pada Alika.
__ADS_1
"Aku tidak mengerti apa maksud mu tapi jika ingin bicara mari bicara ditempat lain ada banyak orang disini dan Jingmi juga sedang belajar disini jangan buat dia terganggu" Sahut Alika dengan nada rendah.
"Beraninya kau! Kau sangat memikirkan tentang anak itu kau takut dia terganggu tapi kau sendiri sudah menjadi pengganggu rumah tangga ku!" Ucap Sila yang kembali berteriak pada Alika.
Salah seorang teman Jingmi melihat perdebatan yang terjadi diantara Alika dan Sila segera memanggil Jingmi yang sedang sibuk dengan bukunya. Mendengar jika ada wanita yang sedang memaki Alika saat itu juga Jingmi bergegas untuk menemui ibunya.
Saat Jingmi sampai disana dia melihat Sila mencengkram tangan Alika. Jingmi melepaskan tangan Sila dari Alika dengan paksa.
"Jingmi... kenapa kau disini? Pergi masuk ke dalam kelas" Ucap Alika menegur anaknya.
"Jingmi... sudah lupakan ayo masuk ke kelas mu semuanya baik-baik saja, cepat mauk sana" Ucap Alika yang terus berusaha untuk menghindarkan anaknya dari masalah.
"Kau sudah besar dan punya banyak keberanian untuk mengatakan hal seperti itu? Dulu seharusnya aku mengirim mu bukan pada wanita ini tapi pada kakak mu itu!" Ucap Sila dengan kasar.
"Jaga ucapan mu" Sahut Alika menegur dengan nada rendah.
__ADS_1
"Kau sangat menyayanginya? Mari lihat seberapa besar kau menyayangi anak dari seorang wanita simpanan!" Ucap Sila yang dengan sengaja berusaha melukai tangan Jingmi dengan sebuah pisau lipat.
Alika melihat apa yang akan dilakukan oleh Sila. Alika menahan tangan Sila dan menggenggam pisau itu dengan tanganya yang lain tangan Alika terluka dan berdarah karena memegang mata pisau yang tajam itu untuk melindungi anaknya. Sila terdiam mematung saat melihat keberanian Alika untuk melindungi anaknya.
"Sudah pernah aku peringatkan pada mu... jangan pernah mengangkat tangan mu pada anakku, jangan sentuh dia dengan tangan kotor mu...
Kau memanggilnya sebagai anak sial tapi bagi ku dia adalah keberuntungan. Kau menyebutnya sebagai anak wanita simpanan?! Bukan kesalahanya terlahir sebagai anak wanita simpanan tapi itu kesalahan dari si wanita simpanan yang begitu murahan karena menjadi duri didalam rumah tangga orang lain" Ucap Alika sembari menatap mata Sila dengan penuh amarah.
"Ka... kau!" Ucap Sila tergagap.
"Jangan pernah berani berpikir jika kau bisa menyakiti dia... karena selama aku masih hidup menyentuhnya saja hanyalah mimpi untuk mu hari ini kau mengharapkan darahnya berharap melukainya tapi disini ada seorang ibu yang akan selalu melindunginya baik dengan darah atau bahkan nyawanya" Ucap Alika sembari menggenggam pisau itu dengan semakin erat dan menariknya hingga terlepas dari tangan Sila dan melemparkanya ke tanah tepat dihadapan Sila.
"Ibu..." Ucap Jingmi lirih.
"Pergilah selagi aku masih memberikan mu kesempatan, dilain waktu jika kau berani mengangkat tangan mu pada anakku maka kau hanya akan menemui dua hal jika bukan penjara maka mungkin neraka" Ucap Alika yang kemudian berlalu pergi dengab menggandeng tangan Jingmi.
__ADS_1