
"Pulanglah. Ini sudah sore" Ucap Dean mengingatkan Alika.
"Bagaimana dengan mu?"
"Aku akan tetap disini menjaga Rio, saat tertidur dia sering bermimpi buruk dan menangis saat terbangun" Sahut Dean sembari menutup tirai.
"Kasihan dia..."
"Dulu dia anak yang sangat pemberani dan periang, sekarang dia menjadi pendiam dan menyukai keheningan"
"Baiklah. Kalau begitu aku pulang dulu" Ucap Alika berpamitan kepada Dean.
Dean hanya menjawabnya dengan mengangguk. Dean kemudian mulai menyeduh teh dan meminumnya, Dean tidak tau harus berbuat apa dia merasa sangat bosan.
Dalam perjalanan pulang Alika tiba-tiba teringat saat Dean memeluknya ketika disuntik. Mengingat masa-masa itu Alika pun tersenyum kecil namun senyuman itu segera terhapus dari wajahnya kala dia mengingat Johan.
Saat sampai dirumah Alika mengirimkan pesan kepada Dean menanyakan mengenai keadaan Rio. "Apa Rio sudah bangun?" Tulis Alika dalam pesanya.
"Sudah, tapi dia tiba-tiba tidak mau makan" Sahut Dean sembari berusaha memaksa Rio untuk memakan makanannya.
"Cobalah lebih lembut kepadanya" Sahut Alika dalam pesanya.
"Dia tidak mau makan dan suhu tubuhnya tinggi, jika tidak makan bagaimana bisa minum obat" Ucap Dean dalam pesanya.
Membaca pesan dari Dean, Alika bisa tau jika Dean sedang merasa cemas. Alika memutuskan untuk kembali ke rumah sakit dan membantu Dean disana, sebenarnya Alika ragu melakukan hal itu tetapi dia juga tidak tega jika harus membiarkan Dean merawat Rio sendirian apalagi kondisi fisiknya sendiri tidak baik.
__ADS_1
Saat dalam perjalanan Alika membeli beberapa jenis buah dan juga coklat. Saat sampai Alika meletakan semuanya diatas meja dan meminta Dean untuk mengupaskanya satu buah apel.
"Rio apa kau mau apel?" Ucap Alika sembari tersenyum ramah.
Rio hanya diam mengabaikan ertanyaan dari Alika. "Hm... bagaimana jika kakak mu yang mengupas apelnya dan aku yang menyuapi mu?" Sambung Alika berucap.
"Rio makanlah sesuatu... kau harus minum obat" Ucap Dean dengan nada memaksa.
"Baiklah. Kalau dia tidak mau makan ya sudah biarkan saja" Sahut Alika dengan cepat.
"Hei apa maksudnya itu? Dia harus makan"
"Tapi kalau dia tidak mau kenapa dipaksa?"
"Coba kau tanya dia apa dia mau makan atau tidak?" Ucap Alika memberikan perintah.
Dengan spontan Dean menatap Rio. Rio menggelengkan kepalanya menandakan jika dirinya tidak ingin makan apapun.
"Nah kalau begitu bagaimana jika kau saja yang makan? Tadi aku membeli sesuatu yang sangat lezat" Ucap Alika sembari membuka tas belajaannya.
"Kau jangan macam-macam saja" Sahut Dean kesal.
"Kau ini pemarah sekali, lihat dulu apa yang ku bawa untuk mu" Sahut Alika dengan suara uniknya.
"Nah ini dia" Ucap Alika sembari menunjukan kotak makanan berisi bubur jagung.
__ADS_1
"Kau ini! Kau kan tau aku tidak suka bubur jagung" Sahut Dean kesal.
"Benarkah? Aku lupa. Tapi karena sudah terlanjur aku bawa kesini apa kau tidak mauencobanya?" Sahut Alika menggoda Dean.
Rio yang menyasikan perdebatan diantara keduanya pun tersenyum. Dia bisa melihat jika ada cinta diantara Dean dan Alika tetapi sebuah cinta yang begitu rumit, Rio ingin menyatukan mereka tetapi dia tidak tau bagaimana caranya.
"Kakak cobalah bubur jagungnya" Ucap Rio mendukung Alika.
"Kalian ingin menyiksaku ya?" Sahut Dean dengan raut wajahnya yang lucu.
"Aku akan makan jika kakak makan bubur itu" Ucap Rio ikut menggoda Dean.
"Hei kau juga mau menyiksa kakak?"
"Makanlah buburnya dan aku juga akan makan makanan ku"
"Eits. Siapa bilang kalian boleh makan makanan yang berbeda?" Ucap Alika kembali menggoda Dean.
"Maksudnya?" Tanya Rio bingung.
"Aku akan menyuapi kalian bubur jagung ini dan kalian harus menghabiskanya, siapa yang makan paling banyak akan jadi pemenang dan boleh meminta hadiah apa saja" Ucap Alika sembari tersenyum geli.
Spontan Rio pun menjawab. "Aku setuju"
"Aku tidak" Ucap Dean dalam hati sembari menganggukan kepalanya ragu-ragu
__ADS_1