Al-fatihah Pembuka Jodoh

Al-fatihah Pembuka Jodoh
Sita


__ADS_3

Dino memilih membuka hati untuk tidak berpikiran buruk, berpikir dengan kepala dingin. Perlakuan mesra dari sang istri sudah cukup membuatnya tenang, begitu pula dengan permintaan maaf Aditya sudah cukup baginya, meski sebenarnya banyak hal yang ingin ia tanyakan.


Lama mereka berbicara di teras, Aditya menjelaskan bagaimana pertemuannya dan Sita. tidak ada satupun yang ia tutupi.


Aditya sadar meski saat ini hatinya tengah terbakar, Aditya tidak boleh menciptakan kesalah pahaman Antara Dirinya dan Dino, itu hanya akan menjauhkannya dari sang pujaan hati, sampai detik ini Sita pun tidak menyadari Aditya mencintainya. Semua perhatian dan pertolongannya terhadap Sita ia namai atas dasar kemanusiaan.


Namun bagaimana pun Dino, dia adalah seorang laki-laki, dia tau benar ada yang aneh pada Aditya. Caranya memukul dirinya dengan membabi buta bukan hanya karna kemanusiaan.


Untunglah, Cinta Sita yang begitu besar pada Dino, masih menunjukan kesetiaannya, bahkan pembelaan dan pengakuannya saat Aditya memukulinya, cukup membuktikan bahwa mereka tidak ada hubungan Apa-apa, terlebih Sita memanggil Aditya dengan panggilan pormalnya.


"Tidak ku sangka, kedatanganku kesini mempertemukan ku dengan istriku yang selam ini ku cari," ucap Dino dengan lega.


"Aku sudah menganggapnya sebagai Adikku sendiri, untuk itu aku tidak suka jika ada yang menyakitinya, aku pikir kau benar-benar menyakitinya, untuk itu aku memukulimu. Sekali lagi aku minta maaf," Didit sengaja mengatakan itu untuk menghindari kecurigaan dari Dino.


"Tidak Apa-apa, perlu kamu tau aku tidak mungkin menyakiti istriku, aku sangat mencintainya, cintanya aku perjuangkan tidak mungkin aku sia-siakan."


Sita yang sudah selesai menyusui Arvi nampak mendengar pembicaraan keduanya, ia sungguh bahagia mendengar perkataan Dino yang sangat mencintainya, dan perkataan Aditya yng menganggapnya sebagai Adiknya sendiri.


Hari semakin sore Sita harus kembali kerumah Dino, mereka pun berpamitan pada Aditya dan Bi Marni, nampak Air mata kesedihan di antara keduanya.


"Non Amel, Bibi akan sangat merindukanmu, Bibi kesepian lagi kalau non Amel pergi," ucapnya dengan tangis.


"Bibi jangan bersedih, kalau di ijinkan sama kakak Sita, Sita akan sering berkunjung kesini,"


"Kakak!" Bi Marni kaget mendengarnya.


"Ya, Pak Aditya selama ini menyembunyikan perasaannya pada Sita, Bi," tutur Sita membuat bibi kaget, begitu pun Aditya.


Deg ...


Aditya tertegun, 'Apa Amel tau perasaanku' batin Aditya tak karuan. ia pun melirik Dino khawatir salah paham.


Batin Bi Marni pun sama seperti Aditya.


"Iya kan, Pak?" tanya Sita.


"Ma-maksud kamu A-apa Amel, eu-eu Sita," Aditya gugup.


Sita tersenyum.


"Bukankah tadi bapak bilang pada suami Sita, bapak sudah menganggap Sita sebagai adik bapak sendiri?" ucap Sita dengan tersenyum.


Huuhhh ... Aditya lega nampaknya Sita mendengar perbincangannya dengan Dino.


Senyuman itu membuat hati Aditya meleleh 'kenapa dia tidak memakai cadarnya, apa dia lupa?' batin Aditya.


'Eu-iya kamu benar, kau adikku kapan pun kamu boleh main kesini, bahkan wajib, bawa ponakanku kesini saat weekend." ucapnya masih sedikit gugup

__ADS_1


'Kau polos sekali Sita' bisik hati Dino. Dino melihat Kegugupan Aditya yang ia pahami.


"Sita senang sekali mendengarnya pak, Sekarang Sita adalah adik bapak, sita akan sering main kesini, dan Amel asisten rumah tangga bapak itu sudah pergi,"


Hahaha ...


Mereka tertawa hangat.


"Jadi sekarang kakakmu ini harus panggil Sita."


Sita mengangguk.


"Oke, baiklah," Aditya pun mengngguk dengan tersenyum.


"Baiklah Sita Bibi juga akan melupakan asisten rumah tangga bernama Amel itu, sekarang hanya ada Sita adik Pak Aditya,"


Hahaha ...


"Makasih Bibi, Sita bahagia sekali bertemu kalain, kalian adalah keluarga terbaik Sita, Sita akan sangat merindukan kalian," ucap Sita lalu memeluk Bi Marni.


"Kalau sampai Dino menyakitimu lagi, kamu tinggal datang kesini, aku akan menghajarnya lagi," canda Aditya.


Hahaha ...


Sita Dan Dino pun akhirnya berlalu pergi dari rumah Aditya. Meninggalkan kenangan untuk Aditya.


Aditya menjatuhkan dirinya di atas Sofa. Dengan kehancuran hatinya.


"Aku mencintaimu, aku mencintaimu." Aditya histeris, dadanya naik turun menahan gejolak amarah yang membara.


Bi Marni menangis melihat Aditya seperti ini, nampak prustasi kehilangan cintanya.


Bi Marni pun tidak berani mengganggu Aditya, membiarkannya meluapkan segala kekesalannya.


Aaaaa ....


Teriak Aditya.


Berbeda dengan Aditya yang tengah prustasi ditinggalkan Sita. Sita dan Dino nampak bahagia, setelah lama menahan duka.


Meski sedang berkendara Dino tak berhenti memegang tangan sang istri ia tak ingin melepaskan tangannya meski hanya sekejap saja.


"Sayang lepeskan fokuslah,"


"Tentu saja aku fokus sayang, tidak perlu khawatir, kamu energi konsentrasiku,"


"Apa! Mana ada, yang ada konsentrasimu bisa teralihkan padaku,"

__ADS_1


"Apa kamu tidak mengerti, suamimu ini sangat merindukanmu, diamlah tidak usah bawel, nikmati saja!"


"Sayang, aku tidak mau terjadi apa-apa pada kita, aku masih ingin hidup lama bersamamu,"


"Apa kamu pikir suamimu ini tidak ingin hiduplama denganmu, heemmm,"


"Makanya fokus nyetir, aku tidak akan kemana-mana, setelah di rumah kau bebas apakan aku, asal jangan kau sakiti aku."


"Aku tidak pernah menyakitimu, kau yang sudah menyakitiku, kau pergi meninggalkanku begitu saja, aku tidak akan membiarkan itu terjadi lagi."


"Maafkan aku, aku tidak sanggup mendengar ijab kobul waktu itu,"


"Baru ijab sayang, belum kobul kamu main pergi saja,"


"kenapa minta maaf terus, aku tidak butuh permintaan maaf darimu, aku butuh kamu disampingku,"


"Aku janji, aku tidak akan pergi lagi!"


Dino semakin mengeratkan genggaman tangannya.


Tak lama mereka sampai di rumah, ibu yang sedang menggendong rafka, tba-tiba membulatkan matanya tatkala melirik kearah suara Sita memberi salam. Deraiyan air mata di pipi mengalir begitu deras, kerinduan pada sang menantu kini terbayar sudah.


"Sita, sayang!" Ibu tersentak, kemudian memberikan rafka pada Dino, ibu memeluk sang menantu yang juga tengah menggendong cucunya, di ciuminya kening dan pipi Sita dengan penuh kasih sayang.


"Kamu kemana saja, Nak?" Ibu sangat merindukanmu. Apa yang kamu lakukan kenapa kamu tidak mengindahkan perkataan ibu?" ucap ibu sambil menangis.


Sita pun menangis tersedu. "Maafkan Sita, Bu, maafkan Sita," isak Sita.


Kini mata Ibu beralih pada bayi yang di gendong Sita, "Ini cucu ibu nak?" ucap ibu dengan bibir yang bergetar.


"Iya, Bu, ini cucu ibu. Arvi Aldino."


"Arvi Aldino, cucu ibu?"


Sita mengangguk.


Ibu pun menggendong Arvi dengan lembut dan hati hati, mencurahkan segenap kasih sayangnya pada sang cucu, "Saaayaang ini, nenek nak, ini nenek mu," isak ibu di sela-sela tangisnya.


"Dia Rafka?" tanya Sita pada Dino.


"Ia sayang, ini Rafka, gendonglah!"


Sita pun menggendong rafka dengan penuh kasih sayang layaknya anak sendiri, tanpa membedakannya dengan Arvi.


Hari ini adalah hari terindah, isak tangis haru kebahagiaan mengiri hari-hari mereka, Cinta bersemi kembali diantra mereka, tak ada lagi duka dan derita, hari ini mereka terbebas dari duka rindu yang menyiksa mereka.


Namun entahlah, masihkah orang ketiga diantara mereka mengganggu kehidupan rumah tangga mereka setelah usahanya selalu gagal, akankah kali ini mereka terjebak lagi. Atau berhasil melewatinya kembali.

__ADS_1


tetap stay disini ya readers tercintaku❤❤❤ jangan lupa penyemangat buat author.


like dan koment yang membangun dari kalian bisa mendatangkan imajinasi buat Author. Terimakasih untuk kalian yang selalu memberi dukungan😘😘😘


__ADS_2