
Malam semakin sunyi, dalam kesendiriannya Dino merasa diri semakin 'tak berarti, hari-hari yang ia lewati tanpa sang istri kini membuat jiwanya seakan mati, 'tak ada lagi canda tawa apa lagi bahagia.
Kini Sikap hangatnya menjadi dingin seketika, tidak ada yang dapat mencairkan suasana hati selain Sita sang istri.
Ibu sangat sedih melihat kebahagiaan sang putra yang tenggelam begitu saja, entah kapan semua berubah seperti sedia kala.
"Nak, jangan berlarut dalam kesedihanmu, Ibu yakin Sita akan kembali padamu?" ucap ibu pada putranya yang tengah melamun di depan jendela kamarnya.
"Sudah satu bulan bu, aku sangat merindukannya, entah bagaimana keadaannya, aku khawatir padanya," ucap Dino yang masih memandang langit dengan tatapan kosongnya.
"Ibu yakin Sita baik-baik saja, dia wanita yang kuat, dia tidak akan berlarut dalam kesedihan, dia juga tegar, dan memiliki hati yang lapang."
"Dibalik ketegaran seorang wanita, ada hati yang rapuh, aku selalu membayangkan tangisnya dalam kesendirian, siapa yang akan jadi tempatnya berlabuh, sampai detik ini mungkin dia berpikir aku telah menikah dengan Elvira,"
"Sudahlah sayang, lanjutkan hidupmu, Jodohmu akan kembali seiring berjalannya waktu, Allah akan beri keadilan pada cinta kalian." Ibu menghela nafas dan menghembuskannya perlahan, mencoba bicara dengan tenang, meski sebenarnya ia merasakan hal yang sama dengan apa yang tengah dirasakan putranya, khawatir pada sang menantu yang pergi dalam keadaan hati yang hancur.
"Lanjutkan hidupmu dan bekerjalah kembali, kau harus menafkahi istrimu, saat dia kembali nanti," tak ingin putranya bersedih, Ibu terus menyemangati Dino agar dia tidak terpuruk lagi, terus memberikan keyakinan bahwa Sita akan kembali.
"Bagaimana ibu yakin Sita akan kembali?" tanya Dino lesu.
"Dia sangat mencintaimu, sama seperti mu yang tengah merindukannya, ibu yakin dia juga tengah merindukanmu, Allah maha membolak balikan hati, semoga Sita segera digerakan Allah untuk kembali, Aamiin."
"Terimakasih bu, hari ini Dino akan bekerja, Dino bisa kerja sambil mencari Sita, siapa tau saat Dino mengirim barang bertemu Sita di jalan," harapnya.
"Aamiin," Ibu pun menyimpan banyak harapan disetiap doanya untuk sang putra.
Dino pun kembali bekerja seperti biasanya, setelah tugasnya selama satu bulan ini ia berikan pada kak Hermawan kini ia mengambil alih tugasnya seperti biasa.
"Masya Allah Din, Akhirnya kamu kembali," ucap Ipan yang bahagia melihat sahabatnya kembali bekerja. Ia pun merangkul sang sahabat berharap bisa memberi kekuatan.
"Tetap semangat Din, kakak juga tidak berhenti mencari Sita, jika sudah waktunya pasti akan ketemu," Kak Hermawan ikut menyemangati, dan memeluknya setelah Ipan melepaskan pelukannya.
__ADS_1
"Terimakasih kak," ucap Dino, "Bagaimana kabar kak Fitri, kak Riri, dan kak Syamsul?" Tanya Dino.
"Alhamdulilah mereka baik, hanya saja Fitri dan kak Riri menjadi murung kehilangan adik mereka, mereka juga tak berhenti mencari Sita," jawab Kak Hermawan.
"Tenanglah Din, Sita perempuan yang mandiri, dalam kesendiriannya dia pasti bisa tetap bertahan," tutur Ipan, "Aku yakin dia pasti kembali untukmu," lanjut Ipan.
"Baiklah, terimakasih pan, aku harap tak lama lagi Sita kembali," ucap Dino berat menahan duka.
Akhirnya mereka pun kembali bekerja seperti biasanya Dino mengantar semua pesanan ke langganan langganannya setelah satu bulan lamanya di handle kak Hermawan.
Dino terus mengendarai mobilnya, dia melaju dengan perlahan, selain fokus pada jalanan matanya pun selalu siaga melirik setiap orang yang ia lewati, setiap kerumunan yang ia lalui tak henti ia selidiki, barangkali sang istri ada diantara mereka.
***
Kontrakan Amel tidak terlalu jauh dari rumah pak Aditya, tempatnya masih satu arah dengan cape, pak Aditya selalu menjemput Amel saat mau berangkat kerja, dengan alasan sekalian lewat.
Pagi itu Amel turun dari mobil pak Aditya, itu sudah bukan hal aneh lagi bagi karyawannya sekarang, karna sejak pertama Amel kerja hingga selama satu bulan ini Amel selalu datang bareng pak Aditya.
Namun pak Aditya marah pada Amel, dengan alasan khawatir pada bayi yang di kandung Amel, dan mengancam Amel akan di pecat, Terdengar sedikit aneh sih, tapi mungkin Aditya memang memiki rasa pada Sita namun ia belum menyadarinya.
Pikirnya ini hanya nurani kemanusiaan. Ya karna Aditya memang belum pernah jatuh cinta selama ini.
Tanpa menunggu di bukakan pintu, Amel turun dari mobil, seketika Aditya yang sedang melangkah untuk membukakan pintu pun berhenti, melihat Amel yang sudah keluar dari mobilnya, "Terimakasih pak, tidak usah terus membukakan pintu untuk ku Pak, aku bisa sendiri," ucap Sita dengan lembut, lalu Sita pun melangkah terlebih dahulu meninggalkan Aditya yang terpaku mendengar ucapan Sita tadi.
Entah kenapa ucapan itu begitu menusuk bagai duri baginya. Ada perasaan kesal, 'Kenapa dia menolak di bukakan pintu' batinnya kesal, kemuadian ia tersadar, 'Kenap harus kesal, hanya masalah buka pintu. Sudahlah' batinnya lagi.
Aditya pun menatap kepergian Amel yang telah sampai di pintu masuk cafe. Ia pun membalikkan badan dan melangkah dengan cepat, namun nertanya tak sengaja melihat seorang pria yang sedang berdiri di ujung jalan sana tengah menendang pelan ban mobilnya yang bocor.
Aditya pun mengerutkan keningnya, ia menyelidik wajah pria itu, langkahnya ia arahkan ke arah pria itu berdiri, 'Sepertinya aku mengenal pria itu' batinnya. Aditya pun terus melanjutkan langkahnya, hingga saat Pria itu menoleh Aditya pun tersentak, "Dino!" panggilnya.
"Didit!"Panggil Dino 'tak kalah kagetnya.
__ADS_1
"Masya Alloh," Aditya langsung menjabat tangan Dino dengan senang, mereka pun saling rangkul ala-ala anak muda. Mereka adalah teman masa kecil saat mereka dulu belajar mengaji bareng di mesjid Al-Ikhsan yang 'tak jauh dari tempat tinggal mereka, 'tak salah kalau Dino memanggilnya Didit. Rumah Ibu Didit masih di sana dekat dengan mesjid Al-ikhsan, namun Didit sudah memiliki rumah sendiri di sebuah komplek perumahan Elit.
"Apa kabar kamu Din?" tanya Aditya pada Dino.
"Alhamdulilah, baik Dit, kamu sendiri bagaimana?
"Alhamdulilah, aku baik juga," jawab Aditya.
"Terakhir denger kabar, kamu menjadi pengusaha cape, Dit?"
"Iya, itu benar, dan ini salah satu cape saya," ucap Aditya sambil mengarahkan jari jempolnya ke arah cafe.
"Masya Alloh , setau saya ini cafe teramai disini, Dit, jadi cafe ini milikmu?" Dino tidak tau kalau cafe yang sering ia lewati ini adalah cafenya Didit alias Aditya.
"Alhamdulilah cafe ini titipan Allah untuk saya," ucapnya merendah.
Dino kagum melihat kerendahan hati temannya ini.
"Oh ya, Din, ada apa dengan mobilmu? Saya lihat kamu sedang menendangnya tadi?"
"Ban mobil ku bocor, Dit, padahal kiriman banyak, mana pihak toko sudah tak sabar menunggu pesananya dikirim lagi, huhh ...." Dino membuang kasar nafasnya.
"Kalu begitu biar mekanikku saja yang betulin mobilmu, dia pasti sudah datang?" tawar Aditya.
"Kau punya mekanik?" tanya Dino sedikit kaget.
"Ya, ada," jawab Aditya santai.
"Syukurlah," ucap Dino lega dengan menyibakkan rambutnya kebelakang.
"Biar kupanggilkan, Ayo kita tunggu di dalam sambil minum kopi, sudah lama kita tidak ngobrol," ajak Aditya lalu mereka pun melangkah berjalan menuju cafe.
__ADS_1