
Langit malam yang cerah, berhias ribuan bingtang yang indah, rembulan bersinar terang hampir sepenuh lingkaran.
Semua orang berkumpul mengelilingi kobaran api unggun yang membara.
Terkecuali Sita yang stay di kamarnya tanpa keberatan, dia lebih memprioritaskan menjaga kedua buah hatinya yang masih bayi.
"Sayang, kamu tidak apa-apa, tidak ikut menikmati api unggun?" tanya Dino pada sang istri.
"Tidak apa-apa, aku bisa menikmatinya lewat jendela," ucap Sita dengan tersenyum.
Dino memperlihatkan raut wajah yang sedih, merasa kasihan pada sang istri.
"Tidak usah khawatir, kita harus beri kebahagiaan pada ibu yang ingin berlibur, aku cukup bahagia, kok," ucap Sita pada sang suami.
Dino tersenyum lega mendengar ucapan istrinya.
Dino pun mengecup kening sang istri sebelum ia keluar menghampiri yang lain.
"Nanti kita pasti berlibur berdua, dan semua kebahagiaan hanya untukmu," ucap Dino dengan tersenyum.
Sita pun tersenyum dan memejamkan kedua matanya menanggapi suaminya.
Selepas kepergian suami Sita pun melihat pemandangan api unggun itu lewat jendela.
Terlihat semua orang tengah bersenda gurau, Ratih yang semakin akrab dengan Aditya dan Elena yang terus bicara pada Ipan, entah apa yang dibicarakannya. Sedangkan ibu dan bi Marni tengan membakar ikan.
"Ibu, biar Dino bantu." Dino mengambil kipas yang sedang dikibaskan ibu pada pembakaran. Bi Marni pun sibuk membumbui ikan.
Sita tersenyum bahagia melihat kebahagian semua orang, kemudian ia menghampiri kedua buah hatinya dan duduk di ranjang mengajak keduanya bicara.
Melihat Dino yang tengah mengipasi pembakaran sendiri, Elena segera bangkit menghampirinya.
"Hai Din, aku bantu, ya," tawarnya.
"Boleh, tapi ... kipasnya cuman satu," ucap Dino agak sedikit kaku.
"Aku tungguin disini saja, siapa tau nanti kamu pegel 'kan, tinggal gantian sama aku," kata Elena.
"Euu ... lebih baik kamu tunggu disana saja sambil menikmati api unggun, biar gak pegel," saran Dino.
"Enggak kok, disini indah. Lihatlah bintang dan rembulan seolah sedang tersenyum pada kita, indah ya, Din," kata Elena dengan memandang kearah langit, ia berusaha memancing pembicaraan hangat dengan Dino, berharap Dino meliriknya dan ikut menatap bintang bersamanya.
Namun, Dino menjawab datar tanpa memperhatikan Elena, dan fokus pada pembakaran.
"Iyaa, mereka memang selalu tersenyum sama kita semua, seluruh manusia di dunia ini selalu diberi senyuman sama rembulan dan bintang, iya gak, Bu?" ucap Dino dengan datar, Dino mencoba melibatkan ibu dalam percakapan mereka.
"Haha ... Iya sayang, mereka sedang tersenyum melihat kita bahagia," kata ibu.
"Itu bener banget, Bu," kata Dino.
"Iya, rembulan dan bintangnya sangat indah," kata Bi Marni yang ikut nimbrung.
'Kok, jadi kita semua sih, maksudku, aku dan kamu Din, tanpa mereka' batin Elana kesal.
"Euu ... kamu pegal, Sini gantian!" sebelum Dino menyerahkan kipasnya, dengan sengaja Elena segera mengambilnya dari tangan Dino, agar dia bisa memegang tangan Dino.
'Astagfirullahhaladzim' batin Dino.
Dino pun segara melepaskan tangannya meras risih.
Elena menampakan wajah biasa saja, padahal hatinya sedang bahagia karna tangannya berhasil memegang tangan Dino.
'Ya, ampun pegang tanganmu aja jantungku serasa mau copot, apalagi jika aku bisa memelukmu, memegang seluruh tubuhmu, Dino' batin Elena merasa senang.
Dino pun berlalu meninggalkan Elena karna merasa risih di dekatnya. Dino memilih duduk di sebelah Ipan yang dari tadi memperhatikan mereka.
"Din, kamu harus hati-hati sama Elena, Dia belum berubah seperti yang kamu kira," jelas Ipan.
"Kamu merasakan itu, Pan?"
"Aku tidak hanya merasakan, dia bahkan ... sudahlah! Yang pasti kamu hati-hati sama dia."
"Iya." Dino mengangguk, dan heran kenapa Ipan ragu mengatakannya.
'Aku tidak perlu mengatakan semua yang di katakan Elena padaku, bisa saja Dino pun salah paham padaku' batin Ipan.
'Pengen deket sama Dino disini, dia malah milih duduk di api unggun sama mereka' batin Elena dengan kesal.
__ADS_1
"Din, bisa tolong ambilkan Ibu kecap di dapur!" pinta ibu.
"Oke, Bu." Dino pun berdiri dan berjalan menuju dapur.
Elena yang berpikiran kotor ingin mengikutinya.
"Ratih, ini tolong aku!" Elena langsung menghampiri Ratih meletakan kipas begitu saja di tangan Ratih, "Aku mau pipis," Alasan Elena.
"Yeee, main simpan aja, gak pake permisi tu orang," gerutu Ratih, lalu berdiri dan melangkah kearah pembakaran.
Heheummm ... Aditya tersenyum melihat Ratih.
"Yang iklas, biar dapet pahala," Celetuk Aditya.
"Nyamber aja kamu, Dit."
Heheummm .... Aditya tersenyum.
"Mau dibantuin gak?" tanya Aditya.
"Gak perlu!" jawab Ratih seenaknya.
Ipan menaruh curiga melihat gelagat Elena. Ipan khawatir Elena melakukan hal yang akan menimbulkan salah paham antara Dino dan Sita.
Ipan pun bangkit.
"Aku, mau ngambil sesuatu dulu di dalam," kata Ipan pada Aditya.
Aditya mengangguk.
Benar saja, saat Dino tengah mencari kecap di rak, Elena berusaha memeluk Dino dari belakang.
Dino berpikir kalau itu adalah sang istri, Dino pun memegang tangan yang melingkar di pinggangnya.
Namun, kemudian Dino langsung tersadar kalau tangan itu bukanlah tangan sang istri, dengan segera Dino membalikan badannya.
"Astagfirullah! Elena!" Seketika Dino pun mendorong Elena.
"Ma-maaf saya tidak sengaja, barusan saya terpeleset," Eleknya lalu berlari menuju kamar mandi, sebelum Dino mengatakan hal lain lagi.
Setelah sampai di kamar mandi.
"Elena, beraninya kau ...." Dino geram.
Ipan segera menghampiri Dino, "Sudah kuduga, Din," ucapnya mengagetkan Dino.
"Ipan!"
"Dia sengaja melakukannya, aku melihatnya," jelas Ipan, "Aku sudah memperingatimu, Dino," lanjutnya.
"Perempuan itu. Aku pikir sudah berubah." Dino melangkah hendak menggedor pintu toilet. Namun Ipan mencegahnya, menghalangi Dino dengan tangannya.
"Mau apa? Mau melabraknya? Itu bukan Solusi," cegah Ipan.
"Kamu benar? Besok pagi akan aku usir dia dari Sini," geram Dino lalu melangkah kembali keluar.
"Lama sekali, Sayang?" kata ibu yang melihat Dino berjalan dengan cepat dan menekuk wajahnya.
"Ada sedikit masalah, Bu. maaf! Ini kecapnya!" Dino menyerahkan kecap itu pada ibu.
"Oke! Ada masalah apa, Sayang?" tanya ibu.
Tidak ingin merusak kebahagiaan sang ibu sekarang. Dino pun belum mau menceritakan semuanya sekarang.
"Tidak. Masalah biasa saja kok, Bu," jawab Dino. "Nyayi yuk, Pan! Keluarin gitarmu," ajak Dino ingin mengubah suasana.
"Siap." Ipan pun mengambil gitarnya dan bernyanyi lagu kesukaan mereka berdua saat masih sering nongkrong bersama.
"Ayo Dit, Rat, kita nyanyi!" ajak Dino.
Ibu dan Bi marni tersenyum bahagia.
"Lihat Bi Marni! Mereka sangat bahagia, saya senang melihatnya," kata ibu, "Tapi sayang Sita di dalam, Rafka dan Arvi masih terlalu kecil di ajak main di luar malam-malam," lanjut ibu dengan wajah yang kecewa.
"Iya, Bu Erni, sayang sekali Sita gak bisa ikut nimbrung," kata Bi Marni.
"Ini semua salah saya, yang terburu-buru pengen piknik, padahal Sita baru saja melahirkan," ucap ibu dengan menyesal.
__ADS_1
"Non Sita orangnya baik kok, Bu. Dia pasti tidak keberatan dengan semua ini," kata Bi Marni.
"Iya, Dia istri dan menantu yang baik, setelah ini, saya bakalan suruh Dino bawa dia berlibur berdua saja supaya mereka berbulan madu, biar arvi dan rafka saya yang urus," ucap Ibu diakhiri senyuman.
"Wahhh, ide bagus itu. Nanti saya bantuin deh jaga Arvi dan Rafka," kata Bi Marni.
Hahahaha ....
Ibu dan bi Marni pun tertawa.
"Bener ya, Bi."
"Iya, Bu, pasti saya bantu," kata Bi Marni di sela tawanya.
Elena yang baru kembali dari toilet nampakmya mendengarkan pembicaraan ibu dan bi Marni. 'Tidak akan kubiarkan' batinnya dengan geram.
Mendengar suara nyanyian di luar Sita yang sempat tertidur pun bangun, dan bangkit dari ranjangnya. Ia berjalan menuju jendela, dilihatnya semua tengah gembira, Sita memandang indah sang suami dari kejauhan, canda tawanya membuat Sita ikut bahagia. Namun, ada hal yang mengganggu Sita, saat tiba-tiba melihat suaminya mendekap tubuh sendiri, dan menyimpan kedua tangannya di dada.
"Suamiku mulai kedinginan," gumamnya.
Sita pun mengambil mantel untuk diberikan pada sang suami, dilihat kedua buah hatinya tengah tertidur pulas di kereta dorong mereka.
"Mama, anterin dulu mantel sama papa ya, kalian tidur yang nyenyak," ucap Sita diakhiri senyuman.
Sita pun hendak melangkah, berjalan membuka pintu kamar, namun tiba-tiba baju Sita tersangkut kereta dorong Arvi.
Sita pun tersenyum, batinnya merasa Arvi tidak mau ditinggalkan.
"Tunggu sebentar, Sayang! Mama tidak lama kok, kasihan papamu kedinginan. Ya."
Sita pun mengecup kening Arvi, merasa tidak adil jika hanya mengecup Arvi Sita pun mengecup kening Rafka.
Sita segera melangkah dengan cepat menghampiri sang suami.
"Sayang, Pakai mantel ini!" pinta Sita dengan memakaikan mantel pada sang suami.
"Kamu kesini sayang?" Dino terkejut sekaligus bahagia mendapatkan perhatian dari sang istri.
"Aku memperhatikanmu di jendela, kamu terlihat kedinginan," ucap Sita.
"Ciee, senengnya ada yang merhatiin, mau dong diperhatiin," goda Ratih.
Hahaha ...
Semua tertawa dengan candaan Ratih.
"Kamu mau diperhatiin Rat. Salah, harusnya kamu merhatiin. Ambilin mantel ku gih!" Canda Aditya.
"Ogah, Siapa kamu minta diperhatiin?"
Hahahaha ....
Saat semua tertawa bahagia dengan tulus, Elena hanya memaksakan diri tersenyum dengan berat.
"Sit, Rafka dan Arvi sudah tidur?" tanya ibu.
"Iya, Bu. Mereka sudah tertidur dengan nyenyak," jawab Sita.
"Kalau gitu kamu disini dulu sebentar, Sayang!" Pinta Dino dengan meraih kedua tangan sang istri.
"Gak bisa sayang, nanti kalau mereka nangis gimana? Kasian 'Kan?"
"Iya, Nak Dino. Disini juga rame, kalau mereka nangis belum tentu kedengaran," kata bi Marni.
"Iya, Din. Biarkan Sita nemenin Arvi dan Rafka. Nanti kalau kamu mau dua-duaan sama istrimu ibu kasih kalian bulan madu, biar Arvi dan Rafka ibu yang jaga," ucap ibu di akhiri dengan senyuman.
"Waahhh, asyik nih habis ini bakalan ada yang bulan madu," goda Ratih.
Hahaha ....
Semua pun tertawa.
"Ya sudah, aku kembali kembali ke Villa!" Sita melepaskan tangan sang suami, namun Dino enggan melepaskannya.
"Sayaang, lepas! Nanti aku lihatin kamu disana!" Tunjuk Sita ke arah jendela kamar Villa yang terbuka gordengnya sedikit, bekas Sita memperhatikan sang suami tadi.
Namun, tiba-tiba Sita terkejut, saat melihat bayangan seorang melintas dibalik gordeng kamar, terlihat sosok laki-laki melalui gordeng kamar yang sedikit terbuka.
__ADS_1
ARVII! RAFKAA!" Teriak Sita lalu berlari sekencangnya menuju kamar.
bersambung ....