Al-fatihah Pembuka Jodoh

Al-fatihah Pembuka Jodoh
Mengingat Kenangan


__ADS_3

Di luar sana Dino tengah membawa Sita ke sebuah restoran yang pernah mereka kunjungi, saat Sita ikut Dino mengantar barang pesanannya waktu itu. Meski sedikit jauh sengaja Dino membawanya kesana, karna menurutnya disana ada kenangan indah yang bisa membutya tertawa, berharap Sita bisa melepas sejenak beban duka di hatinya. Syukurlah pagi-pagi sekeli mereka sudah buka, karna banyak para pekerja kantoran yang sering sarapan disana.


"Kita makan disini lagi?" tanya Sita pada Dino yang baru saja memerkirkan motornya.


Dino tersenyum sebagai jawaban.


"Ayo," di raihnya tangan sang istri dan di genggamnya dengan erat, dilihatnya meja paling ujung yang pernah mereka tempati pun nampak kosong belum ada yang mengisi, langkahnya langsung menuju meja itu. "Duduklah sayang," Dino menggeserkan kursi untuk sang istri duduki.


"Terimakasih," ucap Sita.


Dino pun langsung memesan makanan yang pernah ia pesan dengan sang istri di restauran ini tanpa bertanya dulu padanya ingin makan apa, tentu saja ia sengaja melakuknnya, agar yang di ingat Sita saat ini adalah kenangan manis.


Tak lama makanan pun datang.


Sita tersenyum melihat menu makanan yang sama ini tersaji kembali dimeja yang sama, meski dengan suasana hati yang berbeda.


"Ayo makan lah!" ucap Dino.


Dino sangat bahagia melihat senyum yang baru saja Sita ukir saat melihat makanan yang ia pesan, senyum yang beberapa hari ini tenggelam dalam duka.


Setelah mereka makan mereka pun beranjak pulang, di luar Dino melakukan hal yang sama seperti waktu itu, pergi ketoilet, dan membiarkan Sita menunggu di bangku yang ada di depan restauran itu.


"Aku mau pipis, kamu tunggu disini ya, Sayang!" pinta Dino, lalu pergi melangkah ke kamar madi.

__ADS_1


Sita mengangguk dan duduk.


Namun Dino tak lantas pergi ke kamar mandi, langkahnya ia hentikan di balik dinding sebuah bangunan yang ada di sebelah restauran, ia mengintip sang istri yang tengah duduk menunggunya, ia berharap Sita mengingat kejadian saat ia ngidam ingin menjitak kepala orang yang botak, saat itu tawa Sita yang terbahak-bahak begitu lepas dan bahagia. Berharap kali ini dia pun bisa tertawa lepas seperti itu.


Lama Dino menunggu, namun tawa itu tak kunjung hadir. Sita terlihat diam biasa saja. Dino hampir putus asa, ia pun memutuskan untuk menghampiri Sita.


Belum sampai ia melangkah menghampiri istrinya tiba-tiba Dino melihat Sita tersenyum bahagia, seketika Dino mengukir senyumnya, Dino heran apa yang membuat istrinya tersenyum, ia mengedarkan pandangan kesekelilingnya, di lihatnya pria botak lain tengah menelpon di sebrang jalan sana. 'Ini keberuntungan' bisik hatinya dengan gembira. Ia pun melanjutkan langkahnya mendekati sang istri.


"Heemmm, Sayang lihatlah kau ingat kejadian itu? Tanya Sita pada Dino dengan menunjuk pria itu, "Itu disana, lihat lah pria itu! dia mengingatkan ku pada pria yang kamu jitak kepalanya karna permintaan konyol ku. Haha ...." Sita terawa lembut mengingatnya, sejenak ia pun melupakan dukanya. Dino hanya tersenyum menatap istrinya menikmati tawa indah sang istri.


Namun disadari Dino tak merespon perkataannya Sita menghentikan tawanya dan melihat kearah sang suami, yang tengah menatapnya dengan tersenyum.


"Ini yang ku inginkan, teruslah tertawa, teruslah bahagia, sengaja aku membawamu kesini, agar dapat melihat tawamu kembali," ucap Dino tersenyum.


"Apa perlu ku panggil dia kemari?" tanya Dino menggoda,


"Tidak usah," tolak Sita. "Ayo kita pulang," ajaknya, lalu melangkah menuju parkiran.


"Tunggu!" Dino menghentikan langkah istrinya. Sita pun menghentikan langkahnya.


"Aku tidak mau pulang," ucap Dino.


"Kenapa?" Sita merasa heran.

__ADS_1


"Disini lebih nyaman, dari pada dirumah," ucapnya dengan lemah.


"Sudahlah!" Sita mengerti maksud suaminya, dan berkata, "Masalah itu untuk kita hadapi, bukan untuk kita hindari," ucap Sita dan melanjutkan langkahnya.


Deg ... Dino sedikit tertohok


'Nampaknya istri ku lebih kuat dari pada aku, dan yang ia katakan ada benarnya' pikirnya lalu mengikuti langkah sang istri.


"Ayo naik!" ucap Dino sambil menyalakan motornya.


Sita pun naik dengan sangat hati-hati, namun setelah Sita naik Dino tak juga melajukan motornya.


"Ayo maju, aku sudah naik!" ucap Sita.


"Ada yang kurang?"


"Apa?"


Dino meraih tangan Sita, dan dilingkar kannya tangan Sita dipinggangnya. "Biasakan lingkarkan tanganmu di pinggang suamimu kalau naik motor" ucap Dino saat mulai melaju.


Sepanjang perjalanan Sita dan Dino tak banyak bicara, Dino menjalankan motornya dengan sangat hati-hati dengan menggunakan satu tangan kanannya, sedangkan tangan kiri ia gunakan untuk memegang tangan sang istri agar tidak melepaskan pelukannya.


Sita pasrah saja meski luka menyelimuti hati, kewajiban seorang istri tetap harus ia jalani, selama pernikahan mereka belum di putus oleh kata cerai, maka Sita harus tetap berusaha menjalankan tugasnya meski berat.

__ADS_1


__ADS_2