Al-fatihah Pembuka Jodoh

Al-fatihah Pembuka Jodoh
Ancaman Jons


__ADS_3

"Arviiiiii! Rafkaaa!" teriak Sita kembali saat berlari.


Sontak semua orang pun terkejut dan langsung berlarian mengejar Sita.


"Ada apa, Sayang?" tanya Dino.


Sita tidak menjawab dan hanya terus berlari dan berteriak karna khawatir.


"Arviiii! Rafkaaaa!" teriaknya lagi.


Betapa terkejutnya Sita saat masuk kedalam Villa, melihat pintu kamar yang sudah terbuka, ia lebih terkejut lagi saat memasuki kamar, melihat Arvi sudah tidak ada di kereta dorongnya.


Suasana bahagia kini berganti duka.


"ARVIIII!" teriaknya dengan histeris. "Ini, tidak mungkin, ini tidak mungkin!" Sita shock Arvi tidak ada di keretanya. Sita pun menangis histeris, dengan segera Sita pun menggendong Rafka, dan berlarian ke berbagai arah mencari Arvi.


Semua orang pun tidak kalah terkejutnya dengan Sita, terutama Dino sang papa.


"Arviii! Dimana Arvi!" teriak Dino.


"Orang itu, orang itu pasti membawa Arvi?" jawab Sita di sela tangisnya. "Arviii! Sayaaang!" teriaknya saat mencari Arvi.


"Siapa orang itu, Sita?" tanya Dino sambil mencari Arvi ke berbagai arah.


"Aku tidak tau? Aku melihatnya di balik gordeng," jelas Sita sambil menangis dan memeluk Erat Rafka.


"Arviii!" Ibu, Aditya, Ipan, Ratih, dan Bi Marni pun segera berhamburan berpencar mencari Arvi.


Elena, tersenyum menyeringai, hatinya tengah bahagia melihat kepedihan Sita. Ia pun berpura-pura ikut mencari Arvi, meski di dalam hatinya masih ada tanda tanya, siapa yang menculik, Arvi?


"Arvi, dimana kamu, Sayang?" teriak ibu. "Siapa yang berani mengambil cucuku," lanjut ibu dengan menangis.


"Sabar, Bu. Ayo kita cari lagi," ajak bi Marni.


Tidak ada seorang pun yang bisa menemukan Arvi, dalam sekejap Arvi hilang entah kemana? Orang itu begitu cepat dan lihai menculik Arvi.


Sita terus histeris, begitu pun dengan Dino.


Dino pun segera melapor pada pihak keamanan Villa. pihak keamanan mengatakan sempat ada seorang laki-laki yang datang, ia mengaku keluarga penyewa Villa yang datang terlambat.


"Kenapa kalin ceroboh!?" bentak Dino pada keamanan Villa itu.


"Ma-maafkan kami tuan!" ucap petugas itu dengan gugup.


Dino tidak kuasa melihat istrinya yang terus menangis, ia pun memeluknya. Sita menangis di pelukan sang suami.


"Sayang, Arvi pasti ketemu, tidak usah khawatir!" ucap Dino menenangkan sang istri.

__ADS_1


"Hubungi polisi, Sayang," pinta Sita dengan terisak.


"Iya, Sayang!"


Belum Dino memghubungi polisi, dering ponselnya tiba-tiba berbunyi, ia mendapatkan panggilan dari nomor yang tidak dikenalnya. Dengan segera Dino mengangkat ponselnya.


"Jangan coba-coba hubungi polisi, kalau ingin anak anda tetap hidup!" Suara ancaman seorang laki-laki diujung telepon.


"Siapa kau!? Dimana anakku!?" teriak Dino yang marah pada laki-laki itu.


"Sayang, apa dia penculiknya, biar aku bicara padanya!" pinta Sita yang tidak sabar ingin mengetahui keberadaan anaknya.


Sita merebut ponsel itu dari sang suami, dan menyalakan lound Speaker.


"Dimana anakku? Dimana anakku? Kenapa kau mengambilnya? Kembalikan padaku?" tanya Sita diiringi tangis.


"Tenang Sita, anakmu akan aman jika kamu menuruti kemauanku!" ucap laki-laki itu.


"Bagaimana kau mengenaliku? Siapa kau?" tanya Sita masih terisak.


"Suruh suamimu mencabut tuntutannya terhadap Elvira, jika mau anakmu selamat, dan jangan berani-berani melibatkan polisi," ancam Jons, sang penelpon.


"Elvira!" Sita kaget dan semakin menangis terisak. "Elvira!" ulangnya disela tangisan.


"Apa? Elvira!" ucap Dino.


"Aku tunggu kabarnya besok, jika sampai besok belum ada kabar kebebasan Elvira, kau tau apa yang akan terjadi pada anakmu!" ancam Jons.


"Arviii! Apa kau benar-benar bersamanya, katakan padaku, kau tidak berbohong?" tanya Sita pada Jons.


Jons langsung mencubit Arvi dan Arvi pun mengeluarkan tangisannya.


Sontak membuat Sita semakin menangis. "Saayaang, ini mama nak," isak Sita.


"Breng*ek, Kau apakan Arvi sampai menangis!" bentak Dino.


"Tenang, sedikit cubitan tidak akan membuatnya mati, jangan lupa lakukan perintahku!" Jons langsung menutup teleponnya sepihak.


"Kurang ajar!" bentak Dino setelah sambungannya terputus.


"Hiks, hiks, hiks, hiks, Arviiiiiii. Ayo sayang, sekarang juga kita kekantor polisi! Arvi-Arvi pasti mau mimi, kasihan dia, dia kesakitan di cubit sama laki-laki itu," isak tangis Sita histeris.


Dino pun memeluk sang istri sambil menangis. "Iya Sayang, tenanglah!"


Semua ikut menangis melihat Sita dan Dino.


Bukan hanya ibu, bi Marni dan Ratih Bahkan Ipan dan Aditya merasakan kesedihan Dino dan Sita.

__ADS_1


'Heuuhh rupanya perempuan ular itu' batin Elena. 'Satu sisi aku bahagia melihat Sita menderita, sisi lain aku tidak suka perempuan ular satu itu bebas, dia pasti akan mengganggu Dino lagi' lanjut Elena membatin.


Aditya mengusap wajahnya kasar, kemudian mengepalkan tangannya dan membenturkannya ketempok, ia tidak kuasa melihat perempuan yang dicintainya menangis histeris seperti itu, walau bagaimana pun Aditya belum sepenuhnya bisa mengubur cintanya terhadap Sita.


"Ayo kita berkemas, kita pulang!" Ajak Dino pada semua.


"Sayang, tenanglah, semua pasti baik-baik saja!" ibu mengusap punggung menantunya dan kemudian memeluknya.


"Iya Non, Non tenang ya, semua pasti baik-baik saja," ucap bi Marni.


"Sit, kamu harus kuat," kata Ratih yang juga berusaha menenangkannya.


Sita mengangguk perlahan dengan linangan air mata yang terus membasahi pipinya.


Waktu menunjukan pukul 01. 15 wib. Dini hari ini pun mereka langsung pulang, di dalam mabil Rafka di gendong oleh ibu duduk di depan. Sita dan Dino duduk di tengah, Sita terus mengis dalam dekapan sang suami memikirkan Arvi. Sementara Elena yang duduk di belakang terus merasa kesal melihat pemandangan di depannya tanpa merasa iba sedikitpun.


"Sayang, Kita langsung ke kantor polisi 'kan?" tanya Sita yang sudah lemah karna terus menangis.


"Sayang, ini dini hari," kata Dino.


"Aku gak mau pulang kerumah dulu sayang, pokoknya kita langsung ke kantor polisi." Sita kekeh dengan keinginannya.


"Sayang, kita harus memikirkan masalah ini terlebih dahulu, Elvira akan mengganggu kita lagi," kata Dino.


"Apa? Untuk Arvi kamu harus berpikir, Sayang?" tanya Sita kesal.


"Bukan begitu, aku takut mereka berbuat curang, Sayang. Sepertinya kita harus tetap melibatkan polisi tanpa sepengatuan mereka," jelas Dino.


"Tidak sayang, jangan ambil resiko itu, aku tidak mau terjadi apa-apa pada Arvi," ucap Sita.


"Tenanglah! Tidak akan terjadi apapun."


Di dalam mobil Aditya.


"Apa yang harus aku lakukan untuk Sita! Aku tidak tega melihatnya menderita seperti itu," ucap Aditya.


"Kasihan dia, semoga saja tidak terjadi sesuatu pada Arvi, aku bisa merasakan bagaimana perasaannya saat ini," ucap Ratih.


"Bibi juga sedih, semoga tidak terjadi sesuatu yang tidak di inginkan pada Arvi," ucap Bi Marni.


"Aamiin," semua mengamini.


"Din, aku ada teman polisi, mungkin dia bisa membantu," kata Ipan.


"Tidak, aku mohon tolong jangan libatin polisi," pinta Sita dengan khawatir.


"Iya, Sayang tidak akan," ucap Dino, lalu melirik Ipan dan mengedipkan matanya.

__ADS_1


bersambung ...


__ADS_2