
Mobil terus melaju, waktu pun terus berlalu, tidak ada lagi perbincangan setelah itu, mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
Tiba-tiba Jons menelpon kembali.
"Hallo! Saya tunggu di belakang gedung kosong dekat bangunan xxx, kalau sampai ada polisi yang mengetahui ini, kau tau akibatnya. Bawa Elvira bersamamu, akan kuberikan Arvi padamu! Jangam macam-macam pada Elvira, berikan dia padaku tanpa cacat apapun. Satu lagi, hanya kau dan Sita yang boleh datang kesini jika ada orang lain, kau tau akibatnya," tutur Jons di ujung telepon.
Belum Dino bicara apa-apa Jons langsung memutus sepihak.
Dino terlihat geram, tiba-tiba mengepalkan tangannya.
"Apa kah itu dia?" tanya Sita dengan berlinang air mata, pada sang suami yang baru saja mengangkat telepon.
Dino tertegun sejenak.
"Sayang, apa katanya?" Sita yang masih berada dalam dekapan sang suami merasa penasaran.
"Iya. Dia menungguku di belakang gedung kosong dekat bangunan xxx," jelas Dino dengan melirik sang istri, kemudian mengedarkan pandangannya keluar jendela mobil.
Sita sudah nampak lemas, ia tidak berhenti menangis sepanjang perjalanan.
Jalan masih nampak sepi, Sita terus memandangi jam tangan yang melingkar dipergelangan tangannya.
"Kenapa lama sekali, Sayang? Apakah perjalanan menuju kantor polisi begitu jauh?" tanya Sita yang sudah tidak sabar.
"Tenanglah, kita harus mencari mesjid untuk shalat subuh terlebih dahulu sebentar lagi waktu subuh tiba." Dino berusaha menenangkan istrinya, dengan terus mengusap lembut kepalanya.
"Arvi, dia pasti sudah kehausan, apa yang akan diberikan laki-laki itu pada anakku?Kasihan sekali Arvi." Sita menangis kembali membayangkan Arvi yang belum diberikan asi olehnya.
"Aku tidak akan mengampuni mereka jika sampai terjadi sesuatu pada Arvi, awas saja, Elvira," geram Dino.
Tidak terasa waktu subuh pun tiba, mereka pun langsung menunaikan ibadah shalat subuh di mesjid yang mereka temui di jalan.
Setelahnya mereka langsung menuju kantor polisi tempat dimana Elvira di tahan.
Jalanan pun mulai ramai, hilir mudik kendaraan pribadi dan angkutan umun silih berganti, sehingga membuat jalana menjadi macet.
Setelah sampai di kantor polisi mereka pun segera mencabut tuntutan atas nama Elvira dan Jons.
Pihak kepolisian pun langsung mengeluarkan Elvira dari sel, dan membawanya kehadapan Dino dan Sita.
Dino dan Sita ingin sekali marah saat melihat Elvira, namun demi keamanan Arvi dia harus berpura-pura manis pada Elvira di depan polisi, dan menahan semua amarahnya.
Ibu dan yang lainnya sudah pindah ke mobil Aditya. Sementara Ipan masih stay di mobilnya.
Begitu Dino datang bersama Elvira, Elvira terkejut melihat Ipan.
"Siapa dia? Kenapa ada dia?" tanya Elvira kepada Dino dan Sita.
"Dia yang mengemudikan mobil ini," jawab Dino
__ADS_1
"Tidak bisa! Tidak boleh ada orang lain diatara kalian," kata Elvira.
"Elvira! Masuk, atau--"
"Atau Arvimu akan mati," pangkas Elvira, menatap tajam Dino.
Sita terhenyak, dan panik. "Sayang!" panggilnya pada sang suami.
Ipan pun paham apa yang diinginkan Elvira, akhirnya Ipan pun turun.
"Oke, aku turun!" ucap Ipan.
Akhirnya kemudi diambil alih oleh Dino, mobil pun melaju dengan sangat cepat.
Setelah jauh dari kantor polisi Sita pun angkat bicara meluapkan kemarahan yang sedari tadi ditahannya.
"Siapa sebenarnya kamu Elvira! Kenapa kamu ingin menghancurkan hidupku!" tanya Sita dengan marah.
Elvira tersenyum sinis.
"Heumm ... kau ingin tau siapa aku? Aku gadis yang ditinggal pergi oleh kakaknya demi seorang wanita." Elvira tiba-tiba menangis mengatakan itu.
"Aku tidak mengerti Elvira! Kau selalu mengatakan itu di setiap ceritamu! Katakan dengan jelas!" bentak Sita sambil menangis.
"Dia pergi demi mengejar cintanya! Dia melupakan aku sebagai adiknya! Dia meninggalkanku demi perempuan itu! Dan Aku benci perempuan itu!" ucapnya penuh penekanan.
"Aku tidak peduli ceritamua itu, Elvira! Aku tidak tau siapa perempuan itu!" bentak Sita dengan marah.
Sontak Sita terkejut dan melihat ke belakang.
"A-aku!" Sita tidak percaya.
"YA, KAU! Aku benci padamu!" bentak Elvira.
"APA MAKSUDMU!?" Sita balik membentak.
"DARWIN! Kau mengingat kakakku Darwin!?"
Seketika Dino pun menginjak rem mobilnya.
"Darwin!" Sita dan Dino berbarengan mengulang nama itu.
"Kau adiknya Darwin? Vira?" tebak Sita.
"Ya, Vira! Bukankah kakakku sering menceritakan Vira padmu? Aku Vira! Aku Vira yang terluka, karna kakakku meninggalkanku demi dirimu. Dia mengejar cintamu di hari pernikahanmu dengan laki-laki ini." Elvira menunjuk Dino dengan tatapan kebencian.
"Kepergiannya mengukir luka dihatiku, hingga aku benci padamu. Aku ingin menghancurkan hidupmu dengan memisahkanmu dari suamimu. Aku ingin kamu merasakan apa yang kurasakan, Sita! Aku benci padamu! Aku benci padamu!" ucap Elvira tiba-tiba histeris.
Sita shock mendengarnya, air mata mengalir begitu saja di pipinya, dia hanya menatap dan mendengarkan Elvira dengan perasaan tidak percaya.
__ADS_1
Dino tidak kuasa melihat istrinya.
"Stop, Elvira! Hentikan kisahmu itu! Apa pun alasnmu, itu tidak masuk akal!" bentak Dino pada Elvira.
"Kenapa tidak masuk akal?! bentak Elvira.
"Wanita ini penyebab kematian kakakku, aku berhak membencinya!" lanjut Elvira.
"Darwin sudah tiada?" ucap Sita seolah tidak percaya.
Dino melirik sang istri.
"Kematian itu ketentuan Allah Elvira! Sita bukan penyebab kematian kakakmu, dia mati karna kesalahannya sendiri dan itu sudah takdir," jelas Dino.
"Ini salahnya dia!" Elvira terus menuduh Sita.
"Ini bukan salahnya!" kekeh Dino.
"Berhenti!" bentak Sita.
Seketika Dino dan Elvira pun terdiam.
"Elvira, aku tidak percaya ini, kenapa kamu menyalahkanku atas kematian kakakmu. Kau perempuan yang manis, dan baik hati, itu yang selau dikatakan kakakmu padaku, kenapa kamu seperti ini?" ucap Sita dengan menangis.
"Aku hidup sendiri, aku prustasi, tidak ada lagi yang memperhatikanku selain kakakku, aku kehilangan semuanya setelah dia tiada," jelas Elvira.
"Kamu bisa datang padaku baik-baik, kita bisa jadi keluarga, Elvira," balas Sita.
"Jangan Sok baik Sita, aku benci padamu!"
Sita semakin sedih mengetahui kenyataan ini, ternyata penyebab penderitaannya selama ini adalah adik dari mantan kekasihnya.
Dino melajukan kembali Mobilnya berharap segera sampai di tempat yang ditentukan Jons.
Beberapa menit kemudian mereka pun sampai di tempat yang ditentukan.
Suasana terlihat sangat sepi, bangunan kosong itu sudah bertahun-tahun tidak digunakan. Dino dan Sita mencari Jons, namun, tidak ditemukan. Tidak lama kemudian dering ponsel pun berbunyi, dengan segera Dino mengangkatnya.
"Kita bertemu di halaman belakang bangunan ini!" kata Jons di ujung teleponnya.
"Baiklah! aku akan segera kesana?" kata Dino.
"Ayo, Sayang. kita kebelakang!" lanjutnya.
Dino pun berjalan diikuti Sita dan Elvira di belakangnya. Begitu sampai di halaman belakang rumah itu Sita langsung menangis melihat Arvi yang ada di pangkuan laki-laki itu.
"Arvi sayyaangg ...!" Spontan Sita berlari ingin menghapiri.
Namun, Jons mengangkat satu tangannya, "Tunggu disitu!"
__ADS_1
bersambung ....