Al-fatihah Pembuka Jodoh

Al-fatihah Pembuka Jodoh
Nasihat Abah


__ADS_3

Muadzin menyerahkan mix pada Dino. Dilengkingkannya adzan yang merdu dan indah, terdengar menggema di seluruh penjuru rumah sakit, hingga terdengar sampai jarak yang mampu di tembus suara itu, membuat siapapun yang mendengarnya penasaran ingin tahu siapa pemilik suara ini.


Suara Dino yang indah dan merdu dalam melantunkan ayat-ayat suci Alqur'an, memang mampu menggetarkan siapapun. Termasuk Sita yang bergetar sampain kerelung hati yang terdalam hingga menyisipkan Cinta di dalamnya.


Di dalam ruang pasien sang istri tengah memejamkan mata menikmati lantunan adzan dari suara yang ia kenal, suara yang memberinya kebahagian dan tenangan.


"Siapa yang adzan di mesjid ini, lantunan suara yang sangat indah?" tanya Abah yang melihat anaknya memejamkan mata menikmati suara itu.


Sitapun membuka matanya dan tersenyum


"Dia menantu Abah," tutur Sita lembut.


"Menantu Abah!?"


"Iya, menantu Abah. Sita sangat mengenal suaranya."


"Menantu abah itu ada tiga loh, Nak, siapa diantara mereka?"


Heemmmm Sita kembali tersenyum


"Kedua kakak Sita dan para suaminya sudah pulang loh, Bah," ucap Sita.


"Dino! Jadi Dino yang Adzan, Nak. Luar biasa, Abah tidak menyangka suaranya sebagus ini, pantas kamu menikmatinya."


"Ternyata ucapan kak Fitri waktu itu benar ya, rupanya kamu terkesima sama Dino saat dia menjadi iman shalat subuh waktu itu kan?" goda Abah.


"Apaan sih, Bah, Abah kok menggoda putrinya sih," ucap Sita nampak malu-malu.


"Hahaha ... Abah suka sama pipimu, yang mendadak merah merona."


Sita pun tersipu malu.


Semua itu mengingatkan Sita dimasa-masa indah itu, dimana getaran hadir membawa harapan, hingga seiring berjalannya waktu menghadirkan cinta yang tulus untuknya.

__ADS_1


Huuuuhhh ... Sita membuang nafas kasar.


Ingin rasanya beban yang ada di benaknya saat ini ia lempar begitu saja, namun otak dan hati tak searah memilih jalan.


Abah memegang pundak putrinya seraya berkata, "Sabar, Nak," meski Abah tidak tau masalah apa yang sedang putrinya hadapi, namun setiap raut wajah putrinya mampu ia kenali, manakala ia sedih, susah, dan senang, bahkan saat putrinya menyimpan beban sekalipun.


Sita mengangguk dengan bibir yang dihiasai senyuman indah. Walau senyum itu hampir tenggelam dalam duka, ia selalu mengukirnya demi melihat sang ayah bahagia.


"Abah kemesjid dulu, sayang."


"Iya, Bah," ucapnya diiringi anggukan.


Abah melangkah dengan perlahan, kekuatan yang termakan usia terus melemah seiring berjalan waktu.


Hanya ada beberapa orang yang sedang shalat disana, salah satunya adalah menantunya sendiri, mereka hampir selasai di akhir salam. Abah terlambat berjamaah karna langkahnya yang lamban, andai bisa lebih cepat sedikit mungkin masih bisa mengikuti di rakaat kedua. Akhirnya abah pun melakukan Shalat munfarid.


Selesai shalat Dino menumpahkan segala keluh kesahnya pada Yang Maha Kuasa.


'Rahasia apa yang kau simpan dalam hidupku ya Rob, sungguh hati di buat pilu olehnya. Kejadian demi kejadian terus menimpa di atas kebahagiaan yang kami rasakan, ingin rasanya mencela, atas duka yang kurasa, namun aku sadar itu adalah sebuah dosa, apalah daya takdir pun lebih berkuasa. Engkau titipkan cinta yang begitu teramat dalam di jiwaku hanya untuk istriku, namun kenapa engkau goreskan luka di hatinya yang teramat dalam, aku tak pernah ingin senyumnya tenggelam dalam duka, aku ingin selalu melihat senyum bahagia di wajahnya, aku ingin merangkai kebahagiaan seutuhnya hingga akhir menutup mata. Kini jiwa yang membutuhkan Cinta nampak di buat hancur oleh duka. Aku mohon pada mu Ya Rob, kembalikan senyum indah di wajahnya, berilah selalu ia kebahagiaan hancurkanlah setiap keraguan dalam benaknya, beri cinta kami keajaiban." Isak tangis do'a Dino.


Dino masih terus bersimpuh doa dengan khusu, hingga kehadiran Abah tidak ia sadari.


Kini Abah semakin yakin putrinya dan Dino sedang di rundung masalah. Sebagai orang tua tentu ia merasa sedih, dari do'a yang Dino panjatkan Abah tau putrinya mengalami luka yang teramat dalam. Rasa ingin tau bukan maksud ingin mencampuri, namun orang tua mana yang rela anaknya tersakiti. Abah pun meneteskan air mata.


Namun Abah tetap yakin keputusan putrinya yang ingin menutupi luka darinya mungkin yang terbaik, Abah pun tidak ingin terus berlarut, dia pun berdoa untuk kebaikan purtinya, menyerahkan semuanya pada Yang Maha Kuasa.


Dibalik itu, Abah pun yakin pada Dino yang begitu mencintai putrinya, do'a yang ia panjatkan dengan tulus terasa begitu dalam. Abah pun yakin masalah ini hanya sebuah kesalah pahaman dalam ujian cinta suci mereka. Abah berdoa agar masalah mereka cepat selasai.


Dada hampir terasa sesak, namun Abah tak ingin mengungkit, Abah pun bangkit, dan melangkah keluar dari mesjid, membawa sebuah jawaban pahit dalam rumah tangga putri bungsunya.


"Abah, sudah kembali. apa Abah melihat Dino?" tanya Sita saat melihat Abah membuka pintu melangkah masuk keruangannya.


"Suamimu masih berdo'a di mesjid, Abah mendengar semua do'anya? " jawab Abah, lalu menggeser kursi dan duduk.

__ADS_1


"Apa yang Abah dengar?" Seketika Sita panik, khawatir abah mendengar inti pokok masalahnya.


"Dia sangat mencintaimu."


"Lalu ...." Sita penasaran.


"Lalu Abah tau kalau kalian sedang punya masalah."


"Apa Abah tau masalahnya, Apa Abah mendengar semuanya? Sita semakin cemas dibuatnya.


"Heemm ... Kamu gak usah cemas seperti itu, Abah langsung bangkit dari mesjid sebelum Dino melanjutkan do'anya."


Hhuuuhhh ... Sita membuang nafas lega.


"Heemmm ... Abah tau kamu tidak ingin membuat Abah lebih khawarir lagi kan? Untuk itu Abah segera pergi sebelum Dino melanjutkan do'anya."


"Heemmm ... Maafkan Sita, Bah, Biarlah Sita menyelesaikan masalah Sita sendiri tanpa membebani Abah, Abah sudah cukup memikul beban saat Sita masih kecil, hingga Akad pernikahan, Saata ini Sita hanya ingin melihat Senyum di wajah Abah meski tau putrinya sedang mengalami masalah. Tugas Abah hanya satu, berdo'a," ucap Sita di iringin tetesan air mata.


Air mata Abah pun tak terasa menetes begitu saja. Sita segera mengusap air mata Abah, dan menggelengkan kepalanya. Memberi kode agas abah tidak menangis.


"Dengarkan Abah, Nak, Surgamu sekarang ada pada suamimu, apa pun yang terjadi berusahalah bersikap baik pada suamimu. Menjalankan rumah tangga itu tidak mudah, jadi hati-hatilah dalam melangkah, selalu ambil keputusan setelah tenang, jangan saat diliputi amarah."


Sita mengangguk pelan.


"Apa alm umi selalu besikap baik pada Abah, jika beliu sedang marah?" tanya Sita penasaran.


"Tentu saja, umi mu adalah wanita yang salehah, meski masalah berat sekali pun, dia selalu berusaha mengukir senyum untuk Abah, walau terlihat jelas senyumnya berat dan terpaksa. Namun, Abah juga tau di dalam doanya ada tangis pengaduan pada sang ilahi. Disana Abah tau, baktinya terhadap Abah semata-mata karna Alloh. Jika kita menjalankan semuanya karna Alloh, masalah seberat apapun insya Allah akan terasa ringan."


"Satu lagi pesan Abah, jangan mudah menyimpulkan sesatu, karna apa yang kamu lihat saat itu belum tentu yang sebenarnya terjadi."


Deg ... Nasihat terakhir Abah ini berhasil menohok Sita. Tiba-tiba mata Sita pun berkaca kembali.


Sita termenung, sejenak ia berpikir 'Apa yang kulihat pagi itu bukan yang sebenarnya terjadi Ya Alloh' batinnya.

__ADS_1


Bersambung ....


Readers yang tercinta like dong biar Author terus semangat ....❤❤❤


__ADS_2