
Setelah pulang dari Rumah Elvira, Terlihat Sita sedang berdiri di depan jendela kamarnya, memandang langit berbintang dengan tatapan yang kosong, nampak sedang memikirkan sesuatu.
Tiba- tiba Dino datang, dan memeluknya dari belakang, "Sayang, apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Dino setengah berbisik di telinga Sita.
"Dirimu," jawabnya singkat.
"Aku! apa kau merindukanku, sayang?" Dino pun meng-ecup punggung Sita meski terhalang oleh kerudung.
"Tentu saja. Tapi bukan itu yang kupikirkan."
"Lalu apa yang kamu pikirkan, sayang,"
"Perasaanku dan juga perasaanmu,"
"Apa maksudmu?" Dino pun melepaskan pelukannya dan membalikan badan Sita agar menghadap padanya. Dino pun menatap Sita.
Tiba-tiba Sita meneteskan air mata.
"Kenapa menangis?" Di usapnya air mata di pipi sang istri. Sita pun memejamkan mata dan dipegangnya tangan sang suami.
"Hati ini masih sangat rapuh, aku ingin sekali menepis rasa cemburuku, saat melihatmu dekat dengan Elvira, namun apalah daya aku tak mampu. Entah kapan Elvira sembuh, tanggung jawabmu padanya masih panjang, aku takut sekali kehilanganmu. Aku khawatir jika kamu terus dekat dengannya nanti kamu..."
"Stop jangan lanjutkan Sita," ucap Dino menghentikan Sita bicara, dengan menempelkan jari telunjuknya di bibir Sita. Merekapun saling tatap dengan mata yang berkaca. Dino mengerti kekhawatiran Sita. Lalu mereka pun saling berpelukan Erat.
"Apa yang kau pikirkan, sayang? Itu tidak akan pernah terjadi, aku tidak akan pernah meninggalkanmu, aku sangat mencintaimu. Apa kau tidak percaya padaku, kenapa kau masih meragukan cintaku?" Dino pun menjauhkan Sita dari pelukannya, dia memegang kedua pundak sang isrti dan menatapnya, "Katak padaku!"
"Aku percaya padamu, tapi aku tidak percaya pada hatiku sendiri, sampai kapan aku kuat menyaksikan ini, hati ini masih begitu rapuh,"
Dino pun kembali memeluk Sita, dan bekata, "Tidak sayang, hilangkanlah semua rasa takutmu itu, aku mohon kuatkan hatimu, sebentar lagi Elvira akan sembuh, apa yang mengganggu pikiranmu akan berakhir. Aku mohon jangan pernah bicara seperti itu lagi, aku mohon! Kau pemilik hatiku seutuhnya, dan untuk selamanya. Kau harus ingat itu!"
Sita semakin menangis terisak. Dalam pelukan hangat sang suami.
Dino menjauhkan kembali tubuh Sita dan memegang kedua pipinya, " Tatap, mataku Sita!"
Sita pun menatap mata indah sang suami.
"Apa yang kau lihat? Apa kau tidak melihat Cintaku yang begitu dalam padamu, apa kau tidak melihat ketulusan dimataku, katakan padaku, Apa yang kau lihat?"
Tentu saja ketulusan cinta Dino yang Sita lihat dimatanya, mata yang begitu indah, dipenuhi cinta yang begitu dalam.
Sita pun terus menangis dan kembali memeluk sang suami. "Tolong maafkan aku, aku mohon maafkan aku, aku tidak bermaksud meragukanmu, tapi aku wanita biasa yang bisa cemburu melihat suaminya dekat dengan perempuan lain. Meski itu tanggung jawabmu."
Mereka pun berpelukan cukup lama, hingga Sita merasa lebih tenang, dan merekapun menyudahinya dengan saling melempar senyum. Dino pun mengusap lembut air mata yang masih tersisa di pipi Sita.
"Ayo, sayang!" Dino menarik Sita dan mengambil tasnya, lalu dipakaikannya tas itu pada Sita.
"Ayo kemana sayang?" tanya Sita.
__ADS_1
"Kamu butuh represing, kita jalan-jalan,"
"Tapi ini sudah malam,"
"Tidak apa-apa, baru jam 08.00 Wib. jam segini masih ada Mall yang buka."
"Kita mau ke Mall?" tanya Sita.
"kamu boleh belanja sepuasmu," tutur Dino.
Mereka pun berpamitan pada Ibu.
"Hati-hati dijalan!" ucap Ibu.
"Baik Bu, Assalamualaikum," ucapan salam Sita dan Dino.
"Waalaikum salam."
Dino pun menyalakan motornya dan melaju. "Pegangan yang Erat, sayang!" Pintanya.
Sita pun langsung melingkarkan tangannya di badan Dino. Sita pun menyenderkan kepalanya kepunggung sang suami.
Tiba hanphone Sita berdering, iapun langsung memeriksanya, dan ternyata Abah meneleponnya.
"Abah!" nama yang tertera di panggilan.
"Wa'alikumussalam Warahmatullohi Wabarakatuh," jawab Abah.
"Bagaimana kabar abah?"
"Alhamdulilah... Abah sehat, Nak. Kamu sendiri bagaimana kabarnya?"
"Alhamdulilah... Sita juga baik, Bah,"
"Kalau libur kerja kunjungi Abahmu ini, Abah sudah rindu padamu!"
"Masya Alloh... Abah, Sita juga merindukan Abah. Sebenarnya kami sudah merencanakan untuk mengunjungi Abah, hanya saja terjadi kecelakaan sama Dino, jadi rencana kami mengunjungi Abah tertunda. Maafkan Sita Abah!" ucap Sita dengan rasa bersalah.
"Astagfirulloh, Nak. Apa yang terjadi pada Dino? Kenapa tidak mengabari Abah?"
"Alhamdulilah Dino baik baik saja, Bah. Hanya saja korban kakinya patah, untuk itu kami yang bertanghung jawab merawatnya karnema kebetulan dia sudah tidak punya keluarga."
"Syukurlah, kalau Dino baik-baik saja. Tapi Abah kecewa sama kalian, gak kamu, gak Kakakmu Firti, kalian sama saja, ada kejadian tidak pernah kasih tahu Abah. Abah pun tidak tahu mengenai kecelakaan Kakak iparmu Hermawan, kalian memberitahu Abah setelah semua selesai," suara abah sedikit kesal.
"Abah, kami hanya tidak ingin Abah kepikiran, demi kesehatan Abah," ucap Sita tetap perlahan.
"Setidaknya, Abah bisa mendo'akan kalian, meski Abah tidak bisa datang,"
__ADS_1
"Baiklah Abah, Sita mohon maafkan Sita, Bah!"
"Ya sudah, tentu saja Abah memaafkan kalian, semoga kalian anak-anak Abah selalu dilindungoli Allah SWT."
"Aamiin"
Kemudian merekapun menyudahi pembicaraan di telepon.
"Kasihan Abah, dia sangat merindukanmu," kata Dino.
"Iya, Abah juga kecewa padaku dan kak Fitri, Kak Fitri pun baru memberitahunya setelah Kak Hermawan keluar dari Rumah sakit,"
"Oh ya, bagaimana keadaan kak Hermawan sekarang?"
"Kak Fitri sempat menelpon. Sejak kecelakaan itu, Kak Fitri belum mengijinkan Kak Hermawan mengambil proyek di luar pulau, dia hanya mengambil proyek di sekitaran Bandung Saja,"
"Ya, lebih baik begitu, karna pasti Kak Fitri begitu Khawatir."
"Ya, dia Sangat menghawatirkan Kak Hermawan, Apalagi sekarang mereka sedang merencana kan program kehamilan, setelah dua tahun yang lalu Kak Fitri keguguran."
"Oh ya sayang bagaimana kalau kita kerumah Abah malam ini," saran Dino.
"APA! Malam ini! Ini sudah larut sayang. Kita akan kemalaman, lagian kamu besok harus kerja?"
"Tidak Apa-apa, aku bisa menunda pekerjaanku. Kamu juga bisa minta izin lagi sama Pak Bimo, dan masalh kemalaman sih sudah pasti kemalaman, tapi kita bisa istirahat di penginapan."
"Tapi, aku tidak Enak minta ijin terus sama
Pak Bimo,"
"Tidak apa-apalah demi Abah, kita buat kejutan untuknya,"
"Kamu benar sekali sayang, Ini kejutan. Berarti kita harus kembali kerumah membawa pakayan ganti,"
"Untuk apa? Kita kan mau ke Mall membeli baju, kita pakai saja baju itu,"
"Lalu Ibu dan Elvira bagaimana?"
"ElVira kan ada Ibu, lagian sekarang Elvira sudah mulai bisa berjalan dengan tongkat nya kan, jadi Ibu juga tidak akan kewalahan."
"Ya sudah, aku jadi tidak sabar melihat Expresi bahagia Abah."
"Aku juga seneng, malam ini aku akan bermalam di penginapan bersama istriku, anggap saja kita lagi bulan madu,"
Sita pun ikut tersenyum bahagia.
Jangan lupa tekan like, favoritnya biar Author makin semangat.
__ADS_1