Al-fatihah Pembuka Jodoh

Al-fatihah Pembuka Jodoh
Surat


__ADS_3

Sejenak Wati menghentikan langkahnya, lalu ia pun melaju kembali.


Ratih kecewa karena tidak mendapatkan jawaban dari Wati.


Selang beberapa menit Bimo datang menghampiri Ratih. Ia segera mengunci pintu kamarnya.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Bimo yang sudah duduk di sebelah Ratih.


"Kabar buruk," jawab Ratih ketus.


Bimo mengerutkan keningnya.


"Maksudmu, aku tidak mengerti."


"Heuhh ... seseorang telah melempar batu tepat di wajahku," jelas Ratih.


"Aku bertanya serius, Sayang," tanya Bimobtanpa rasa bersalah.


"Jawaban ku juga serius, apa kau lihat aku sedang bercanda?"


"Sayang!"


"Sudah kubilang berhenti memanggilku, Sayang?" bentak Ratih dengan berkaca-kaca.


"Ratih, kamu tidak mengerti perasaanku?"


"Aku tidak peduli dengan perasaanmu, Kau sudah menghancurkan hidupku, Bimo!"


"Panggil aku, Mas Bimo. Seperti biasanya!"


"Aku tidak sudi memanggilmu, Mas. Sebutan itu terlalu hormat untukmu."


"Aku suamimu, kamu harus menghormatiku!"


"Kau tidak pantas untuk dihormati, Bimo."


"Berhenti Ratih, kau tidak mengerti apa-apa!"


"Aku cukup mengerti! Dirimu memanfaatkanku, kau mempermainkan perasaanku."


"Itu tidak benar," elaknya


"Itu kenyataannya, bahkan sekarang aku bagai tawanan untukmu," ucap Ratih dengan sendu.


"Aku melakukan ini karna takut kamu pergi lagi meninggalkanku."


"Itu benar sekali, kau takut aku pergi karna menginginkan bayi ini bukan!"


"Tentu saja aku menginginkannya, aku ayahnya."


"Tapi aku ibunya! Kau tidak berhak memisahkan ku darinya!" bentak Ratih berderai airmata.


Bimo berusaha mengusap air mata Ratih, namun Ratih menepisnya.


"Sudahlah Ratih, aku mau ke kantor, kau istirahat saja." Bimo mengalihkan pembicaraannya setelah Ratih mengarahkan pembicaraan pada intinya.

__ADS_1


Bimo pun pergi meninggalkan Ratih yang masih berderai air mata, dan berjalan menuju arah kamar Siska.


"Sayang, kau dimana? Aku mau berangkat kerja?" panggil Bimo saat tidak mendapati Siska di kamar.


Terdengar guyuran air shower mengalir bagai gemercik hujan di kamar mandi.


"Sayang, kau didalam?" tanyanya.


Siska yang sedang asyik mandi tidak mendengar panggilan Bimo, karna berisiknya guyuran air shower.


Bimo mengeraskan suaranya, "Sayang, kau mendengarku? Panggilnya lagi.


Siska terdiam sejenak, saat terdengar sayup suara Bimo memanggil, namun ia mengabaikannya dengan segaja.


Bimo yang mulai kesal mendorong pintunya sekuat tenaga, yang ternyata pintunya tidak terkunci, sehingga membuat Bimo terhuyung ke arah Siska yang berdiri tanpa sehelai benang pun.


"Sayang!" kata Siska. "Apa yang kamu lakukan?"


"Kau!" Bimo memandang Siska dari ujung rambut hingga ujung kaki, seketika menelan salivanya, namun kemudian ia membalikan badannya karna tak mau terlena oleh Siska, tapi Siska dengan cepat menutup pintunya, dan menggoda Bimo.


"Siska, aku harus kerja?"


"Sebentar saja, aku merindukanmu," Seketika Siska menempelkan bibirmya di bibir Bimo. Laki-laki mana yang tahan sama godaan perempuan seperti Siska, tentu saja Bimo tak mampu menolaknya.


"Kau sudah membuang waktuku Siska," ucap Bimo setelah puas.


Siska pun hanya tersenyum. "Tetapi kau menikmatinya, Sayang. Tidak perlu marah-marah!"


Bimo mengabaikan ucapan Siska, karena apa yang diucapkan Siska memang benar.


Bimo pun mandi kembali, dan segera mengganti pakaiannya.


"Kau jangan khawatir, biar aku yang biacara pada papa, papa pasti tidak akan marah padamu," tutur Siska.


Heuhh ... Bimo tersenyum menyeringai. Lalu pergi setelah selasai berpakaian.


Selepas Bimo pergi. "Heemmm ... Bimo sayang, aku akan terus menggodamu, aku tidak mau kamu berpaling dariku, tidak kusangka Ratih sangat cantik, dan seksi," gumamnya.


Melihat tuan besar dan tuan mudanya telah pergi ke kantor, Wati bergegas merapikan sampah, dan berjalan keluar menuju tempat pembuangan sampah yang terletak di luar gerbang rumah di pinggir jalan.


Dituangkannya samapah yang ia bawa, pada bak sampah yang tersedia, saat terlihat sebuah mobil melaju, seketika ia melempar sesuatu pada mobil itu, tepat sekali ke arah kaca jendela mobil yang terbuka, hingga mengenai tangan sang pengendara.


"AWW ... SIAL." Hampir saja Aditya oleng jika tidak sigap menginjak pedal Rem.


Aditya melihat kearah Wati.


Sementara Wati langsung pergi begitu saja tanpa rasa bersalah atau pun meminta maaf.


"Heyyy!" panggil Aditya yang tak di hiraukan Wati.


"Dasar asisten rumah tangga tak berguna, jelas- jelas tong sampah di depan matanya, dia malah melempar kesini," umpat Aditya yang kesal pada Wati, yang sudah masuk kembali kedalam bangunan besar dan mewah di hadapannya.


"Apa ini?" Aditya memperhatikan sesuatu yang di lempar Wati padanya. Sebuah kertas penuh dengan tulisan yang diikatkan pada batu. Untung saja batu itu hanya mengenai tangan Aditya.


Aditya mengerutkan keningnya meras aneh.

__ADS_1


Kemudian dia membukanya perlahan.


"Perkenalkan nama saya Wati, maaf sudah mengganggu perjalanan anda, semoga batu ini tidak melukai Anda, saya asisten rumah tangga di rumah ini. Tolong nona saya, dia sedang disekap oleh suaminya, saya bukan siapa-siapanya, saya hanya peduli padanya, tolonglah dia tuan semoga anda masih memiliki nurani kemanusiaan.


Satu jam lagi rumah ini sepi hanya ada saya dan dua bodyguard yang menjaga di depan kamar nona, mereka akan saya urus, tugas tuan hanya membawa nona pergi dari rumah ini. Saya mohon tuan, Terimakasih.


Isi surat yang tertulis di kertas itu.


"Penyekapan suami terhadap istrinya, lelucon apa ini?" Aditya pun melemparkan kertas itu begitu saja ke jok penumpang sebelahnya.


Aditya tidak memmperdulikannya, tapi entah kenapa sepanjang perjalanan Aditya memikirkannya


Dan tiba-tiba menghentikan kembali mobilnya.


"Bagaimana jika ini bukan lelucon?" pikirnya. Lalu ia tertegun, kemudian melipat satu tangannya di perut dan satu tangannya memegang dagu, "Apa mungkin ini akal-akalan asisten itu?" lanjutnya.


Tiba-tiba Aditya bergidik membayangkan sang asisten rumah tangga yang mesum, memanfaatkan keadaan yang sepi dan memerangkapnya. "Hhiiiihhhh."


Aditya pun melajukan kembali kendaraannya, hingga sampai kerumah.


"Tuan kenapa kembali lagi? Tuan tidak ke cafe?" tanya Bi Marni saat melihat Aditya keluar dari mobilnya.


"Tidak jadi Bi, saya ada urusan lain," jelas Aditya lalu melangkah masuk rumah.


'Ya Allah, tas ketinggalan di mobil lagi," gumamnya.


"Bibi, bisa tolong ambilkan tas saya di mobil!" pinta Aditya dengan sopan.


"Baik Pak, Bibi Ambilkan." Bi Marni pun melangkah menuju mobil. Dibukanya pintu mobil, dan diambilnya tas itu, namun sebelum Bi Marni menutup pintu, Bi Marni melihat kertas itu, "Kertas apa ini?" tanyanya. Dengan insting kekepoannya Bi Marni pun membuka kertas itu dan membaca seluruh isinya.


"Astagfirullohhaladzim, PAKKK." Bi Marni segera berjalan cepat dengan terpogoh-pogoh.


"PAAK!" panggilnya dengan berteriak.


"Ada apa, Bi? Kenapa teriak-teriak?"


"Ini, kapan bapak dapat surat ini?" tanya Bi Marni dengan napas yang tersenggal-senggal.


"Kirain apa, Bi? Sampai ngos-ngosan gitu," jawabnya santai. Lalu duduk di kursi.


"E,e, Pak, perempuan itu dalam bahaya loh, apa bapak sudah menolongnya?" tanyanya penasaran.


"Belum. Saya yakin itu hanya jebakan asisten rumah tangga itu."


"Pak Aditya, diamana hati nurani bapak, bagaimana kalo itu benar? Apa sejak jatuh cinta pada non Sita hati nurani bapak telah mati?"


"Husss ... jangan ngawur kalo ngomong, Bi?"


Namun, kemudian Pak Aditya pun memikirkan apa yang dikatakan Bi Marni.


"Bibi, benar. Bagaimana kalau itu benar?"


"Heumm," Bi Marni menganggukan kepalanya.


Aditya pun segera melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. "Setengah jam. Aku harus segera kesana dalam waktu setengah jam?"

__ADS_1


"Pergilah!" kata Bi Marni.


Bersambung ....


__ADS_2