Al-fatihah Pembuka Jodoh

Al-fatihah Pembuka Jodoh
Candu Perhatian.


__ADS_3

Tak lama Adzan subuh berkumdang, untung saja Dino sudah selesai mencuci pakaiannya. Dino pun langsung mandi, dan bergegas pergi kemesjid.


Ibu pun terbangun tat kala ia mendengar lantunan adzan berkumandang, dengan segera ia mengambil air wudu dan menjalankan Shalat subuh.


Harum masakan beraroma lezat, menyambut kepulangan Dino dari mesjid, membuat perut Dino keroncongan seketika.


Menu sarapan sudah tertata rapi dimeja makan. Tentu saja secepat kilat Sita menyiapkannya, karna menu yang dihidangkan adalah menu andalan pagi sejuta umat. Nasi goreng plus telor ceplok.


"Emmm ... Wanginya lezat sekali," puji Dino.


Sudah lama sekali sejak kepergian Sita. Dino merindukan maskan sang istri, ini kali pertama Sita memasak lagi setelah ia kembali. Dino tidak henti memuji masakan sang istri. Apapun itu yang dimasak, tidak pernah membuat Dino bosan memakannya. Tidak dapat dipungkiri nasi goreng buatan sang istri adalah nasi goreng terlezat yang selama ini ia nikmati.


Ibu pun masih sama mengagumi masakan Sita yang sederhana. Namun, mampu menggoyangkan lidah siapa saja yang menikmatinya.


"Alhamdulilah, nikmat sekali," ucap Ibu setelah selesai sarapan.


"Iya, lezat sekali, Bu," kata Dino.


"Alhamdulilah, kalau Ibu dan suamiku suka," ucap Sita.


"Iya dong, aku kangen banget sama masakan kamu," kata Dino.


"Oh ya, Din, katanya kita mau jalan-jalan bareng. Kapan? Ibu pengen hilling," kata Ibu.


Sita tersenyum.


"Dengerin tuh mau Ibu!"


"Emang kamu gak mau, sayang?" tanya Dino.


"Ya, mau dong, sayang. Siapa yang gak mau diajak jalan-jalan."


Ibu tertawa.


"Kirain gak mau!" kata Dino.


Ibu langsung teringat Aditya, dan Bi Marni.


"Oh ya, cepet hubungi Aditya! Siapa tau dia lagi gak sibuk," kata ibu.


"Ibu. Nanti saja! Dino sudah berencana, kok! Tetapi nanti sudah Sita bener-bener pulih. Ibu 'kan tau kalau habis melahirkan itu luarnya terlihat sehat, tapi dalamnya masih luka," tutur Dino.


"Kamu bener sayang. Setelah empat puluh hari Sita baru pulih. Tinggal tunggu satu hari lagi. Setelah itu, cepatlah atur jadwal buat kita tamasya!" ucap Ibu lalu pergi ke dapur menyimpan piring bekas makannya.


"Satu hari lagi!" Dino tersenyum melihat sang istri.


Sita nampak tersipu malu.


"Apaan sih, ngelihatinnya gitu amat?" kata Sita dengan tersenyum.


Dino tidak menjawab, melihat Sita yang tersipu malu, Dino malah terus memandanginya.


"Din! Ibu mau jalan-jalan ke pegunungan, yang udaranya sejuk, banyak penghijauan, bikin mata adem," kata Ibu.


Dino masih mematap Sita.


"Yang adem sudah ada di depan Dino, ngapain lagi cari yang adem, Bu," kata Dino yang tak berhenti memandang sang istri dengan tersenyum.


Ibu mengerutkan keningnya lalu melihat Dino.

__ADS_1


"Sita memang adem buat kamu pandang, tapi jangan lupa disini ada ibu, sekali-kali pandanglah ibumu ini! Ibu juga adem, kok," canda ibu.


Sita dan Dino tertawa.


"Apa sih, Bu?" Dino melirik ibu.


"Ibu mau Dino pandang juga? Sini! Tapi, mata Dino nanti mendadak sakit kalo natap Ibu," canda Dino.


"Apa! Awas, ya." Ibu langsung menjewer telinga Dino.


"Awww ... iya, iya, ampun, Bu! Ibu paling sejuk dipandang sedunia." Dino pun memeluk sang ibu.


"Ampun Bu! Jangan jewer! Dino gak mau jadi anak durhaka," candanya lagi.


Sita tertawa bahagia melihat canda suami dan ibunya. Terasa begitu hangat sekali, Sita senang melihat pemandangan dipagi ini.


"Kamu juga mau dipeluk sayang, sini!" panggil Dino pada Sita.


"Eett! Jangan sekarang. Nanti gak berangkat kerja kalo peluk istrimu sekarang." Ibu melanjutkan candanya.


Hahaha ....


"Iya, Bu. Ibu benar sekali," kata Sita sambil melirik ibu.


"Sudah, kamu berangkat kerja dulu, sayang!" lanjut Sita pada Dino.


"Oke! oke! Siap, sayang. Bantuin ganti baju, yuk!" pinta Dino pada Sita.


Ibu dan Sita mengerutkan keningnya.


"Eemmm, dasar modus," cetus Ibu.


Ha ... ha ... ha ...


"Boleh dong, sayang. Layani suamimu dengan baik, walau pun mintanya bercanda, Ibu yakin hatinya serius pengen diperhatiin. Tetapi kalau minta aneh-aneh jewer aja," canda ibu lagi.


Ha ... ha ... ha ....


Sita dan Dino pun pergi kekamar. Sita melayani suaminya dengan senang hati, dipakaikannya baju ganti yang sudah Sita siapkan sebelumnya.


"Sejak punya baby kamu jadi manja. Jangan bilang kamu cemburu," ucap Sita saat memasang kancing baju dengan tersenyum.


"Cemburu! Enggak dong sayang, masa iya cemburu sama baby, aku itu candu sama perhatian kamu," jelasnya.


Heheumm ...


"Candu!"


"Iya candu! Soalnya sejak kamu pergi gak ada yang merhatiin aku, aku rindu perhatianmu."


Heeemmm ...


"Gombal!" Sita melengos pergi setelah selesai merapikan baju sang suami.


"Kok, gombal sih. Beneran loh, sayang. Aku rindu sama kamu." Dino menarik Sita dan merapatkan tubuhnya pada sang istri. Mata mereka pun saling tatap dan saling lempar senyum.


"Sudah, berangkat sana! Nanti kesiangan," ucap Sita saat melepaskan tubuhnya dari sang suami.


Heeemmm ....

__ADS_1


"Diusir nih," kata Dino.


"Apaan sih, aku menyuruhmu mencari pahala."


"Oke, sayang. Aku berangkat, assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Tidak lupa Dino mengecup kening sang istri, begitu pun Sita mencium punggung tangan sang suami. Dino tidak lupa pamit pada dua jagoannya dan mengajak mereka bicara untuk meminta do'a. Dino tidak melupakan ibu, selalu dipintanya do'a untuk mengiringi keberhasilan dan kesuksesannya, karena selain do'a istri do'a ibu juga sangat penting untuk mengiringi langlah hidupnya menjalani hari.


***


Didalam sel, Elvira nampak geram. Sudah lama Jons tak ada mengunjunginya. Elvira terus saja menggerutu, mencaci dan memaki Jons yang sudah berjanji akan mengeluarkannya dalam sel.


"Jons, apa yang kamu lakukan di luar sana? Dasar pembohong, kenapa lama sekali? Aku bosan berada disini. Awas aja kalo sampe gak bisa lagi ngeluarin aku dari sini?" guman Elvira pada diri sendiri.


"Pak, boleh saya menelpon seseorang?" tanyannya pada petugas.


"Silahkan!" ucap petugas itu.


"Terimakasih!"


Elvira pun segera menghubungi Jons.


"Halo, siapa ini?" tanya Jons di ujung telepon.


"Doni, ini Vira," ucap Elvira mengelabui petugas.


"Doni! Elvira ini kamu? Kenapa memanggilku Doni?" tanya Jons heran.


"Jangan lupa, kamu adalah buronan," bisik Elvira di telepon.


"Ya, ada apa, Vira?" ucap Jons diujung telepon.


"Kamu kemana saja? Kenapa tidak pernah mengunjungiku? Aku menunggumu," ucap Elvira.


"Akhirnya kau merindukanku juga, Vira?"


"Apa maksudmu, Jons." Elvira mengerutkan keningnya. "Kamu berjanji mau mengeluarkanku dari sini, tapi kamu malah menghilang," tutur Elvira.


"Tenang saja, saya yakin sebentar lagi waktu yang tepat akan tiba, kamu harus bersabar, Vira."


"Sabar kamu bilang! Berbulan-bulan aku disini, kamu menyuruhku sabar." Elvira kesal.


"Tentu saja, kamu memang harus sabar!"


"Cih, aku muak dengan kata-kata itu!"


"Tenanglah! Vira. Calon suamimu ini akan menjemputmu kepelaminan," ucap Jons.


"Jons, aku tidak suka main-main jangan katakan itu, sebelum kamu benar-benar bisa mengeluarkanku."


Seketika Elvira menutup sambungan teleponnya sepihak, dan kembali ke sel.


"Nunggu waktu yang tepat. Terus saja itu alasannya, menyabalkan!" gerutu Elvira mengiringi langkahnya kembali kedalam sel.


Jons mengerutkan keningnya, dengan senyuman menyeringai penuh arti.


"Kamu, akan ku buat bersabar, Elvira. Sampai kamu menyadari akulah yang kamu butuhkan, dan hanya akulah yang peduli padamu." ucapnya.

__ADS_1


bersambung ....


__ADS_2