Al-fatihah Pembuka Jodoh

Al-fatihah Pembuka Jodoh
Lemparan batu


__ADS_3

"Beneran aku merasakan degupan jantung yang begitu kencang saat kau memeluk ku tadi, itu tandanya kamu tidak mau kehilangan aku kan sayang."


"Aku memang tidak mau kehilangan mu, mas. Jangan pernah tinggalkan aku," ucap kak Fitri.


Kak Hermawan pun menggenggam tangan Istrinya dan berkata, "Tentu sayang, aku tidak akan meninggalkan mu. Kecuali jika Allah berkehendak."


"Mas, jangan bicara begitu," ujar Kak Fitri.


"Iya sayang kita tidak tau usia kita sampai kapan, bahkan jika sekarang Allah berkehendak mengambil ku dari mu Dia bisa melakukannya."


"Mas." Kak Fitri pun menagis kembali, "Itu takdir Allah yang tidak bisa kita hindari, tapi tolong jangan katakan hal itu padaku, karna aku tidak sanggup kehilangan mu saat ini," ujarnya.


Hermawan pun mengusap air mata di pipi Istrinya.


"Apapun yang terjadi pada kita, kita harus siap menghadapi nya sayang, baik itu manis atau pun pahit."


Kak hermawan mengulurkan tangan dan membuka telapak tangan nya, "Mana sini," ujarnya.


"Mana apa, mas?" tanya kak Fitri.


"Kalung mu, biar mas pakaikan. Dia memberikannya padamu kan?" tanyanya.


Kak Fitri pun mengeluarkan kotak perhiasan yang ada di tas nya, "Ini, namanya Farid. Syukurlah ada dia yang membawamu kesini."


Kak Hermawan mengambilnya dan memakaikan nya di leher indah Sang Istri seraya berkata," Syukurlah. Apa Kamu suka, Sayang."


"Tentu saja, aku menyukainya, makasih, mas," ucap kak Fitri. Dan mereka pun saling melempar senyum.


"Sekarang kamu istirahat ya, Mas. Supaya bisa cepat pulang," ucap Kak Fitri.


Kak Hermawan pun mengangguk kecil. Dan mulai memejamkan matanya.


***


Di sisi lain Sita yang baru saja sampai ketempat kerjanya jadi bahan omongan orang. Dia minta ijin sama Pak Bimo untuk masuk terlambat karna harus kerumah sakit.


Para karyawan yang sedang bekerja melihat ke arah Sita. Celetuk seseorang mengatakan, "Enak banget ya, punya temen pacar bos. Bisa datang ketempat kerja seenaknya. Kalau kita, mana di ijinkan."


"Iya bener," sahut seseorang lagi.


Sita yang sedang melalui jalan itu pun menghentikan langkahnya. Sita menatap satu persatu orang - orang disana. Namun Sita tak ingin meladeni, Sita pun melanjutkan langkahnya menuju tempat kerjanya.


Baru saja Sita duduk Ratih datang menyapa, " Hai,Sit, Gimana keadaan Kak Hermawan?"


"Alhamdulilah, Kak Hermawan baik- baik saja Rat. Jawab Sita datar. Dengan wajah nya yang sedikit di tekuk.


"Syukurlah. Tapi ada yang aneh deh sama wajah mu Sit. Apa kamu gak suka aku datang kesini?" tanya Ratih.


"Tidak, kenapa tidak suka kita kan bestie," Sita mengukir senyum di wajahnya.


"Terus kenapa itu muka di tekuk gitu?" tanyanya kembali.


"Orang orang di sini tuh gak ada kerjaan banget sih, pada ribet ngirusin urusan orang," ucap Sita.


"Orang-orang di sini? Maksudmu mereka?" tanya Ratih sambil melirik semua Karyawan.

__ADS_1


"Iya mereka," jawab Sita singkat.


"Ada apa dengan mereka?" tanya Ratih penasaran.


Tak mau berkepanjangam Sita pun tak melanjutkan bicaranya, "Sudah lah gak ush di pikirin."


Ratih mengerti kalau Sita tak mau melanjutkan.


"Ya sudah, tar pulang kerja mampir ke kontrakan aku ya, aku pengen cerita ni!" pinta Ratih.


"Oke, tar aku bilang dulu sama Dino."


"Oke, bestie," ucap Ratih lalu pergi.


Pak Bimo yang melihat Ratih langsung memanggilnya keruangan.


"Ratih kamu keruangan ku," ucap pak Bimo. Pak Bimo memang tidak pernah menunjukan kemesraan nya pada Ratih di hadapan semua karyawan. Meski semua karyawan sudah tau mereka menjalin hubungan. Baik


Pak bimo maupun ratih mencoba bersikap propesional untuk tidak menghubungkan urusan pribadi dan pekerjaan. Di perusahaan tetap lah pak Bimo sebagai bosnya.


"Baik, pak," ucap Ratih.


Ratih pun melangkahkan kaki mengikuti Pak Bimo ke ruangannya.


Tentu saja para karyawan itu pun melirik curiga ke arah Ratih. Entah apa yang mereka pikirkan.


Ratih yang merasakan itu pun berkata dalam hatinya. " ada apa dengan tatapan mereka, salah kah aku yang di panggil bos."


Ratih terus melangkahkan kaki tak ingin menghiraukan. Mereka pun sampai di ruangan.


"Gak usah panggil pak lah, sayang, kalau tidak ada orang," pinta Pak Bimo pada Ratih.


"Gak bisa, nanti kedengeran orang gak enak saya," ucap Ratih.


"Ya sudah, aku minta laporan Gudang hari ini selasai ya!" pinta pak Bimo.


Ratih pun tersenyum dan berkata, " Baik pak."


"Gak usah senyum deh, bikin jantungku copot aja," ucapnya.


Ratih pun kembali tersenyum, lalu membalikkan badan dan melangkah hendak meninggalkan ruangan pak Bimo.


"Tunggu," Pak Bimo menghentikan langkah Ratih.


Ratih pun menoleh kebelakang.


"Nanti malam siap-siap aku jemput jam 8, kita makan di luar."


Ratih pun kembali tersenyum, dan mengedipkan matanya seraya berkata, "Ok."


Ratih pun berlalu dari Ruangan itu.


"Hem.. Dasar genit, tapi aku suka." pak Bimo pun menyenderkan badannya ke kursi goyang yang Ia duduki.


***

__ADS_1


Tiba waktu pulang kerja. Sita dan Ratih pun berjalan menuju kontrakan. Tiba-tiba Sita merasakan ada yang memperhatikannya lagi seperti waktu itu.


Sita menghentikan langkahnya.


"Ada apa?" tanya Ratih.


"Apa kamu merasakan sesuatu," Sita balik bertanya.


"Tidak," jawab Ratih.


"Gini loh Rat, waktu aku kesini sendiri sebelum kecelakan kamu terjadi. Aku tuh merasa ada yang memperhatikan gitu," ucap Sita.


"Sama seperti sekarang. Tapi waktu itu aku melihat seseorang berpakaian hodie." lanjutnya.


"APA!" Ratih sedikit kaget.


"Iya, tapi dia menutupi kepalanya jadi aku gak bisa melihatnya jelas," ucap Sita.


Ratih pun melihat sekeliling.


"Tapi sekarang tidak ada yang berpakaian seperti itu, kamu lihat saja sekelilingmu apa ada yang mencurigakan?" tanya Ratih.


Sita pun melihat sekeliling namun tidak melihat keberadaan sosok yang bersembunyi di balik roda pedagang yang sedang di kerumuni pembeli.


Tetiba Ratih ingat seseorang dan Ia pun berkata, "Oh ya. Apa itu Darwin, Sit. Mungkin dia tidak berani menghampirimu karna kamu sudah menikah."


"Entah lah, ya sudah mending sekarang kamu cerita, katanya mau cerita."


"Oke, tapi di dalam sudah sampai kita," ucap Ratih.


mereka pun duduk.


"Wah ada cemilan nih, boleh ku makan?" tanya Sita.


" Makan aja, biasa juga maen makan tanpa permisi," jawab Ratih.


hahaha....mereka pun tertawa


"Bener-bener ini kan rumah ku juga ya." ucap Sita. Lalu membuka cemilan nya.


"Gini loh Sit, Pak Bimo ngajakin aku nikah,"


"Oh ya, akhirnya Rat, kamu nyusul juga."


"Belum, aku belum boleh nikah sama mama."


"Lah kenapa Rat," tanya Sita.


"Aku masih punya Kaka, mama pengen kakak aku nikah dulu. Tapi pak Bimo terus ngajakin aku nikah, aku bingung banget." Ratih pun memeluk Sita.


Sita pun membalas pelukan Ratih dan berkata, "Ya Alloh Rat, sabar ya, semoga Kakak mu cepet nikah juga, biar kamu segera nyusulin aku."


"Aamiin."


Praankkhh...seseorang melempar kaca dengan batu.

__ADS_1


Astagfirullah.....


__ADS_2