
Pagi ini Sita dan Dino sedang sibuk memandikan kedua buah hatinya.
"Sayang, sudah kamu berangkat kerja saja, biar aku yang memandikan mereka!" ucap Sita pada sang suami yang ikut sibuk memandikan kedua bayinya.
"Kamu kerepotan sayang, mengurus dua bayi tidak mudah, kamu urus Arvi dan aku urus Rafka, " tutur Dino sambil menggendong rapka.
"Sebentar lagi ibu pulang dari pasar, ibu pasti bantu aku," ucap Sita saat sedang menyabuni Arvi.
Dino gantian mengambil sabun hendak menyebuni Rafka, "E, e,e,Sayang, kamu bisa? Bayi itu licin loh, harus hati-hati!"
"Tenanglah sebelum aku adopsi Rafka suster rumah sakit sudah mengajari aku cara memandikan bayi loh sayang," tutur Dino penuh semangat.
"Benarkah? Aku gak percaya? Ini kamu gendong Arvi saja dia sudah selesai." Sita terlihat begitu khawatir.
"Aku sedang gendong Rafka sayang,"
"Rafkanya simpan dulu di ranjang, lalu gendong Arvi," titah sang istri.
"Kamu benar-benar meragukan kemampuanku, sayang?"
"Aku gak mau Rafka kenapa-napa, gak usah bawel, ayo cepat!" Sita terus melarang sang suami.
"Ya sudah, baiklah." Dino meletakan kembali Rafka di ranjang bayinya, setelah itu ia pun menggendong Arvi dengan pernuh kasih sayang.
Rafka pun telah selesai dimandikan, sekarang kedua bayi tampan pun berjemur bersama selama beberapa menit, barulah Sita memakaikan pakaian. Kini bayi lucu dan tampan sudah semakin enak di pandang.
Dino melihat istrinya yang kewalahan, pagi-pagi sekali keringat sudah bercucuran, sesekali terlihat Sita menyeka keringatnya, dengan pergelangan tangan, karna jari tangannya tengah sibuk memegang sendok, yang digunakannya untuk mengaduk kopi sang suami.
Dino pun menghampiri, di ambilnya tisu kemudian meyeka keringat sang istri.
Di kecupnya kening sang istri, dan ia pun berkata, "Kau sangat cantik saat sedang sibuk, Sayang." Dino pun langsung melingkarkan tangannya di pinggang sang istri.
Sita meletakan sendok yang di pegangnya lalu memutar badan dan membalas dengan menautkan kedua tangannya di pundak sang suami.
"Kamu sedang menggodaku?" tanya Sita dengan tersenyum.
"Aku tidak menggoda, aku mengatakan yang sebenarnya," jawab Dino.
"Baiklah kalau begitu aku akan terus sibuk, biar terlihat cantik di matamu," tutur Sita dengan menyentuh hidung sang suami. Lalu melepaskan tautannya dan kembali mengaduk kopi. Namun Dino enggan melepaskan tangannya dari pinggang sang istri.
"Tidak begitu juga sayang, kamu tidak boleh lelah, terkecuali saat melayaniku," ucap Dino lalu memutar kembali sang istri agar berhadapan dengannya, Ditatapnya lebih dalam manik indah sang istri.
Lagi-lagi Sita tertunduk malu, saat dipandang sang suami dengan lebih inten.
"Kenapa menunduk sayang, tataplah suamimu ini?"
"Aku tidak berani."
"Kenapa tidak berani?" tanya Dino dengan mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Aku takut."
"Takut! Takut kenapa sayang?"
Sita mendekatkan wajahnya pada sang suami, "Takut kamu gak bisa nahan," bisik Sita di telinga sang suami, Sita pun segera melepaskan tangan sang suami yang masih berada di pinggangnya dan lari kekamar sambil tertawa.
Heemmm ... Dino tersenyum.
"Kau menggodaku? Awas ya!" Dino pun berlari mengejar Sita kekamar.
Sampai dikamar terlihat sang istri sedang mencubit manja kedua bua buah hatinya.
Dino melangkah dan kemudian menutup pintu perlahan, lalu menarik sang istri kedalam pelukannya, Dino pun menatap kembali sang istri dengaan tatapan penuh gairah.
Sita tersentak kaget, "Kau mau apa?" tanya Sita dengan khawatir, jantungnya berdegup kencang.
"Jangan macam-macam sayang, Nanti kau--"
Belum selesai Sita bicara, Dino sudah menautkan bibirnya di bibir sang istri.
Dino memegang erat kepala sang istri hingga tak ada kesempatan sang istri melepaskannya apa lagi berbicara.
Dino terus memainkannya, hingga Sita tak mampu melawan, ia pun pasrah dan
ikut mengimbangi sang suami.
Setelah lama saling menikmati mereka pun melepaskan tautan bibir mereka, mereka saling lempar senyum.
Sita melebarkan senyumannya.
"Kenapa kau tersenyum? Kau mau lagi?"
Sita tersentak, dan membuka mulutnya.
Dengan segera Dino menutupnya kembali dengan mulutnya. mereka melakukannya terus dan terus, bagaimana tidak kerinduan yang menggebu dan menginginkan lebih terhalang oleh larangan, hingga mereka hanya bisa melepas rindu dengan cara itu saja.
"Aku merindukanmu, sayang," ucap Dino yang sudah merasa puas, meski masih harus menahan gejolak yang lebih.
Tak dapat Sita pungkiri dia pun sangat merindukan sang suami dan menginginkan lebih. "Aku juga sangat merindukanmu," ucap Sita lalu memeluk sang suami kembali.
"Nampaknya kamu tidak mau melepaskanku, Sayang?" ucap Dino dengan membalas erat pelukan sang istri.
"Tidak, aku memang tidak ingin melepaskanmu, aku sangat mencintaimu, aku tidak ingin kehilanganmu," jujurnya.
Kejujuran yang Sita ungkap membuat Dino melayang, ucapan ini yang selalu ingin dia dengar dari sang istri, ungkapan perasaannya merupakan sebuah kekuatan untuk dia melangkah hidup kedepan, perjuangannya mendapat cinta sang istri tidak sia-sia, kini bukan hanya dirinya yang tidak ingin kehilangan sang istri, tapi sang istripun merasakan hal yang sama.
Berkali-kali Dino mengecup kening sang istri sebelum mereka saling mengurai pelukan.
Tak lama setelah itu, terdengar suara pintu di ketuk. Sita pun bergegas membuka pintu.
__ADS_1
Tidak disangka ia di kejutkan dengan kedatangan keluarga yang sangat ia rindukan selama ini, tangis haru pun kembali hadir di rumah itu, saat Sita memeluk Kak Riri dan Kak Fitri bergantian, linangan air mata bahagia membasahi pipi mereka saat saling melepas kerinduan.
Tanpa sepengetahuan Sita, semalam Dino memberitahu kepada kakak-kakaknya perihal kepulangan Sita, tentu saja mereka sangat gembira mendengar kabar ini, dan langsung berencana menemui Sita pagi ini juga, Dino sengaja tidak memberitahu Sita agar ini menjadi kejutan untuk istrinya.
"Kenapa kamu tidak menghubungi kami," ucap Kak Riri di sela tangis bahagianya.
"Iya, kau membuat kami khawatir, Sita," sambung kak fitri yang juga tengah menangis bahagia.
"Maafkan Sita kak, Sita gak bisa berpikir apa-apa saat itu, saat itu Sita buntu, dan handphone Sita juga hilang entah dimana."
"Dasar nakal, awas kalau kamu melakukannya lagi!" ucap kak Riri sambil menjewer telinga Sita.
"Maaf," Sita pun memegang kedua kupingnya layaknya anak kecil yang meminta maaf pada ibunya.
Hahaha ... Mereka pun tertawa hangat melihat tingkah adiknya.
Ketiga bersaudara itu pun saling berpelukan kembali.
Eheemmm.
Kak Hermawan berdehem.
Mereka pun mengurai pekukan.
"Apa kabar kak Hermawa, kak Syamsul?" sapa Sita pada kedua kakak ifarnya yang belum sempat ia sapa karna terlalu sibuk melepas rindu bersama kedua kakak perempuannya.
"Alhamdulilah kami baik," ucap keduanya berbarengan.
Kini mata Sita teralih pada sebuah kereta dorong berwarna navy, berisi putri kecil yang cantik, imut, dan lucu, "Masya Allah, ini pasti keponakan tante. Eeuummm gemesss." Sita langsung menggendong bayi itu dengan gembira.
"Hayyyy--" Sita melirik kearah ka Riri, ucapnya terhenti karna ia tidak tau siapa nama keponakan cantiknya ini.
"Naura Khoerun Nisa," Jelas Kak Riri.
"Eemm dede ula, kenalin ini tante Sita, maaf ya tante baru sempet kenalan sama dede ula, tante banyak urusan sayang," ucapnya di buat manja saat menggendong Naura.
"Gak, pa pa tante, yang penting sekarang urusan tante sudah selesai dan tante sudah pulang," ucap Kak Riri pun di buat buat seperti suara bayi.
Hahaha ... Semua tertawa bahagia.
"Heyyy dimana keponakan kami?" ucap kak Syamsul dengan riang.
"Mereka sedang tidur, dikamar kak?" jawab Dino.
"Waah ayo kita lihat," ucap kak Fitri dengan antusias.
Mereka pun saling bergantian menggendong Arvi dan Rafka, suasana pagi yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya, tidak di sangka kegembiraan datang setelah sekian lama menghilang. Itulah kuasa Allah yang tidak pernah kita tau kapan IA memberi kita suka dan kapan IA memberi kita duka, semua berada di tangan-NYA, kita sebagai manuasia hanya bisa berusaha bersabar dan berdoa, dan jangan lupa roda kehidupan berputar seauai kehendak Yang Maha Kuasa.
Tidak berselang lama ibu kembali dari pasar, ibu pun bahagia keluarga Sita datang berkunjung, ibu menyapa mereka dengan ramah, dengan cepat ibu pun membuatkan makanan untuk menyambut mereka, ibu mengerti Sita tengah melepas rindu hingga belum kepikiran membuatkan sesuatu untuk mereka.
__ADS_1
Bersambung ....
jangan lupa like, komen, favoritnya, dan kasih hadiah biar othor makin semangatππππͺπͺπͺ