Al-fatihah Pembuka Jodoh

Al-fatihah Pembuka Jodoh
Promo Novel Baru


__ADS_3

Assalamualaikum readersku yang tercinta, apa kabar? semoga tetap sehat ada dalam lindungan-Nya.


Mohon maaf untuk Novel baruku yang berjudul "MENCINTAI USTADZ BERISTRI" aku pending dulu. Sebagai gantinya aku hadirkan judul baru "SINAR CINTA RAMADHAN" kisah romansa cinta remaja yang ringan, khusus saya sajikan menjelang bulan suci Ramadan. yang akan di rilis besok.


SELAMAT MEMBACA dan jangan lupa mampir ya❤❤❤



"Rama! kenapa kamu menawarkan diri untuk mengantar Laila?" tanya ibu dengan kesal.


"Rama harus menolong Laila 'kan, Bu. Laila butuh bantuan," kata Rama.


"Tidak perlu kamu juga yang menolongnya," kekeh ibu.


"Sudahlah, Bu. Rama tidak mungkin membiarkan Laila pergi sendiri," jelas Rama.


Ibu duduk di kursi masih dengan kekesalannya.


"Baiklah, kamu boleh mengantar Laila. Akan tetapi, kamu harus berjanji pada Ibu! Kamu tidak akan jatuh cinta padanya," pinta ibu.


"Mengapa Ibu mengatakan hal itu lagi? Kita tidak bisa mengatur hati kita untuk masalah cinta, Bu," jelas Rama.


"Ibu, tidak mau tau. Kamu boleh berteman sama Laila, tapi tidak untuk jatuh cinta," kekeh ibu.


Rama dibuat bingung dengan keinginan ibu. Apa yang membuat ibu seperti ini?Sebelumnya ibu tidak pernah seperti ini pada Rama.


"Rama tidak bisa berjanji, Bu. Rama sendiri tidak tau apa yang sedang Rama rasakan. Rama hanya merasa bahagia di dekatnya," jelas Rama.


"Itulah cinta Rama. Kamu akan selalu bahagia di dekatnya. Besok kamu tidak akan bisa hidup tanpanya," ucap ibu dengan menangis.


Rama tidak menyangka apa yang ia katakan membuat ibunya menitikan air mata. Rama segera mendekatinya dan mengusap air mata sang ibu. "Tidak, Bu. Jangan menangis! Tolong maafkan Rama!" ucap Rama dengan sedih.


"Untuk sekarang tolong ijinkan Rama mengantarnya kepasar. Nanti sore, Rama usahakan menjauh dari Laila," ucap Rama.


"Berjanjilah, Ram!" Ibu menitikan air matanya kembali.


Dengan berat hati Rama pun menganggukan kepalanya dan ikut meteskan air mata. Dilema kini yang Rama rasakan, diantara cintanya pada sang ibu, dan pada gadis cantik yang selalu menjadi perhatiannya.


Setelah mengantar ibu ke pasar, Rama pun mengantar Laila ke pasar. Dengan canggung Laila duduk di atas motor Rama, Ia duduk sedikit menjauh. Ini pertama kalinya Laila berboncengan dengan Laki-laki.


Laila merasa bahagia. Di jalan tak banyak hal yang mereka bicarakan. Rama lebih banyak diam, sedangkan Laila yang ingin bertanya sedikit ragu.


Rama memarkirkan motornya di parkiran pasar.


"Mari! Toko sandal di sebelah sana!" kata Rama.


Laila memilih-milih sandal, tidak ada satu pun yang ia sukai.


"Apa ada toko lain selain ini?" tanya Laila.


"Ada, disebelah sana. Ayo kita kesana!" ajak Rama.


Sesampainya di toko lain, masih saja tidak ada sandal yang Laila sukai. Namun, tidak mungkin dirinya terus memakai sandal milik Rama.


"Aku bingung harus memilih yang mana? Bisa kamu pilihkan untukku?" tanya Laila.

__ADS_1


"Aku! Aku tidak tau seleramu seperti apa?" kata Rama.


"Apapun yang kamu pilih aku akan memakainya" kata Laila.


"Benarkah?"


"Karena, jika tidak, aku bisa pakai sandal kamu selamanya," tutur Laila di iringi tawa.


"Aku tidak keberatan, jika kamu mau memakai sandalku untuk selamanya," jelas Rama dengan tersenyum.


Laila terkejut dan langsung menatap Rama. Laila tersenyum bahagia.


"Bolehkah?" tanyanya.


"Tentu saja boleh," kata Rama.


"Kalau begitu aku tidak perlu membeli sandal, sandalmu cukup nyaman di kakiku," jelas Laila.


Rama tersenyum bahagia.


"Benarkah? Tapi, sandalku kebesaran dikakimu," kata Rama.


"Artinya, aku menggantungkan harapan besar dari pijakanku yang kebesaran ini," jelas Laila dengan malu-malu.


"Maksudmu?"


Rama termenung mengerutkan keningnya.


Ia tersenyun dan mulai mengerti maksud Laila.


"Bukannya kamu tidak jadi beli sandal? tanya Rama dengan candanya.


Laila tertawa.


"Apaan sih. Aku bercanda," kata Laila.


"Kok bercanda sih. Padahal, aku benar-benar berharap kamu menggantungkan harapan besar di pijakan kebesaran itu," jelas Rama.


Rama dan Laila saling lempar senyum. Laila tersipu malu, wajahnya seketika memerah.


Rama suka melihat wajah kemerahan Laila, yang semakin menambah kecantikan di wajahnya.


Rama melangkah memilihkan sandal untuk Laila.


"Yang ini. Ini cocok untuk kaki indahmu," kata Rama.


Laila yang masih membelakangi Rama, karena malu, langsung menyetujui pilihan Rama tanpa melihat sandal itu. "Baiklah, aku beli itu," kata Laila.


"Kamu yakin? Lihatlah kemari!" kata Rama.


Laila langsung membalikan badannya. Betapa terkejutnya Laila saat melihat sandal yang di pegang Rama, adalah sepatu boot anti hujan.


"Ramaaa!"


Keduanya tertawa terbahak-bahak, larut dalam canda. Rama dan Laila cukup bahagia dengan kebersamaannya hari ini. Namun, perlahan tawa Rama hilang, saat mengingat pesan sang ibu.

__ADS_1


Rama menarik napas panjang, tiba-tiba wajah cerianya menjadi sedikit murung. Meski Rama berpikir untuk tidak terlalu akrab dengan Laila, tapi Rama tak bisa melawan keinginan hatinya, yang semakin nyaman berada di dekat Laila.


Setelah mendapatkan satu sandal cantik yang cocok di kaki Laila, mereka pun langsung pulang. Laila teringat apa yang dikatakan Nur kemarin, jika mereka menemukan taman indah di perjalanan. Laila ingin sekali mampir ke taman itu bersama Rama, tapi Laila ragu untuk mengatakan keinginannya itu.


Rama terus berjuang melawan dilema. Hati ingin semakin dekat dengan Laila. Namun, pikirannya memaksa dia untuk menjaga jarak. Ketika Laila memberanikan diri mengutarakan keinginannya untuk pergi ke taman itu, Rama menolaknya dengan alasan sudah terlalu siang.


Laila kecewa, muncul pertanyaan dihatinya yang mengganggu pikiran. 'Kenapa kemarin sama Nur mau, tapi sekarang sama aku tidak mau, apa Rama tidak suka padaku, atau aku yang terlalu berharap padanya. Mungkin dia baik dan perhatian padaku hanya karena kemanusiaan saja' pikir Laila.


Rama pun kecewa pada dirinya sendiri, sejujurnya dia ingin sekali menikmati taman indah itu bersama Laila. Namun, ia tak mau semakin larut dalam kebersamaannya bersama Laila, karena itu akan semakin menyakitkan hatinya jika cinta tumbuh semakin dalam.


Ibu menunggu Rama dengan gelisah, sudah terlalu lama Rama pergi bersama Laila, entah kenapa ke khawatiran ibu semakin besar.


Tak lama terdengar deru mesin motor Rama di halaman rumah bu Ira. Ibu pun segera memeriksanya keluar. Terlihat Laila sedang turun dari motor Rama. Namun, pemandangan yang tidak ingin ibu saksikan terjadi di hadapannya, seorang anak kecil yang tengah berlarian menabrak Laila hingga terhuyung ke arah Rama. Membuat keduanya berhadapan dan saling pandang dalam jarak yang dekat. Keduanya menikmati tatapan indah itu begitu lama tak ingin melepaskannya begitu saja.


Ibu yang khawatir segera memakai sandal, dan berjalan menghampiri mereka.


"Ehem." Deheman ibu berhasil memutus jarak pandang mereka.


"I--ibu," ucap Rama dengan gugup.


Sementara Laila langsung menundukan pandangannya merasa malu oleh ibu.


"Kalian sudah beli sandalnya?" tanya ibu dengan lembut, dan berusaha menahan kekesalannya pada Rama.


"Sudah, Bu," kata Laila.


"Terimakasih, sudah mengijinkan Rama mengantar Laila," lanjut Laila dengan sopan.


"Iya, Laila, sama-sama. Akan tetapi, ibu minta maaf ya Laila, ibu butuh Rama sebentar, buat benerin keran air yang rusak, karena kalau enggak di benerin sekarang airnya terus mengalir," ucap ibu.


"Oh iya, Bu. Maaf, tadi kami terlalu lama," kata Laila masih dengan sopan.


"Tidak apa-apa Laila. Ibu masuk dulu ya. Ayo Ram!" ajak ibu.


Rama dan ibu pun meninggalkan Laila. Rama langsung pergi menuju kamar mandi untuk memperbaiki keran yang rusak. Namun, Rama langsung terkejut saat melihat keran kamar mandi yang baik-baik saja tanpa ada kerusakan sedikit pun.


Kini Rama mengerti maksud ibu. Rama tak habis pikir kenapa ibu berbohong. Rama mencoba bicara baik-baik pada ibu yang tengah duduk santai di ruang tamu.


"Tidak ada keran air yang rusak. Kenapa ibu berbohong?" tanya Rama dengan pelan.


"Yang perlu di perbaiki bukan keran air. Akan tetapi hatimu Rama, jangan sampai cintamu pada Laila terus mengalir," ucap ibu dengan berkaca-kaca.


Rama mengambil napas panjang dan menghembuskannya perlahan, lalu duduk di samping sang ibu seraya memegang kedua tangannya.


"Ibu tidak perlu berbohong untuk memisahkan Rama dan Laila. Apa ibu lupa, kalau ibu sedang berpuasa?" kata Rama sambil menatap sang ibu dengan lembut.


"Astagfirullah haladzim." Ibu beristigfar menitikan air mata.


Ibu langsung memeluk sang putra dengan segenap ke khawatirannya. Cinta dan kasih sayangnya yang begitu besar membuat ibu khilap.


"Maafkan ibu, Ram. Ibu hanya takut kamu ...." Ibu menghentikan ucapannya karena ragu.


Rama memahami perasaan sang ibu. Rama pun memeluknya dengan erat.


Jangan lupa besok mampir ya😘😘😘

__ADS_1


terimakasih.


__ADS_2