
"Selama ini, Elena mengidap penyakit leukimia, ia sering sekali mengalami pendarahan di hidungnya. Namun, ia tidak pernah ingin semua orang tau tentang itu, dan dia sendiri pun tidak peduli dengan penyakitnya, dia lebih peduli dan sibuk memikirkan cara bagaimana mendapatkan cinta, Dino," jelas bu Heni dengan menangis
"Astagfirullahhaladzim!" Sita dan yang lainnya dibuat shock kembali setelah mendengar penuturan bu Heni.
Sita pun mengingat apa yang dia lihat di Villa, saat Elena terburu-buru lari ke kamar dan meminum obat dengan sembunyi-sembunyi. Kini Sita mengerti obat apa itu.
Hati Sita yang lembut dan baik, tanpa menyimpan dendam sedikitpun terhadap Elena, yang sudah berbuat banyak kejahatan padanya, berpikir untuk menyelamatkan hidupnya.
Dengan hasil pemeriksaan sumsum tulang belakang yang cocok dengan Elena, Sita pun menjalani oprasi transplantasi sum-sum tulang belakang dengan ikhlas.
Elena pun membuka matanya dengan perlahan, ia menangis saat melihat Sita berbaring lemah di sebelahnya, berkorban menyelamatkan ular yang selalu mematoknya.
'Sungguh mulia hatimu, Sita' batin Elena menangis.
Elena pun tersadar bahwa tidak ada perempuan yang lebih baik dari Sita yang berhak hidup bersama Dino.
Sita pun membuka matanya perlahan, dan melirik Elena disebalahnya, "Elena, kau sudah sadar?" tanya Sita dengan lemah.
"Jangan bicara, Sita! Biarkan aku yang bicara, kali ini," ucap Elena dengan menangis.
"Maaf, tolong maafkan aku!" lanjut Elena dengan bibir yang bergetar, "Aku telah sangat menyakitimu, aku lebih berhak mendapatkan kebencianmu dari pada pertolonganmu, Sita," ucap Elena terus menangis.
Sungguh Sita merasa bahagia mendengarkan permintaan maaf yang tulus dari Elena, ia bisa merasakan jika kali ini Elena benar-benar tulus.
"Tidak, Elena! Siapa pun berhak mendapatkan pertolongan Allah. Dia yang menggerakkan hatiku untuk menolongmu," ucap Sita dengan linangan air mata.
Elena semakin menangis tersedu, "Terimakasih, Sita," ucapnya.
"Sama-sama," ucap Sita dengan tersenyum.
Satu persatu orang di perbolehkan masuk kedalam ruangan, kini semua terlihat bahagia.
Sita dipindah keruangan lain yang khusus, karna harus menyusui kedua buah hatinya, tentu saja Dino menemaninya dengan setia.
Elena yang telah menyadari kesalahannya pun meminta maaf pada semua orang yang sudah dia sakit, termasuk pada Ipan yang sempat ia pengaruhi dengan pikiran buruknya.
"Ipan, maafkan aku!" ucapnya penuh penyesalan.
"Tidak apa-apa, aku mengerti," kata Ipan.
"Tetapi, kali ini aku mau kamu bekerja sama denganku," pinta Elena penuh harap.
"Apa!" Ipan seketika kaget dan berpikir buruk.
Heheummmm ....
Elena tersenyum lucu melihat expresi sahabat Dino itu.
"Tenang! Kali ini rencanaku tidak seburuk itu," ucap Elena.
Ipan pun merasa lega mendengarnya.
"Katakan apa rencanamu?" tanya Ipan.
Elena pun mengatakan semua rencanaya pada Ipan dan langsung disetujui olehnya.
"Tetapi, apa kamu punya uang untuk melakukan rencanamu itu?" tanya Ipan penasaran.
"Eummmhh ... 'kan ada kamu," canda Elena.
"Aku!" Ipan terkejut.
Hahaha ... Elena tertawa.
"Iya, tolonglah kamu 'kan sahabat Dino juga, nanti aku kerja deh di pabrik sepatumu buat bayar semua itu," bujuk Elena.
"Aku setuju, aku akan membantumu," ucap Aditya yang mendengar semua percakapan mereka.
"Benarkah, Dit? Wahhhh, dia aja dukung aku, masa kamu enggak, Pan?" kata Elena.
"Baiklah-baiklah!" Ipan mengangguk anggukan kepalanya.
"Aku gak diajak nih, nyusun rencananya?" tanya Ratih yang juga mendengar semua itu.
__ADS_1
"Ibu, dan Bi Marni juga ikut ya, jalanin rencananya," kata ibu yang tiba-tiba datang bersama bi Marni.
Hahahaha ... Semua pun tertawa bahagia.
Bu Heni pun bersyukur karna orang-orang yang seharusnya membenci Elena malah mendukung Elena tanpa rasa dendam.
Seminggu setelah kepulangan Elena dari rumah sakit, semua pun bersiap menjalankan rencana mereka. Mereka berbagi tugas masing-masing, Ipan pun telah menghubungi kedua kakak Sita bersama suami mereka.
"Dino, Sita, cepatlah! Kalian lama sekali," kata ibu.
"Kita mau kemana sih, Bu? Buru-buru banget," tanya Dino.
"Iya, Bu, sebentar! Sita harus urusin Arvi sama Rafka dulu!" kata Sita.
"Sini Ibu bantuin!" kata ibu.
Ibu sudah menyiapkan baju yang bagus buat Arvi dan Rafka, baju yang membuat mereka terlihat lebih lucu dan menggemaskan di hari yang special ini.
"Waaahhh ... anak-anak mama terlihat seperti pangaran," ucap Sita yang terkagum melihat kedua putranya.
"Sudah, ayo kita berangkat!" ajak ibu.
"Tapi Bu, Sita belum siap," kata Sita.
"Nanti kamu dandan disana saja!" kata ibu.
"Dandan disana? Kita mau kemana, Bu? Mau ke salon?" tanya Sita penasaran.
"Ayolah, Sayang, gak ada gunanya terus bertanya sama Ibu, Ibu gak bakalan jawab," kata Dino.
"Nah, gitu, nurut saja, ayo!" ucap ibu.
Sita dan Dino pun mengikuti kemauan ibu. Mobil Aditya sudah menunggu di depan.
"Dit, kamu disini?" tanya Dino dengan terkejut.
"Ayo, cepat naik! Aku sudah pegal nunggu kalian," tutur Aditya.
"Ada apa ini, Sayang?" kata Dino melirik Sang istri.
Mereka pun naik ke mobil Aditya tanpa bertanya apapun lagi. Sepanjang perjalanan mereka hanya terdiam, tidak lagi banyak bertanya karna itu sia-sia saja.
Setelah hampir sampai di lokasi, Aditya menghentikan mobilnya, ia turun dan membuka pintu belakang, tiba-tiba dia menutup mata Dino dan Sita dengan mengikatkan kain di kepala mereka.
"Dit, apa-apan ini?" tanya Dino.
Ibu dan Aditya tersenyum
"Sudahlah sayang, ikuti saja mau mereka! Mereka pasti sedang bikin kejutan buat kita," tutur Sita dengan pasrah.
Hahaha ... Ibu dan Aditya tertawa.
Setelahnya samapai di lokasi Sita dan Dino pun diberikan satu gelas miniman yang membuat mereka pingsan sejenak.
Keduanya pun terkejut, saat mereka terbangun dalam keadaan menggunakan pakaian pengantin.
Sita dan Dino saling tatap, dengan memiliki pertanyaan yang sama "Sayang, apa yang terjadi pada kita?" tanya Sita.
Dino mengangkat kedua bahunya menandakan dirinya juga tidak mengerti.
Sita mencubit tangan Dino.
"Aww ... sakit, Sayang," kata Dino.
"Bukan mimpi!" kata Sita, "Ayo kita keluar!" ajak Sita kemudian.
"Tunggu dulu!" Dino menarik Sita, "Kamu cantik sekali, Sayang!" pujinya.
"Ini bukan waktunya menggodaku, Ayo kita keluar!" kata Sita.
Betapa lebih terkejutnya lagi mereka, saat membuka pintu kamar itu, disambut dengan kemeriahan para tamu yang hadir di sana. Sita dan Dino terbelalak melihat ruangan yang dihias indah, dengan desain mewah dan megah.
"Surprise!" ucap Elena dan yang lainnya.
__ADS_1
"Happy wedding, Sita," ucap Elena dengan deraian air mata di pipinya.
Seketika Sita pun berkaca-kaca, ia pun melihat kedua kaka beserta suami mereka telah hadir disana.
"Happy wedding!" ulangnya tidak percaya. "Apa maksudmu, Elena?" tanya Sita.
Elena memegang kedua tangan Sita, dengan deraian air mata yang terus mengalir di pipinya. "Aku sudah menghancurkan hari pernikahanmu, Sita. Hari ini, ijinkan aku menebus semua kesalahanku, nikmatilah pernikahanmu dengan bahagia!" ucap Elana yang terus berderai air mata. Kemudian Elena pun memeluk Sita dengan erat.
Sita pun menangis haru. Untung saja mereka memakaikan make up anti luntur, hingga deraian air mata di pipi Sita tidak merusak riasan di wajahnya.
Dino tersenyum bahagia. Kini dia mengerti maksud mereka semua. "Terimakasih, Elena," ucap Dino dengan gembira.
Dino segera menggenggam tangan sang istri dengan erat dan membawanya segera keruang akad. "Dimana ruang akadnya?" tanya Dino penuh semangat.
Hahaha ....
"Pengantin baru tidak sabar nih," celoteh Ratih.
Hahaha ....
Seolah mimpi yang menjadi kenyataan, kini mereka merayakan pernikahan yang kedua kalianya, dihadiri para keluarga, teman dekat, dan tamu undangan lainnya.
Kini putri dan pangeran sehari ini bisa menikmati indahnya pernikahan seperti yang mereka dambakan penuh dengan kebahagiaan, yang mana dulu tidak sempat mereka rasakan karena ulah Elena.
Setelah akad selesai mereka pun duduk di pelamainan yang indah. Sita tersenyum bahagia, memandang sekeliling ruang pelaminan yang indah, mewah, dan mengah, yang kini ia rasakan dipernikahannya, bahkan jauh lebih indah dari sebelumnya.
Sita pun kembali menangis haru, merasakan kebahagiaan yang tidak pernah dia bayangkan.
Dino dan Sita pun saling tatap, keduanya tersenyum bahagia.
Sita mengusap lembut pipi sang suami tanpa mengurangi senyuman di wajahnya.
Dino memegang tangan sang istri yang masih mendarat indah di pipinya, ia memejamkan mata menikamti sentuhan tulus itu, "Aku sangat bahagia, tangan yang pernah mendarat kasar di pipi ini, saat menyatakan cinta, kini mendarat lembut dengan sangat indah, dan penuh kasih sayang," ucap Dino dengan tersenyum.
Akhirnya mereka pun berpeluk erat penuh kebahagiaan.
Tidak ada moment yang terlewatkan, setiap foto yang dihasilkan sungguh menakjubkan.
Kini Sita dan Dino pun hidup bahagia tanpa gangguan dari pihak ketiga.
TAMAT.
❤❤❤
Terimakasih reader tercintaku yang sudah setia mendukung ku dari awal sampai akhir, Author akan selalu mengingat kalian semua. jangan lupa dukung terus karya Author, dan beri semangat agar karya Author lebih baik lagi.
Terima kasih 🙏 Salam sayang Author buat kalain 🙏🙏🙏 ❤❤❤😘😘😘
Nantikan Novel terbaru Author yang akan segera hadir dengan judul baru.
"MENCINTAI USTADZ BERISTRI"
Sinopsis.
Wilma adalah seorang gadis cantik yang dikirim kedua orang tuanya kepesantren karna kelakuannya yang buruk. Ia sering main ke clab dan karaoke hingga pulang larut malam.
Siapa sangka Wilma akan jatuh cinta pada ustadz tampan disana yang ternyata sudah memiliki istri.
Namun tidak ada yang bisa mengira sang istri malah menyuruh Wilma menikah dengan sang suami.
"Aku bukan perempuan hebat seperti anda Ustadzah. Aku tidak akan rela membagi suami dengan perempuan lain," ucap Wilma menunjukan penolakan pada ustadzah.
Apa yang akan terjadi selanjutnya dengan kisah mereka?
Mengapa sang istri menyuruh Wilma menikah dengan suaminya?
Seperti apakah perasaan sang Ustadz terhadap Wilma?
Apakah Cinta Wilma terbalaskan?
Yuk saksikan kisahnya hanya di sini.
__ADS_1
😘😘😘😘💪💪💪🙏🙏🙏