
Didalam ruangan Aditya terus menggerutu, "Orang tua tidak tau diri, berani sekali dia melecehkan Amel. Sudah bau tanah bukannya perbanyak ibadah, malah mengganggu para wanita." ucap Aditya dengan kesal, "Seharusnya Amel tidak bekerja disini, lebih baik dia bekeeja di rumah, itu lebih aman untuknya," ia pun beranjak pergi keluar.
Namun saat ia melangkah, di luar ia mendapati Amel yang duduk menangis dimeja. Aditya menyadari kebodohannya, "kenapa tadi aku memarahinya, bisa-bisanya aku membentaknya," Aditya pun menghampiri Amel dan meminta maaf padanya, "Amel, maafkan saya," ucapnya.
Amel kaget mendengar Aditya meminta maaf padanya, "Tidak perlu minta maaf, Pak, saya tau saya salah," ucap Amel lalu menyeka air matanya.
"Saya tau kamu tidak salah, sekarang saya mau kita pergi!" Ajak Aditya tiba-tiba.
"Pergi! Pergi kemana?"
"Kerumahku."
"Untuk apa?"
"Tidak usah banyak tanya, saya ini atasan mu, jadi kamu nurut saja sama saya." Aditya berkata dengan tegas.
"Tunggu disini! Saya ketoilet sebentar." Aditya pun pergi ke toilet.
Para karyawan pun berbisik di sana, "Kamu lihat itu, Cara Aditya menghajar laki-laki tua tadi, dan cara pak Aditya marah sama Amel," ucap Rika pada Rina.
"Ya, kamu benar, itu bukan marah tapi cemburu, masa iya atasan marah sama karyawan nyuruh Amel duduk diam saja, mana ada bos marah nyuruh santai," balas Rina.
"lain kali, kalau ada laki-laki tua seperti mereka lagi, kamu tidak usah layani mereka, kamu duduk dan diam saja, mengerti!" ucap Rina meniru perkataan Aditya tadi.
Hahaha .... mereka pun tertawa.
Aditya mendengar omongan mereka, ia pun tertegun, sejenak ia berpikir, "Cemburu. Yang benar saja, masa ia saya cemburu pada istri orang, akh mereka berpikir seperti itu karna mereka mengira Amel saomeone spesil ku," pikirnya lalu berlalu pergi tidak menghiraukan mereka.
Aditya pun mencari Susi karyawan kepercayaannya. "Susi saya dan Amel pulang lebih Awal, kamu perhatikan kinerja semua karyawan, jangan sampe mereka leha-leha."
"Baik, Pak," ucap Susi.
"Amel, ayo kita pergi!"
"Tolong katakan pada saya kenapa tiba-tiba kamu mengajak ku kerumahmu,"
"Mulai sekarang kamu kerja di rumahku saja, tidak usah kerja disini," ucapnya dengan tegas.
"Kerja di rumah! Apa yang harus saya lakukan dirumah pak, di rumah sudah ada bi Marni?"
__ADS_1
"Sudahlah, ayo ikut saja." Aditya melangkah tak mau mendengar penolakn Amel.
Amel diam tidak mau mengikuti.
Menyadari Amel tidak mengikuti langkahnya Aditya pun menghentikan langkahnya dan menoleh kebelakang.
"Amel kamu masih butuh pekerjaan kan?"
Deg ...
Ucapan itu seolah ancaman lembut buat Amel, namun Amel tetap diam enggan mengikuti.
"Baiklah! Kalau kamu tidak mau--"
"Aku mau," ucap Amel tiba-tiba setuju karna takut bosnya itu memecatnya. Pikirnya mana ada orang lain yang mau mempekerjakan ibu hamil, yang mungkin nanti akan merepotkan, dan bisa mengganggu pekerjaan. Hanya Aditya yang mengerti kondisinya.
"Baiklah pak, mari!" Amel pun berjalan keluar dari cafe, mereka pun naik mobil, Aditya pun melajukan mobilnya dengan hati-hati.
Sampai di kontrakan Amel Aditya menghentikan mobilnya.
"Loh, kenapa berhenti disini, bukannya kita mau kerumah bapak, jangan bilang bapak memecat saya," ucap Amel khawatir.
"Siapa yang mecat kamu, Amel. Kamu akan kerja di rumahku jadi kamu juga harus tinggal di rumahku, cepat kemasi pakaianmu!" ucapnya berubah lembut.
"Di rumah kan Ada bi Marni, lagian tetangga komplek 'gak seperti tetangga kampung, mereka tidak akan peduli urusan kita, lagian kamu kan cuma kerja, apa bedanya kamu sama bi Marni, bertahun-tahun bi Marni kerja di rumah saya seorang diri, apa ada yang menyebar fitnah antara kami? tidak ada," ucap Aditya dengan santainya.
Hehemm ... Tiba-tiba Amel tertawa lembut.
"Kenapa tertawa?"
"Tidak, lucu saja, pak Aditya sama bi Marni itu bagai anak dan ibu, masa iya jadi sasaran fitnah, beda sama kita, yang usai sama tak jauh beda."
Aditya pun tersenyum mendengar ucapan Amel itu.
Sejenak ia tertegun.
"Ayo cepat, kemasi barangmu!"
"Tidak pak, saya bisa pulang pergi seperti saya kerja di cafe," kekeh Amel.
__ADS_1
"Saya tidak mau cape menjemputmu," ucap Aditya seceplosnya.
"Saya tidak minta bapak jemput, saya bisa pergi sendiri."
Huhh ... terlihat wajah Aditya yang menjadi kesal.
"Amel, saya hanya ingin mempekerjakan karyawan yang patuh pada bosnya." Aditya tak kalah kekeh dari Amel.
Lagi-lagi sebuah ancaman halus di dengar Amel, Amel pun turun dan mengemasi pakaiannya, sementara Aditya menunggu di dalam mobil.
'Pak Aditya itu kenapa ya, kok tiba-tiba mindahin aku kerja di rumahnya, gara gara kejadian tadi, padahal hal itu bisa terjadi pada siapa saja, huhh ... demi janin ini aku harus bertahan hidup, agar nanti lahir dia tetap sehat, terserah apa mau pak Aditya yang penting aku tetep kerja' pikir Amel.
Akhirnya mereka pun sampai di depan rumah mewah Aditya, Amel pun segera turun, membawa kopernya.
"Sini, biar saya yang bawa kopernya?" kata Aditya.
"Tidak perlu pak saya bisa sendiri," seperti biasa Amel menolak.
"Baiklah," Aditya tidak mau terkesan dirinya memaksa. Ia pun berjalan melangkah terlebih dahulu, Amel mengikutinya dari belakang.
"Non Amel, apa kabar Non," sapa ramah bi Marni melihat kedatangan Amel kembali kerumah ini.
"Alhamdulilah, baik bi, bibi sendiri apa kabar?" tanya balik Amel dengan ramah.
"Alhamdulilah baik juga, Non."
"Bibi, mulai sekarang Amel kerja di rumah ini, dia akan nemenin bibi disini," tutur Aditya pada bi Marni.
"Benarkah! Alhamdulilah, akhirnya bibi ada temen," ucapnya, "Kenapa gak dari dulu sih Pak cari temen buat bibi?" lanjutnya.
"Nah itu, sekarang sudah ada temen?" ucap Aditya dengan tersenyum.
"Hehe ayo Non, kita kekamar," ajak Bi Marni.
"Tunggu! Amel tidur di-- , eu-ya sudah ikut sama Bi Marni saja." Entah kenapa sekarang Aditya memperlakukan Amel dengan special penuh perhatian, hampir saja dia mau menyuruh Amel tidur di kamar atas di sebelah kamarnya.
Ia mengurungkannya, mengingat semua perkataan para karyawan tadi.
Aditya pun merebahkan dirinya dia atas tempat tidur, "Apa iya, tadi aku marah karna cemburu?" tanyanya pada diri sendiri. " Tidak. itu pri kemanuasian, tidak pantas laki-laki tua itu berbuat seperti itu pada Amel." Pikirannya membantah. "Lalu perhatianku? Perhatianku juga hanya karna nurani, bukan cinta," akunya.
__ADS_1
"Amel sudah bersuami aku harus cari tau dimana suaminya? Apa yang terjadi pada mereka hingga Amel nekat pergi dari rumah, Amel perempuan yang baik, dia selalu menjaga jarak dengan laki-laki lain, bahkan ia menutupi wajahnya hanya untuk sang suami, jika dia mencintainya kenapa dia pergi, pasti ada alasan di balik ini semua?" Aditya pun mulai penasaran.
bersambung ....