
Kabar kepulangan Sita tak hanya terdengar di lingkungan keluarga saja, nampaknya masyarakat dan juga Elena mendengar kepulangan Sita, bahkan informasi itu sampai kepada Elvira yang berada di balik jeruji besi.
Jons masih saja berkeliaran, polisi kehilangan jejaknya karna dia cukup pandai dalam hal penyamaran, kini dia merubah penampilannya agar tidak dikenali polisi, bahkan saat ia mengunjungi Elvira sekalipun para petugas kepolisian berhasil dikelabuinya, bahkan Jons dengan cepatnya mengetahui kepulangan Sita dan menginformasikannya pada Elvira.
Selama ini Jons sudah berusaha mengeluarkan Elvira dari jeruji besi, namun usahanya sia-sia, uang yang dimiliki Elvira pun tak mampu membeli kebebasannya.
"APAAA! Kau tidak salah lihat Jons," bentak Elvira saat mendengar berita itu.
Suuutttt ... Jons menyimpan jari telunjuk di bibirnya.
"Jangan keras-keras! Nanti kedengaran," ucap Jons.
"Kenapa dia kembali sih? Harusnya mereka terpisah selamanya, Jons," ucap Elvira dengan kesal.
"Aku punya rencana agar kamu bisa keluar dari sini, tapi kamu harus janji sesuatu padaku?" ujar Jons.
"Janji apa?"
"Rencana ku ini adalah untuk terakhir kalinya kita mengganggu rumah tangga mereka, setelah kamu kelur dari sini, lupakan mereka dan menikahlah denganku." Jons berusaha membuat kesepakatan dengan Elvira.
"Kau gila Jons, aku gak mau, susah payah aku menghancurkan mereka, kenapa sekarang aku harus menyerah," tolaknya.
"Baiklah kalau kamu gak mau, selamat menikmati sisa hidupmu di balik jeruji besi ini," ucap Jons lalu melengos pergi.
"Tunggu!" Elvira menghentikan langkah Jons.
Jons membalikan badannya.
"Bagaimana?" Jons mengangkat kepalanya.
"Apa kau benar-benar mencintaiku?"
Jons melangkah mendekati Elvira, Ia menghunuskan tatapannya pada Elvira.
"Apa kau tidak melihatnya Elvira, tataplah mataku! Sampai detik ini aku setia menantimu hanya karna aku mencintaimu. Kau pikir apa? Aku masih mau menjadi kacungmu selama di balik jeruji besi. Tidak Elvira."
"Baiklah! Aku setuju, katakan apa yang akan kamu lakukan?" tidak ada Expresi bahagia ataupun sedih di wajah Elvira saat mengatakannya. Entah hatinya telah mati, atau ia memang tak peduli dengan perasaannya atau pun Jons. Satu hal yang membuatnya tertawa saat ini adalah derita Sita, dan hal yang membuatnya menangis hanyalah kakaknya Darwin.
Heemm Jons tersenyum bahagia. Meski Elvira terpaksa setidaknya dia mau menikah dengannya. Jons mengerti seperti apa watak perempuan yang ia cintai, sekeras apapun hatinya, Jons yakin Elvira memiliki sisi baik juga.
"Nanti kamu akan mengetahuinya, setelah aku menemukan waktu yang tepat untuk melakukan rencana ini," ucap Jons lalu pergi meninggalkan Elvira.
Di tempat lain Elena tengah kelimpungan takut Sita menceritakan pertemuan mereka waktu itu, usahanya untuk mendapatkan kepercayaan Dino dan Ibu selamanini akan kembali sia-sia.
"Akh ... Aku harus menghilangkan rasa penasaranku," ucapnya.
Elena pun memberanikan Diri untuk menemui Dino dan Ibu, juga Sita.
Ia melangkah dengan gontai berjalan menuju rumah Dino, ia tak peduli dengan apa yang akan terjadi, namun dirinya harus memastikan rasa penasarannya apakah Sita angkat bicara tentang pertemuan itu atau tidak.
"Akh, aku harus berpura-pura lagi!" gertaknya.
Seperti biasa salam hangat ia ucapkan saat memasuki rumah itu. Pintu yang terbuka membuatnya langsung masuk begitu saja, saat pemilik rumah mejawab salam dari jarak yang agak jauh, sepertinya tengah berada di dapur.
Elena berjalan perlahan, ia celingukan lalu mengintip ke kamar Sita yang sedikit terbuka. Saat ia akan mendongkakan kepalanya, tiba-tiba Sita membuka pintu lebar.
Sontak membuat keduanya tersentak kaget.
"Elenaa!"
"Si-Sita." Elena agak gugup karna ketauan mau menguntit.
"Ka-kau sudah kembali?" tanyanya masih gugup.
"Ya, Aku kembali, ada yang salah?" dengan santainya Sita menjawab.
"Ti-tidak, maksudku, aku bersyukur kamu sudah lembali."
"Yaa, sudah seharusnya kamu bersyukur, karna aku tidak menceritakan yang sebenarnya pada Dino, maupun ibu," ucap Sita menyindir Elena.
__ADS_1
"Ma-maksudmu?"
Heumhhh ... Sita tersenyum menyeringai.
"Aku rasa kamu paham maksudku," tegas Sita lalu masuk kembali ke kamar dan mengunci pintu.
Huuuhhh ....
"Kamu kenapa sayang?" tanya Dino yang melihat istrinya membuang nafas panjang.
"Kamu bicara dengan siapa? Kelihatannya wajah mu kesal," lanjutnya.
"Benarkah wajahku terlihat kesal?"
"Ya, ada apa sayang?"
Sita terlihat bingung, setelah apa yang dikatakan Dino, akankah suaminya percaya pada kata-kakanya, sementara baginya sekarang Elena adalah pahlawan dalam rumah tangga mereka.
Sita memutuskan untuk tidak memberitahukannya dulu, akan ada waktu yang tepat untuk mengatakan hal itu.
'Sampai kapan ia terus mengejar suamiku' batinnya.
"Sayang!" panggil Dino membuyarkan lamunannya.
"Maaf!"
"Kamu kenapa? Bukannya menjawab malah melamun," tanyabDino kembali.
"El, ternyata kamua yang datang?" terdengar suara ibu yang keras menyapa Elena.
"Jadi kamu bicara dengan Elena tadi?" tanya Dino dengan lembut.
Sita mengangguk
"Kenapa? Kamu masih tidak menyukainya? Apa kamu tidak percaya kalau dia yang menggagalkan pernikahanku?"
"Lalu apa yang membuatmu kesal,"
"Aku tidak yakin, kalau dia sudah tidak menginginkanmu?"
Heemmm Dino tersenyum.
Lalu memeluk istrinya yang cemberut.
"Kau cemburu rupanya."
"Aku tidak suka padanya," tutur Sita.
"Aku juga tidak suka."
Sita melirik Dino.
"Karna aku hanya suka padamu," ucap Dino dengan mencubit manja hidung sang istri.
Tak lama kemudian, terdengar Ibu memanggil Dino.
"Ya, Bu," jawab Dino sedikit keras agar terdengar oleh ibu.
"Ada Didit. Sama Si Mbok nya nih."
Suatu kebetulan Aditya juga datang bersama Bi Marni.
"Pak Aditya, Bi Marni." seketika wajah cemberut Sita berubah sembilan puluh derajat.
Sejenak timbul perasaan tak nyaman di hati Dino dengan kedatangan Aditya kerumahnya, masih ada rasa curiga saat ia mengingat bagaimana Aditya memukulinya dengan membabi buta, namun Dino berusaha menepisnya.
Sita segera mencari cadarnya, ia lupa tadi menyimpan dimana.
"Kamu melihat cadarku, Sayang?"
__ADS_1
"Tidak," jawaban yang singkat dari Dino.
Ketikan Dino menundukan kepalanya, barulah dia sadar cadar sang istri tertindah oleh tangannya.
Ia pun berniat menggoda sang istri.
"Oh ... Aku melihatnya sayang?"
"Dimana?"
"Disini!" tunjuk Dino pada dadanya.
"Apaan sih malah bercanda, tolong carikan Pak Aditya akan menunggu lama nanti."
"Kemarilah aku tidak berbohang ada di dadaku."
Heemmhhh
Sita berjalan mendekati sang suami, ia menarik baju sang suami, dan membuka kancing bajunya.
"Eh, sayang mau apa?"
"Mau mencari cadarku yang kamu umpetin di dadamu."
Seketika Dino menenggelamkan kepala Sita ke dadanya dan memeluknya dengan Erat.
"Ikhh bukan waktunya peluk-pelukan." Sita melepas pelukan sang suami.
"Kamu menggodaku?" ujar Dino.
"Aku tidak menggodamu."
"Kau membuka kancing bajuku," lanjutnya.
"Kau yang bilang cadarku ada di dadamu."
"Bukan itu juga maksudku," jelas Dino.
"Lantas." Sita menatap ke arang sang suami.
"Maksudku aku bangga padamu.Terima kasih sudah menjaga wajah cantikmu hanya untukku."
Sita pun senyum tersipu malu.
"Lalu dimana cadarku?"
"Ini." Dino mengangkat tangannya yang memegang cadar sang istri
"Ya ampun sayang, kenapa gak bilang dari tadi. Sini!"
"Biar aku pakaikan!"
"Aku bisa sendiri."
"Aku tau."
"Ya sudah." Sita pun pasrah.
Dino memakaikan cadarnya di wajah sang istri dengan penuh kebanggaan, lalu tersenyum dan mengecup keningnya.
"Sekali lagi, terimakasih sayang,"
Sita mengangguk, ia tersenyum lalu membalas kecupan kening sang suami.
"Ayo, mereka menunggu terlalu lama," kata Sita.
bersambung ....
jangan lupa, like, komen, pavorit dan hadiahnya juga ya readers❤❤❤😘😘😘
__ADS_1