
Dengan penasaran ibu ingin membuka kotak tersebut, ia menyelidiknya, dibukanya kotak itu, namun ketika itu Dino memanggil.
"Ibu!" panggilnya sedikit keras.
Iya Din, kemudian ibu menutup kembali kotak tersebut tanpa melihat apa isinya, dan meletakkannya diatas meja. Ibu berjalan melangkah menemui Dino. Di tutupnya pintu kamar dan berjalan keteras depan.
"Iya, Din ada apa?"
"Dino mau pamit, Bu, maaf Dino manggil ibu gak nyamperin, Dino terburu-buru,"
"Tidak apa-apa sayang, hati-hati di jalan ya!"
"Baik, bu," Dino pun mencium punggung tangan ibu, dan mengucapkan salam.
Sita yang sedari tadi berdiri di sanapun mencium punggung tangan suaminya, sang suami pun mengecup kening istri.
Tak lupa Dino pun berpamitan pada abah yang sedang duduk di kursi yang ada di teras. Dino pun berangkat menjalankan kewajibannya.
***
__ADS_1
Sebelum ke rumahnya, ternyata Elvira benar-benar mengunjungi makam kakaknya dan kedua orang tuanya yang bersebelahan di sanana.
Elvira duduk, bersimpuh di salah satu makam, yaitu makam kakaknya, ya karna selama hidupnya Elvira hanya mengenal kakaknya. Dia terlihat berdoa, memberi air dan menabur bunga di atas makam keluarganya.
Sang penjaga makam yang melihatnya pun datang menyapa, " Nak, Elvira, sudah lama anda tidak kemari?" tanya penjaga makam itu.
"Iya Pak, saya agak sibuk."
"Pantesan, bapak sedih kalau kamu gak datang kemari, karna bapak sangat bangga pada mu dan nak Darwin yang selalu mendoakan kedua orang tua kalian, sekarang nak Darwin sudah tiada, bapak berharap Nak Elvira tetap sering kemari mendoakan mereka."
Elvira terenyuh sedih mendengarkan ucapan bapak penjaga makam itu, 'Bangga, baik, apa, dia bilang bangga pada ku, rasanya kata-kata itu tak pantas untukku' batinnya.
Dulu Elvira adalah anak yang baik, dia hidup berdua dengan sang kakak dengan bahagia, setiap hari jumat, dia dan kakaknya selalu datang ke makam orang tuanya, mendoakan mereka, sehingga penjaga makam itu mengenal mereka dengan baik. Meski Darwin sering mabuk-mabukan karna salah bergaul, tapi dia tetep menyayangi orang tuanya, dan selalu mendoakan mereka bersama sang adik.
Penjaga makam terharu pada kedua anak yatim piatu itu terlihat rukun, akrab dan akur, mereka tidak terlihat seperti adik kakak, mereka lebih terlihat seperti teman dekat. Bahkan terkadang ada yang mengatakan mereka sebagai sepasang kekasih.
Sayangnya kematian sang kakak meningglkan luka yang paling dalam, pikirannya yang sempit menghadirkan dendam. Bukannya mengikhlaskan kepergian sang kakak dia malah menyalahkan sang kekasih sebagai penyebab kematian sang kakak. Kesepian, sedih, sendiri, sebatang kara, menderita, itu yang merasuki pikirannya, satu-satunya kakak yang dia miliki pergi meningglknnya demi mengejar seorang wanita. Sejak kematian kakaknya dirinya berubah sembilan puluh derajat menjadi seorang pendendam.
Namun sayang nasib tidak berpihak lagi padanya, mencoba mengukir duka buat Sita malah dirinya juga ikut terluka. Kehilangan kehormatannya, bahkan kasih sayang seorang ibu yang ia dapat dari bu Erni, bisa saja hilang kembali jika semua orang mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
__ADS_1
sudah jatuh tertimpa tangga pula.
"Rencana ku gak boleh gagal, aku sudah masuk terlalu dalam." meski begitu pikirnya terus di delimuti dendam. lalu ia pun pergi beranjak dari sana.
Jons sudah tak sabar menunggu Elvira datang, di rumah Elvira. Baginya sangat mudah memasuki rumah Elvira, dia memahami setiap sudut rumah Elvira, ia tau ada satu jendela yang tidak pernah Elvira kunci untuk memudahkan dirinya masuk kedalam rumah.
Dengan santai Jons duduk di ruang tamu, di temani secangkir kopi panas. Dirasa terlalu lama menunggun Elvira, ia pun melihat terus jam tangannya.
"Kemana, perempuan itu? Lama sekali? Bukannya dia pergi dari sebelum subuh? Ini hampir jam tujuh pagi, kenapa dia belum sampai? Apa dia membohongiku? Rupanya mau macam-macam dia denganku?"
Jons merasa kesal ia pun geram dan bangkit dari duduknya. Dirogohnya saku celana depannya, di keluarkannya hand phone dan dia mencoba menelpon Elvira. Belum sempan ia menekan tombol panggil, pintu rumah terbuka, dan Elvira pun datang.
Mendengar pintu di buka Jons melihat kearah pintu, "Elvira, akhirnya kamu datang sayang," ucap Jons dengan gembira, ia pun memasukkan hand phonenya kembali ke saku celananya.
Elvira berjalan melangkah dengan susah payah, masih dengan tongkatnya. Langkahnya terlihat lemah dan pasrah.
Melihat itu, Jons pun bertanya, "Kenapa wajahmu lemas seperti itu," Jons memegang dagu Elvira.
"Ayolah sayang, jangan murung seperti itu, mana Elvira yang ku kenal, ayo kita bersenag-senang!" ucapnya dengan membuka tangannya lebar lalu memeluk Elvira. Elvira hanya diam menunduk tak membalas.
__ADS_1
"Kenapa Jons? Kenapa kamu memanfaatkanku seperti ini, kau teman kakak ku yang baik bukan? Kakak ku bilang kamu yang akan melindungiku, nyatanya kau yang menghancurkan hidupku Jons, kenapa kau potret diriku, saat melakukannya denganmu?" ucapnya dengan lirih.