Al-fatihah Pembuka Jodoh

Al-fatihah Pembuka Jodoh
Aditya Mengakui Cintanya


__ADS_3

Selang satu jam Sita dan Dino belum juga datang. Ratih nampak gusar menunggunya, dia terus melihat jam tangan yang melingkar indah di tangannya.


"Kau sudah kesal menunggunya?" tanya Aditya yang menghampirinya kembali.


Ratih memalingkan wajahnya dari Aditya.


Aditya tau kalau dia tersinggung oleh sikapnya tadi.


"Maafkan atas sikapku tadi. Perkenalkan namaku Aditya." Aditya mengulurkan tangannya.


Mendengarnya meminta maaf lagi, Ratih pun menghadapkan kembali wajahnya pada Aditya, dan menjabat uluran tangannya.


"Tidak apa-apa, lain kali jangan melakukannya kembali. Nama saya Ratih," ucap Ratih sedikit ketus.


Namun Aditya tak menanggapinya.


"Sudah lama mengenal Sita dan Dino?" tanya Aditya.


"Sita temen kerjaku, dia satu kamar kontrakan denganku, kami berpisah saat Sita menikah dengan Dino, tapi kami masih bisa ketemu sesekali. Namun, sejak saya menikah kami sudah tidak pernah ketemu lagi, apa lagi Sita sudah berhenti bekerja," tutur Ratih.


"Oh, pantesan."


"Pantesan apa?" tanya Ratih.


"Pantesan kamu terlihat dekat sama Dino, ternyata kamu sudah lama mengenalnya."


"Tidak dekat juga, karna kami jarang sekali bicara, aku lebih sering ngobrol sama Sita, Dino hanya sekedar menemani Sita saat bertemu denganku. Jadi yang kamu katakan itu salah ya, mungkin bukan terlihat dekat, tapi emang Dino orangnya peduli, gak kayak kamu yang sembarangan nuduh orang!" papar Ratih masih ketus.


"Kamu juga salah Rat, Pak Aditya tidak seperti yang kamu pikir, dia juga orang yang baik dan sangat peduli." Sita datang menyela pembicaraan Aditya dan Ratih. Dengan tangan yang mendorong kereta bayi. Dino berada di belakang Sita dengan mendorong kereta bayi berwarna sama.


"SITA!"


"RATIH!" Buliran bening seketika menggumpal di bola mata keduanya.


'Hemmm ... masih saja manggil Pak, susah banget apa manggil panggilan lain buatku' batinnya Aditya kesal.


Dino nampak senang mendengar Sita masih saja memanggil Aditya dengan panggilan Pak, sekejap ia melirik Aditya yang terlihat kesal, meski berusaha menutupinya, namun Dino masih bisa melihatnya.


"Ini tuh ceritanya bahagia atau sedih sih, kok acaranya tangis-tangisan?" tanya Aditya saat melihat pelukan dianatara keduanya menghasilkan linangan air mata.


Dino hanya mengangkat bahunya.


"Pak Aditya itu gak akan ngerti, bagaimana perasaan perempuan," ucap Sita setelah mengurai pelukannya, dan mencoba menghentikan air matanya.


Namun Ratih masih saja terus menangis dan memeluk kembali Sita.


Sita pun merasa heran.

__ADS_1


Selama di perjalanan Dino tidak menceritakan apapun. Ya itu karna Dino tidak mau Sita panik.


"Rat, apa yang terjadi padamu?"


Ratih terus menangis


Sita melihat ke arah Dino dan Aditya.


Dino yang sudah mengerti keadaan Ratih pun, menarik tangan Aditya untuk mengajaknya pergi dari sana, karna merasa Ratih tidak akan mau bercerita jika ada mereka.


"Din, kenapa kamu menarikku?"


"Itu urusan perempuan, kita ngopi saja di meja lain. Oh ya, tolong bawain Rafka, aku bawa Arvi," pinta Dino.


Aditya pun menuruti kemauan Dino.


"Itu cewe kenapa Din, nangis mulu perasaan, pas tadi datang kesini juga matanya sudah sembab," ucap Aditya yang sudah duduk dengan Dino dimeja lain yang jauh dengan tempat duduk Sita dan Ratih.


"Mungkin ada masalah dalam rumah tangganya, untuk itu ku bawa istriku kesini, mereka sahabat baik, dan selalu berbagi maslah apa pun,"


"Aku pikir dia selingkuhanmu." Aditya keceplosan.


Heummm Dino nyengir.


"Sudahku duga," ucapnya dengan santai.


"Jadi kamu tau kalau aku mencurigaimu."


"Terlihat jelas di wajahmu."


Tiba-tiba Aditya merasa khawatir.


"Apa lagi yang kau lihat di wajahku, Apa kamu bisa melihat semuanya?" tanyanya penasaran.


"Semua terlihat di wajahmu, termasuk perasaanmu pada istriku."


Deg ...


Seketika Aditya kaget.


"A-apa maksudmu Din?" ucapnya berubah menjadi gugup.


"Aku tau, amarahmu waktu itu, bukan amarah biasa, apalagi beralasan kemanusiaan," ucap Dino, lalu menatap Aditya.


Aditya dibuat semakin kaget oleh ucapan Dino, ia tak berani membalas tatapan Dino yang seolah menghakimi.


"Te-tetapi--"

__ADS_1


"Tetapi itu cinta." Dengan tegas Dino memangkas ucapan Aditya.


Deg ...


"Din, a-aku--"


"Kau tidak salah. Cinta itu anugrah, Allah yang mengirim perasan itu padamu, apa hak ku melarangnya, tapi aku juga tau Allah 'lah yang mengirimkan kesetiaan di hati istriku, hingga istriku tak sedikit pun terlena oleh ketampananmu atau pun hartamu yang jauh lebih berlimpah. Jujur, dalam doaku, aku berharap Alloh segera mengambil rasa itu di hatimu."


Aditya di buat tertunduk malu oleh semua perkataan Dino. mengingat dia yang tak punya hak apa-apa atas diri Sita membabi buta meninjunya.


Tiba-tiba Aditya pun lemas. Ia menyadari dirinya sudah salah, ia heran kenapa Dino tidak membalasnya.


"Setelah tau semua ini, kau tetap diam? Kau tidak mau memukuliku seperti aku memukulmu," tanya Aditya.


"Sebenarnya aku mau, tapi kupikir lagi untuk apa? toh Sita tetap memilihku."


Deg ...


Aditya semakin merasa malu mendengar Dino mengatakan itu, tidak seharusnya dia terus berusaha mendekati Sita, karna Sita memang sangat mencintai Dino.


"Din, aku minta maaf. Aku tidak tau sejak kapan aku jatuh cinta pada Sita, ini pertama kalinya aku jatuh cinta, aku bahkan tidak menyadari ini cinta, yang ku tau aku tak suka jika ada yang menyakitinya, aku khawatir padanya, dan aku ingin melindunginya, di situ barulah aku sadar aku mencintainya."


Seketika Dino menarik kerah baju Aditya. Menatap Aditya dengan tajam, dadanya naik turun terasa sesak mendengar penuturan itu langsung di mulut Aditya, namun kemudian ia melepaskannya kemabali. Dalam sekejap Dino berhasil mengendalikan amarahnya.


Aditya sungguh merasa ketakutan.


Seharusnya Aditya tidak perlu mengakuinya, bisa saja Dia mengelak, Dino mungkin hanya, mengecohnya, namun Aditya begitu polos terkecoh begitu saja oleh perkataan Dino.


"Aku harap kamu menguburnya, karna kau sudah salah berlabuh," tutur Dino.


Tiba-tiba Aditya pun menangis, tangan yang sudah di kepalkannya ia pukulkan keatas meja dengan perlahan.


"Aku memang bodoh, Din, aku memang bodoh, sejak Awal Sita bilang padaku dia memiliki suami, bahkan dia menutupi wajahnya demi menjaga kehormatan sang suami, tapi kenapa aku malah menyukainya, aku bodoh Din, aku mohon maafkan aku."


"Syukurlah kalau kau menyadari kesalahanmu, aku harap kau memahami perasanku," ucap Dino dengan menepuk pundak Aditya.


"Thank, Din. Aku akan berusaha melupan Sita." ucap Aditya lalu menautkan tangannya di tangan Dino.


Di meja sana Ratih terus menangis tersedu-sedu, menceritakan kenyataan pahit yang baru saja ia ketahui tentang suaminya Bimo.


Sebelum menikah dengan Ratih ternyata Bimo sudah menikah dengana perempuan lain, namun selama bertahun-tahun belum juga di karuniai kerurunan.


Hingga suatu ketika di perusahaannya bertemu dengan Ratih yang memiliki body menarik dan sexy, membuatnya memikirkan ide konyol untuk menutupi nafsunya.


Dengan Alasan ingin memiliki keturunan Bimo meminta keluarganya mengijinkan dia menikah lagi, dan ternyata ide konyolnya itu malah di dukung oleh istrinya, dan orang tua kedua belah pihak. Miris sekali.


Namun dibalik persetujuan mereka ternyata ada syarat yang memberatkan Ratih. Ratih yang bahkan tidak tahu kalau Bimo sudah menikah, harus menyerahkan bayinya pada mereka setelah melahirkan nanti.

__ADS_1


bersambung ....


__ADS_2