Al-fatihah Pembuka Jodoh

Al-fatihah Pembuka Jodoh
Harapan


__ADS_3

Pernikahan di undur satu minggu lagi, Sita berada di kampung untuk acara tahlilan sang ayah, setelah itu ia harus menerima pahit saat kembali kekota.


Kakak kaka Sita belum tau perihal masalah yang di hadapi Sita, Sita pun memilih diam tak mau menceritakan semua.


Setelah acara tahlilan selesai, Dino mengajak Sita kembali pulang ke kota kembang, "Ayo sayang, tahlilan sudah selesi sekarang kita pulang kerumah!" ajak Dino pada sang istri yang tengah merenung di teras depan rumah sang abah.


"Boleh aku tinggal disini saja!" pinta Sita.


"Apa maksudmu Sayang?"


"Abah sudah tiada, biar aku mengisi rumah ini disini, lagian kamu--" ucapnya terhenti karna kedatangan kak Riri.


"Sita kamu pulang saja, biar disini kakak yang urus."


"Sita masih betah disini kak, sita gak mau pulang." bohongnya. Padahal ia enggan kembali ke sana jika harus menghadapi pernikahan kedua sang suami.


Dino menghela nafas panjang, ia paham apa yang di rasakan sang istri.


"Kak Riri benar, kita harus kembali, ada kakak mu disini," kekeh Dino.


"Iya Sita, pulanglah!"


"Akhirnya dengan berat hati Sita pun pulang bersama sang suami,"


Sesampainya di rumah, pintu di bukakan oleh Elvira, ibu yang nampak kurang Enak badan setelah kejadian abah meninggal, terus berdiam diri dikamar.


Sita tersentak saat melihat Elvira.


"Assalamualaikum," Dino dan Sita mengucap salam.


"Waaliakumsalam," jawab Elvira.


"Ibu ..." Dino memanggil ibu tanpa menanyakannya pada Elvira.


"Ibu dikamar." Elvira inisiatif memberitahu.


Dino dan Sita pun melangkah berjalan kekamar ibu.


Melihat ibu berbaring dengan lemah Sita pun nampak hawatir, "Ibu, ibu baik-baik saja?" tanya Sita khawatir.


"Ibu, baik-baik saja sayang, hanya sedikit pusing."


"Ibu sudah minum obat?" tanya Sita.


"Sudah, sayang."

__ADS_1


"Dino, Ibu ingin bicara dengan Sita berdua, bisa tinggalkan kami sebentar?" tutur ibu.


"Baik bu," ucap Dino.


"Duduklah disini sayang!" pinta ibu.


Sita mengangguk dan duduk. "Ada apa bu?"


"Sita, besok Dino akan menikah dengan Elvira," ucap Ibu dengan menangis.


Sita seketika menunduk.


"Ibu, harap cinta mu padanya tidak berkurang, dia sangat mencintaimu, tolong tetaplah bersamanya apapun yang terjadi,"


Deg ...


Seketika Dada Sita terasa sesak, ia tak mampu menjawab apapun. Air matapun kembali menetes membasahi pipi.


"Nak," jawablah.


"Sita sangat mencintai Dino bu, tapi Sita tidak bisa menerima kehadiran perempuan lain di pernikahan kami bu." Tak mau mendengar pertanyaan ibu lainnya Sita pun berdiri hendak pergi.


"Nak, Ibu belum selesai."


"Maaf ibu, saat ini Sita belum bisa berpikir apa pun, Sita tidak mau membicarakan hal ini dulu. Pemisi bu," Sita pun beranjak pergi.


"Apa ini bu?" tanya Sita heran.


"Ibu sudah tidak membutuhkan ini semua, ibu sudah tua, itu semua untukmu,"


"Tidak bu, simpan saja ibu pasti membutuhkannya."


"Tidak, jangan tolak ibu. Ambillah!" paksa ibu.


"Baik bu, terimakasih," Sita pun menerima set perhiasan dari ibu.


Sebagai seorang perempuan, diberi set perhiasan seperti itu tentunya sangat bahagia, namun kesedihannya yang lebih besar menenggelamkan semua kebahagiaan. Karena kebahagiaan baginya saat ini adalah keutuhan rumah tangganya.


Sepeninggal Sita ibu pun menangis, "Ibu, takut kamu meninggalkan Dino, nak, entah kenapa perasan ibu tidak enak," ibu bicara sendiri.


"Ibu bicara apa, Sayang," tanya Dino yang melihat Sita masuk kedalam kamarnya.


"Tidak bicara apa-apa. hanya minta di temenin, dan ibu ngasih ini." Sita memperlihatkan kotak perhiasan itu pada Dino, kotak perhiasan yang indah dengan set kalung cincin dan gelang yang sangat indah.


"Ini perhiasan kesayangan ibu, ibu memberikannya padamu!" ucap Dino dengan gembira.

__ADS_1


"Ya!" jawab Sita tanpa expresi.


Melihat Sita seperti itu, Dino pun kembali sedih, wajah Sita nampak muram cahaya indah wajahnya tenggelam dalam kesedihan.


Bagai raga tak bernyawa, dalam duka yang tengah ia hadapi, sang penguat hati malah di panggil sang ilahi.


"Sayang," Dino memeluk sang istri yang duduk kaku seperti patung.


"Kehancuranmu adalah kehancuranku, aku tak tahan melihatmu seperti ini, apa kamu masih mau ikut aku pergi dari sini, koper masih belum kita bongkar, kita bisa langsung pergi sekarang."


"Apa kamu tega meninggalkan ibu sendiri," ucap Sita dengan lirih.


"Ibu lebih berhak atas dirimu di banding aku, tak baik jika aku membiarkanmu pergi meninggalkannya."


"Kenapa kamu selalu bicara seperti itu, jangan pernah mengingkari hati, karna itu akan sangat menyakitkan."


"Aku tau, biarkan sakit itu ku tanggung sendiri"


Dino mengarahkan badan Sita menghadap kepadanya.


"Kenapa kau yang menanggungnya sendiri, disini aku pun terluka," ucap Dino menatap Sita, namun Sita tak membalas tatapannya dia menundukan kepalanya dengan tatapan yang kosong.


"Besok kamu pun akan menemukan bahagia, bersama istri barumu, dia gadis yang baik, dia pasti bisa mengambil hati mu dan Ibu, mungkin dia akan lebih baik dari ku!" ucap Sita dengan tatapan kosong masih berderai air mata.


"Apa yang kamu katakan!" Dino mengangkat dagu sang istri sehingga kini mata mereka bertemu. "Kau pikir setelah ini aku akan bahagia dengannya, bahagia diatas penderitaanmu. Apa kamu pikir aku akan berpaling darimu. Kamu meragukan kesetiaanku lagi?" Dino pun berkaca ia melepaskan dagu isrtinya dan mengalihkan pandangan, ia berdiri dengan prustasi meremas rambutnya dengan kedua tangan, ia berjalan kearah jendela. Menyimpan tangan nya di tembok, kini tatapan matanya hanya memandang langit yang kosong."


Sita seolah tak peduli, ia pun membaringkan dirinya dan menyelimuti seluruh badannya.


Dino pun mengalihkan pandangan pada Sita, "Jangan kamu sembunyikan tangismu di balik selimut itu, aku tau air matamu tak bisa kau bendung"


Dino pun duduk di atas tempat tidur tanpa mengganggu Sita, ia pun membaringkan dirinya di sebelah Sita.


Langit cerah yang kosong, kini berubah menjadi gelap, bintang mulai bermunculan menemani sang rembulan malam.


Setelah mereka menjalan kan shalat mereka pun memejamkan mata yang telah dan lelah membengkak karna menangis seharian. Tak ada pembicaraan diantara mereka mereka semua sibuk dengan kesedihan masing-masing, Dino pun tak ingin banyak bertanya lagi karna itu hanya akan membuat istrinya semakin terluka.


Tiba waktu disepertiga malam, Sita bangun diam-diam perlahan ia melangkah takut membangunkan sang suami, ia oun mengambil air wudu dan melaksanakan shalat tahajud.


Ia tumpahkan segala keluh kesahnya pada sang kuasa, hingga di akhir doa ia meminta, "Ya Alloh, sampai detik ini aku bertahan mempertahankan pernikahan, hanya karna keyakinanku padamu, keajaiban demi keajaiban terus menjadi harapanku, aku masih punya harapan sampai esok pagi, pernikahan di batalkan atas kuasamu, sungguh aku takan sanggup melihat suami ku bersanding dengan perempuan lain," isak tangis Sita dalam doa.


"Aamiin," nampaknya Dino telah terbangun, mendengar semua do'a Sita, ia memejamkan matanya kembali agar Sita tak mengetahui dirinya telah terbangun.


Tentunya Dino pun memiliki harapan yang sama, seperti yang di harapkan sang istri.


Bersambung ...

__ADS_1


Besok adalah hari pernikahan apakah harapan mereka akan terkabul ... Jangan lupa like komennya reader ku tercinta❤❤❤ harap bersabar menanti bahagia😘😘😘


__ADS_2