
"Baik Non, Bibi cari dia ya, siapa tau dia masih disini?"
Bi Marni menelusuri setiap lorong jalan rumah sakit, mencari keberada Dino. Pandangannya terus beredar kesetiap penjuru jalan eumah sakit, mencari sosok tampan pemilik suara indah itu, "Dimana dia ya, apa dia sudah pergi?"
Bi Marni terus berjalan dengan cepat meyusur setiap tempat di rumah sakit,
"Akh kenapa gak keruang bayi lagi sih nyarinya," ujar Bi Marni.
Bi Marni pun segera berjalan menuju ruangan bayi, benar saja Dino berada disana tengah menggendong bayi itu dengan penuh kasih sayang.
Bi Marni memperhatikan Dino yang menggendong bayi dengan telaten, pancaran Aura seorang ayah yang baik, sayang dan perhatian pada bayinya, terlihat begitu kuat, terlihat bayi itu begitu nyaman di pangkuan Dino.
'Andai Non Amel, punya suami sebaik dia, pasti bayinya sekarang tengah di gendong senyaman mungkin di pangkuannya' pikirnya.
Dino yang tengah memangku bayi itu dengan menina bobokan, dan mengayun-ayunkannya, melihat Bi Marni di depan pintu.
"Anda!? Sedang apa Anda disini?" tanya Dino.
Bi Marni pun masuk kedalam.
"Nama saya Bi Marni, Non Amel mau bertemu dengan orang yang sudah mengadzani putranya, apa Tuan bersedia menemui Non Amel sebentar?" tanya Bi Marni.
"Tentu saja, kenapa tidak?" jawabnya.
"Terimakasih Tuan, tuan memang baik," puji Bi Marni.
Dino pun tersenyum. "Bibi bisa saja."
Dino meletakan kembali bayinya di atas ranjang.
"Mari!" ucap Dino.
"Ayo Tuan." Bi Marni dan Dino pun berjalan menuju ruangan Amel.
Entah kenapa jantung Amel semakin berdebar, Amel nampak gusar menanti kedatangan seseorang yang sudah mengadzani bayinya.
Tiba-tiba pintu sedikit di buka.
Ceklek ....
Dreettttt ... Dreetttt ....
"Saya angkat telepon dulu," ucap Dino pada Bi Marni yang sudah di depan pintu.
Deg ... Deg ... Deg ...
"Suara itu." Suara Dino terdengar oleh Amel.
Amel semakin tak sabar, kenapa pintu belum juga terbuka lebar.
"Ada apa Amel?" tanya Aditya yang melihatnya gusar.
__ADS_1
Tanpa menjawab Aditya, Amel segera turun dari ranjangnya, sambil menggendong bayinya, dadanya semakin berdebar, sebelum melangkah, dia berjalan mondar mandir sekitar ranjang.
"Kamu kenapa?" Aditya bertanya kembali, ia semakin bingung melihat tingkah Amel.
Amel hanya melihat Aditya sekilas dan menggelengkan kepalanya.
"APA! Baiklah." Dino menutup telepon. "Maaf saya terburu-buru." Dino langsung pergi tanpa menunggu jawaban Bi Marni.
Amel tersentak kembali mendengar suara itu.
"Tapi, Tuan." Bi Marni menatap kepergian Tuan itu begitu saja dan merasa heran.
Sekali lagi, suara itu terdengar di telinganya. Amel segara melangkah dan langsung membuka pintu dengan lebar.
"Dimana, dia?" ucap Amel dengan nafas yang tak beraturan, matanya beredar di setiap sudut ruangan.
"Mana dia Bi?" tanya Amel dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Non?" Bi Marni heran melihat Amel seperti ini.
"Dimana dia, Bi?" tanyanya lagi.
Tiba-tiba Amel menangis, membuat semua orang yang berjalan di depannya melirik ke arahnya.
"Dimana dia Bi," tangisnya semakin histeris. "Aku merindukannya, aku merindukannya, Bi, aku merindukannya," Isak tangis Amel yang semakin histeris. Amel menyandarkan dirinya ke pintu dan perlahan ia menjatuhkan badannya kebawah, namun tangan lembutnya masih tetap memeluk erat sang bauah hati.
Aditya menghampiri Amel "Apa yang terjadi padamu Amel, bangunlah!"
Bi Marni pun membimbing Amel berdiri dan melangkah membawanya kembali kedalam ruangan.
"Berbaringlah! Sini biar bayimu bibi yang gendong," ucap bi Marni lalu menggendongnya.
"Tenangkan diri Non, Non Amel tidak boleh stres," ucap Bi Marni yang melihat Amel masih menangis.
"Suara itu aku mengenalnya, Bi, Dia pasti suamiku," tutur Amel dengan yakin.
"Kalau dia suamimu, untuk apa dia mengadopsi seorang bayi, bukankan istri keduanya juga tengah hamil, mungkin saja dia juga sudah melahirkan," tutur Bi Marni.
"Apa! Mengadopsi bayi." Amel sedikit kaget.
"Iya, Non, bibi sudah bilang kalau dia sedang mengurus berkas untuk adofsi bayi."
"Mungkinkah aku terlalu merindukannya, Bi, hingga aku mendengar suaranya ada disini."
Setelah berbulan-bulan, mendengar Amel mengucap kata rindu kembali untuk suaminya kini Aditya mulai menunjukan kekesalan, meski ia masih belum menyadarinya.
"Kalau kamu merindukannya, pergi dan temui dia, jangan kau siksa dirimu seperti ini Amel!" tutur Aditya dengan kesal.
Deg ...
Amel terhentak mendengar Penuturan Aditya yang terdengar kesal. Bi Marni pun tak kalah kagetnya dengan Amel.
__ADS_1
Mereka berdua menatap Aditya. Sadar dirinya di tatap oleh kedua wanita di hadapannya Aditya pun mencoba mengontrol emosinya.
"Maaf, aku sedikit kasal, memang benar bukan, kalau kamu merindukannya lebih baik temui dia." Aditya pun merendahkan suaranya, lalu pergi keluar.
Bi Marni mengikutinya. Ia melihat Aditya tengah duduk di kursi tunggu, terlihat sedang memegang keningnya.
"Pak Aditya!" panggil Bi Marni dengan lembut.
Aditya pun menoleh pada Bi Merni.
"Apa pak Aditya mencintai Amel?"
Deg ...
Pertanyaan Bi Marni ini membuat Aditya serba salah. "A-apa maksud Bi Marni," jawabnya dengan gugup.
"Kenapa Pak Aditya kesal, mengetahui Amel begitu merindukan suaminya?"
Menyadari itu Aditya pun mengambil nafas dan menghembuskannya perlahan.
"Apa itu cinta, Bi?" tanya balik Aditya.
"Itu, namanya cemburu, pak Aditya tak rela mendengar Amel merindukan suaminya."
"Aku mengatakannya karna aku tak tega melihatnya menderita seperti itu,"
sanggahnya.
Hemmm Bi marni tersenyum.
"Pak Aditya mengatakannya dengan kesal, seolah menyuruhnya pergi menemui suaminya namun tidak rela. Pak Aditya mengkhawatirkannya karna tak mau terjadi sesuatu padanya. Kekesalan seperti itu menurut Bibi, bentuk lain dari cinta,"
"Benarkah, Bi, jadi aku mencintai Amel? Aku tidak ingin terjadi sesuatu padanya, aku ingin selalu melindunginya, aku tidak suka melihatnya tersiksa seperti tadi, aku senang melihatnya tersenyum, aku bahkan tak rela jika ada yang menyakitinya sekalipun itu suaminya, aku bahkan ... siap jadi ayah dari anaknya Amel." tuturnya seolah tak percaya akan perasaannya.
Bi Marni tersenyum.
Aditya menghampiri Bi Marni dan memegang kedua pundaknya. "Apa ini Benar-benar cinta, Bi?"
Bi Marni mengangguk.
Tiba-tiba raut wajah Aditya pun berubah menjadi gembira.
"Kenapa aku merasa bahagia, aku belum pernah jatuh cinta, Bi. Sungguh." Nafasnya kini tak beraturan.
Bi Marni bahagia melihat wajah Pak Aditya begitu berseri dan bahagia, belum pernah ia melihat wajah pak Aditya sebahagia ini, ia baru hanya menyadri cintanya saja sudah begitu bahagia apalagi jika cintanya di terima Amel dengan baik. Terlalu sering mengikuti hati nuraninya yang baik, membantu setiap orang yang membutuhkan tanpa membeda-bedakan, membuat dia tidak bisa membedakan mana cinta dan mana kemanusian.
Namun Bi Marni khawatir, Pak Aditya akan sangat terluka karna telah salah melabuhkan cinta, Amel begitu sangat mencintai suaminya, ia menghindari suaminya karna tak mampu melihat sang suami bersama perempuan lain, namun hatinya tetap sangat mencintai sang suami. hal yang tak mungkin buat Amel berpaling dari suaminya. Bagaimana nasib pak Aditya jika sampai Amel dan suaminya bersatu kembali.
Didalam ruangan Amel memikirkan apa yang dikatakan Aditya, menurutnya benar dia harus menemui sang suami, Amel memutuskan besok dia akan menemui sang suami mempertemukannya dengan sang buah hati, moment bahagia ini tidak boleh terlewatkan.
"Arvi Aldino, itu namamu nak, seperti nama ayahmu Prabu Aldino, kalian akan jadi dua jagoan mama yang sangat mama sayangi," ucap Amel lalu mengecup kening sang buah hati.
__ADS_1
Bersambung ....