Al-fatihah Pembuka Jodoh

Al-fatihah Pembuka Jodoh
Bimo Menemukan Ratih.


__ADS_3

****


Terlihat Bimo tengah prustasi, setelah percarian Ratih kemarin yang tidak membuahkan hasil.


Bimo khawatir terjadi sesuatu pada Ratih, walau bagaimana pun dirinya sudah sangat menyakiti sang istri.


Semua kenangan tentang Ratih kini terus membayangi jiwanya satu persatu.


Laju Mobilnya kini mengarah ke sebuah tempat yang pernah menjadi tempat favorit mereka berdua, ada harapan Ratih mengunjunginya.


Andai Ratih berada disini, dia akan memeluknya dan meminta maaf setulus tulusnya, meski kini dia tau, mungkin kebencian yang tengah ada di benak Ratih, itu yang tengah Bimo pikirkan saat ini.


Tempat demi tempat Bimo datangi, namun harapannya bertemu sang istri belum juga terpenuhi, kini saat dirinya kembali kerumah dengan langkah yang lelah dering ponsel pun terdengar, dirogohnya sku celana, terlihat satu nama bodygurdnya memangngil. Dengan semangat Bimo mengangkatnya.


"Katakan! Kau menemukannya?"


"Saya melihatnya, istri tuan berada disebuah rumah mewah di jalan xxx, dia tengah menangis duduk di teras rumah itu," jelas bodygurd itu.


"Tunggu saya, saya akan kesana, tetap pantau dia jangan sampai kehilangan jejak lagi," Tegasnya.


Bimo pun segera bergegas pergi menemui Ratih, " Kau pasti kecewa, Sayang. Aku akan menjelaskan semuanya, apa yang kamu khawatirkan tidak akan terjadi," guman Bimo mengiringi langkahnya.


Setelah Bimo melaju, sebuah mobil mewah berwarna merah melaju di belakang Bimo, mengikuti kemana Bimo pergi.


"Aku tidak akan membiarkanmu bahagia bersama Ratih, Bimo," gumam Siska saat menyetir. "Kau sudah membodohiku."


Nampaknya Siska telah mendengar semua yang dibicarakan Bimo bersama Mely dan Rudi di kamar waktu itu, dia tidak terima dirinya di permainkan oleh Bimo, cinta yang dipikirnya tulus ia dapatkan dari Bimo, ternyata hanya kepura-puraan di atas kesepakatan kedua orang ruanya, rasa ini yang seharusnya di rasakan Ratih saat dirinya membuat kesepakatan atas hak anak Ratih, dan perceraiannya dengan Bimo, kini berbalik arah padanya.


Kesepakatan diatas kesepakatan.


Siska sangat mencintai Bimo, saat dia tau Bimo menyetujui perjodohan kedua orang tuanya dia pikir Bimo juga mencintainya, terlebih selama ini Bimo selalu memperlakukannya dengan manis, namun kenyataan pahit yang ia tau sekarang manisnya sikap Bimo hanya sebuah keterpaksaan di atas sebuah kesepakatan.


Dia pikir masalahnya selama ini hanyalah masalah keturunan, dia rela mengambil langkah bodoh menyetujui pernikahan Bimo dan Ratih, hanya demi mendapat keturunan. Namun, nyatanya Bimo adalah masalah yang sesaungguhnya, tak pernah sedikitpun dia mencintainya. Sakit, kecewa yang ia rasa kini, membuatnya tak peduli lagi dengan tujuan perjanjiannya bersama Bimo.


Bimo telah sampai dikediaman Aditya, dengan kasar dia menekan bel rumah itu, Pak Satpam pun segera mebukakan pintu gerbang.


"Ada apa ya, Pak?" Bimo tidak menghiraukan pertanyaan satpam, dia menerobos masuk kedalam bersama para bodygurd-nya.

__ADS_1


Ratih pun tersentak kaget melihat kedatangan Bimo kerumah Aditya.


"Berhenti disitu Bimo! Jangan berani melangkah lagi!" Ratih memperingatkan Bimo agar tidak masuk lebih dalam.


"Ratih aku mohon, ikutlah denganku!" Bimo memohon pada Ratih.


Pak Satpan segera menghubungi pemilik rumah yang sedang berada di Cafe. Dengan segera Aditya melaju kembali kerumah.


"Sekali lagi aku bilang berhenti Bimo!" bentak Ratih dengan terisak.


"Ya Alloh, Non ada apa ini? Ini orang gede-gede gini mau ngapain?" tanya Bi Marni.


Bimo tak menghiraukan perkataan Ratih dan Bi Marni, dia memberi kode pada para bodyguard-nya untuk membawa Ratih.


"Lepaskan, Lepaskan aku!" keluh Ratih.


Ratih tidak mampu melawan, betapa besarnya tenaga para bodygurd yang membawanya.


Setelah sampai diluar, Bimo meminta para bodyguar melepaskan Ratih.


"Aku tidak sudi, Bimo!" bentak Ratih denagn marah.


Alih-alih masuk mobil, Ratih malah lari ke jalan.


Bimo mengejar Ratih, dan berhasil mendahuluinya, sehingga Ratih pun menghentikan langkahnya.


"Aku mohon!" Bimo bersimpuh memegang kaki Ratih, dengan linangan Air mata penyesalannya.


"Aku minta maaf, aku sudah membohongimu. Aku mohon, Sayang!" pintanya kembali dengan lirih.


"Menyingkir dariku, Bimo!" pinta Ratih dengan terisak. "Kita sudah berakhir, aku tidak mau bertemu lagi denganmu!" lanjutnya.


"Aku tau, aku sudah membohongimu, tapi perlu kamu tau, cintaku padamu bukan sebuah kebohongan, percayalah! Aku sangat mencintaimu!"


"Cinta kau bilang!" Ratih terisak sendu suaranya hampir tenggelam. "Aku sudah tidak mengenal cinta, aku sudah tidak peduli apa itu cinta, bagiku cinta adalah suatu kebohongan," ucap Ratih masih dengan linangan air mata di pipinya.


Aditya yang baru sampai disana menyaksikan semua ini, dia tidak mau mencampuri urusan Ratih dan suaminya, dia hanya diam menyaksikan itu, dan berjaga jika terjadi sesuatu.

__ADS_1


"Jangan katakan itu, Sayang! Aku sungguh mencintaimu, akan kubuktikan itu, perjanjian itu tidak akan pernah terjadi, anak kita akan tetep bersama kita atas nama orang tua Ratih dan Bimo, tidak akan ada yang berubah, dan aku tidak akan pernah menceraikanmu sampai kapan pun," tutur Bimo dengan kesungguhan hatinya.


Mendengar ucapan itu, Ratih semakin terenyuh sedih. Mengingat saat pertama ia mengetahuinya dimana Siska bergelayut manja di depan matanya sendiri.


"Aku tidak percaya," ucap Ratih dwngan terisak.


"Akan kubuktikan, aku mohon!" Bimo bangkit dan memeluk Ratih, Ratih terus berontak, namun kala itu, Bimo melihat mobil merah milik Siska melaju kencang hendak menghantam mereka berdua, Bimo segera melepaskan pelukannya dan mendorong Ratih kepinggir, naas Bimo terpental beberapa meter dari sana.


Aaaaaa ... Jeritan menggema dikala itu.


Ratih merasakan sakit di perutnya yang begitu dahsyat. Aditya, Bi Marni, dan Pak Satpam menghampiri Ratih yang kesakitan.


Para Bodyguard mengerumuni Bimo yang tengah berlumur darah.


Siska menghentikan mobilnya, ia shock dengan apa yang telah dia lakukan, dirinya gelap mata karna cinta terhadap Bimo. "Apa yang terjadi pada Bimo, semoga dia baik-baik saja," ucapnya dengan bibir yang bergetar, ia pun mengusap wajahnya dengan kasar.


"Bi-Bimo, aku mau melihatnya!" Pinta Ratih. Ratih memaksakan diri bangkit dengan menahan rasa sakit di perutnya.


"Mas Bimo, Maaasss, MAASS BIMOOO!" teriak Ratih dengan histeris melihat sang suami terkapar lemah tak berdaya dengan lumuran darah dimana-mana.


Ratih segera duduk meraih sang suami memeluknya dengan penuh kasih sasang, terlepas dari apa yang telah terjadi sesungguhnya Ratih sangat mencintai sang suami.


"Sayang, bertahanlah!" ucap Ratih dengan Bibir yang bergetar.


"Ka-kau pang-gil a-pa?" Dengan sedikit nafas yang tersisa Bimo mengerahkan seluruh tenaga untuk bisa bicara dengan istrinya.


Ratih terus menagis.


"Sayang, aku mencintaimu, aku mencintaimu, bertahanlah!" Bibir Ratih terus bergetar mengucapkan untaian cintanya dalam kekhawatirannya.


Bimo pun terlihat lega mendengar kata-kata terakhir yang bisa ia dengar dari mulut sang istri. Bimo mengusap lembut air mata di pipi sang istri sebelum ia menghembuskan nafas terakhirnya, dan berucap, "Ma-maaf."


"Tidak, tidak, Biiimoooo! Bimoooo!" Ratih histeris menyaksikan sang suami melepaskan nafas terakhirnya dihadapannya sendiri, tanpa ia sadari dirinya sendiri pun tengah banyak kehilangan darah yang keluar dari bagian intinya akibat benturan. Ia pun seketika pingsan dan harus segera di bawa kerumah sakit.


"Innalillahi wainnailaihi rojinun."


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2