
"Awww..." Elena meringgis kesakitan.
Ia pun hendak membalas tamparan Sita. Namun Sita sigap menagkap tangan Elena dengan tatapan tajamnya.
"Aku rasa tamparan ini cukup untuk membuatmu mengerti, Elena," ucap Sita dengan nada di tekan. Sita pun mengibaskan tangan Elena ke samping. Lalu pergi dari sana.
"Kurang ajar beraninya dia menamparku seperti ini. awww... Mana sakit lagi," keluh Elena.
Semua warga menjadi saksi perselisihan mereka saat itu. Semua warga berhasil di propokasi oleh Elena, hingga kabar kehamilan Sita pun terdengar ketelinga Ibu Reni mamanya Dino.
"Bu Reni," sapa seorang warga. Bu Reni yang sedang berjalan sepulang dari pasar di hentikan lagkahnya oleh beberapa warga.
"Iya jeng, ada apa ya?" Tanya Bu Reni.
"Bisa bisa nya ya Ibu menikahkan Dino dengan perempuan yang sudah hamil oleh laki laki lain. Permpuan itu bisa membawa sial buat kampung kita Bu."
Bu Reni terkejut mendengarnya.
"Apa maksud kalian. Aku tidak mengerti!"
"Jangan pura-pura Bu Reni Bukankah istri Dino itu sedang hamil dan yang menghamilinya bukan Dino. Kenapa tidak suruh laki-laki yang menghamilinya yang bertanggung jawab. Ini pasti karena dia tidak tahu siapa Ayah dari anaknya," ucap salah seorang panjang lebar.
"Iya bener, mungkin dia sering gonta ganti pasangan, jadi dia bingung siapa ayahnya," ucap salah seorang warga lagi.
"Bener, Dino itukan baik, dia pasti kena bujuk rayu perempuan itu," ucap salah seorang lagi.
"Astagfirullah, tahu dari mana kalian, itu tidak benar. Menantu Saya tidak hamil, Siapa yang mengatakan itu?" tanya Bu Reni lagi.
"Masa iya Ibu tidak tahu, semua orang sudah mengetahui itu. Coba Ibu tanya sama anak Ibu pasti dia mengetahui itu, atau jangan-jangan dia merahasiakannya dari Ibu."
Ibu shock mendengar itu. Ibu langsung pergi ke rumah dan mencari keberadaan Siti dan Dino.
Sementara dibalik tempok sang propokator sedang tersenyum bahagia, mengintip kejadian itu.
Disisi tembok yang lain perempuan pemakai baju hoody pun mengintip, dan menganggukan kepala dengan tersenyum sinis.
Sita dan Dino yang sedang duduk menonton televisi di kagetkan dengan kedatangan Ibunya yang berteriak, "Dino...! Sita...! Kalian di mana?" tanya Ibu dengan teriakan penuh emosi.
__ADS_1
Dino Dan Sita pun menghampiri Ibu,
"Ada apa Bu kenapa Ibu berteriak-teriak?" ucap Dino.
"Katakan pada Ibu Apa benar Kamu hamil Sita?" tanya Ibu menatap Sita penuh curiga.
"Hamil, yang benar saja Ibu, kita ini baru menikah mana mungkin Sita langsung hamil," ucap Dino.
Ibu masih menatap Sita dengan tatapan menghakimi. "Sita, apa benar Kamu hamil" tanya Ibu sekali lagi.
"Tidak Bu, Sita tidak hamil, Siapa yang bilang Sita hamil?"
"Orang-orang di luar sana mereka bilang kamu hamil anak orang lain, bukan anak Dino."
"Astagfirullah, Ibu sudah kemakan omongannya Elena Bu," ucap Dino.
"Elena," Ibu termenung.
"Iya, Elena Bu. Sita sudah menceritakan kejadian semalam. Elena mengatakan pada semua orang kalau Sita hamil diluar nikah." Dino berusaha menenag kan Ibu dan menggandeng tangan nya. Mengarahkan Ibu duduk di kursi.
"Apa kau sungguh-sungguh tidak membohongi Ibu," Ibu menatap Dino.
Ibu pun menatap Sita yang hanya diam.
"Lantas, kenapa tiba-tiba kamu membelikan Sita baju Sar'i? Ibu yakin Elena memiliki alasan mengatakan itu semua." Ibu kekeh pada pendiriannya.
"Ya Allah Ibu, bukankah kewajiban suami membingbing istrinya, semua perempuan itu wajib menutup auratnya bukan?"
"Ibu tidak percaya Din. Ibu tidak rela kalau sampai kamu harus bertanggung jawab atas perbuatan orang lain." Ibu berdiri dari duduknya, dan Ibu pun pergi ke kamar dengan menunjukan wajah yang sinis pada Sita.
Sita dibuat shock dengan apa yang dikatakan Ibu, dia tidak percaya Ibu akan mempercayai semua perkataan orang-orang di luar sana.
Kini hatinya teriris sedih, tubuhnya tersungkur lemah ke dasar lantai dengan tatapan mata yang kosong, tak terasa air mata membasaha pipi.
Dino berusaha merangkul istrinya ," sayang, kau baik-baik saja," tanya Dino.
"Hati ku sakit sayang, jika saja itu bukan Ibu." Air mata Sita semakin tak tertahankan. Ia pun berdiri dan mengetuk pintu kamar Ibu.
__ADS_1
Tok.. Tok...tok...
"Ibu, tolong buka pintunya Bu! Aku mohon dengarkan aku," ucap Sita lirih masih dengan tangisnya.
Ibu tak juga membuka pintu.
"Ibu Sita tidak hamil bu, percayalah pada Sita, kalaupun nanti Sita hamil itu pasti anak Dino Bu." bujuk Sita.
"Sudahlah sayang, tolong maafkan Ibu," Dino berusaha menenangkan Sita.
"Tidak, aku harus menjelaskannya pada Ibu, sekarang,"
"Beri Ibu waktu untuk berpikir, aku yakin Ibu akan mengerti,"
"Ayo, lebih baik kamu istirahat." Dino pun memapah Sita kekamar.
"Apa kamu tau, sayang. Sejak usia 13 tahun aku kehilangan kasih sayang seorang Ibu, sejak lama aku merindukan kasih sayang itu, kini setelah aku menikah denganmu, aku mendaptkan kembali kasih sayang itu, bagaimana hati ini tidak sedih, melihat Ibu seperti itu padaku," ucap Sita masih menangis dengan dada yang bergetar.
***
Esok hari pun tiba, Ibu masih terlihat menekuk wajahnya pada Sita, Sita yang mau mengambil air wudhu pun berpapasan dengan Ibu, ketika Sita hendak bertanya. Ibu pun memalingkan muka dan pergi.
Dada Sita pun mulai bergetar, menahan pilu hatinya. Dia pun memilih untuk tegar.
Selesai berwudhu Ia pun shalat berjamaah dengan Suaminya yang sudah menunggu dari tadi. Terlihat sajadah sudah tergelar di kamarnya. Dan Sita pun segera memakai mukenanya.
Ditengah-tengah Doa Sita kini ada isak tangis kepiluan. "Ya Allah, tolong jangan ambil kembali cinta yang sudah Kau beri padaku, tolonglah maafkan aku dari segala dosa dosaku, izinkan kembali aku merasakan kasih sayang seorang Ibu. Aamiin.
Nampaknya kali ini Allah belum mengabulkan doa Sita. Sejak saat itu Sikap Ibu berubah drastis pada Sita.
Rumah yang biasanya penuh Cinta kini penuh dengan duka. Ibu selalu saja memarahi Sita, bahkan untuk hal kecil saja sekarang Ibu selalu memarahinya.
"Dino, Ibu tidak suka ya kamu terus menerus membela Sita," ucap Ibu dengan marah." Ibu ingin kamu mengusir Sita," lanjutnya pada Dino yang hendak berangkat bekerja.
Sontak Dino merasa kaget, "Apa maksud Ibu, kenapa Ibu bicara seperti itu, percayalah yang terjadi kemarin itu tidak benar." ucap Dino sambil melihat kearah Sita yang berdiri hendak berangkat kerja juga.
Sita berpamitan pada Ibu, ia hendak mencium tangan nya. Namun Ibu malah pergi begitu saja kekamarnya, tanpa menghiraukan Sita.
__ADS_1
Satu bulan telah berlalu, tak sedikitpun Ibu mengubah Sikapnya pada Sita, nampaknya kekhawatirannya terhadap Dino begitu besar. Ibu begitu khawatir jika anak satu-satunya di permainkan oleh istrinya.
Bahkan Dino pun tidak berhasil membujuk Ibu. Semua orang diluar sana pun tak berhenti menggunjing Sita.