
Dino dan Kak Hermawan mengirim barang seperti biasanya. Kini kak Hermawan sudah mendapatkan konsumen yang cukup banyak seperti Dino, Ipan pun sudah membeli Mobil Box baru untuk mempasilitasi Kak Hermawan. Usaha Ipan semakin maju. Ipan pun semakin fokus pada usahanya.
Hari demi hari telah berlalu. Ipan mulai merasa kesepian, kini ia sering menemui Dino hanya sekedar untuk bertukar cerita.
Malam hari selepas Isya, Ipan datang menemui Dino. Diketuknya pintu dengan perlahan. Dino nampak sedang mengganti pakaiannya selepas pulang dari mesjid.
"Sayang, tolong bukakan pintunya!" pinta Dino pada sang istri.
Sita pun mengangguk dan segera membuka pintunya, tidak lupa ia mengenakan cadarnya terlebih dahulu.
Ceklekkk ...
Deg ...
Ada sedikit rasa kaget saat Ipan melihat Sita yang membuka pintu.
Sementara Sita nampak biasa saja.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Apa Dino ada di rumah?" tanya Ipan.
"Suamiku sedang berganti pakaian, silahkan duduk dan tunggu sebentar," ucap Sita dengan lembut tanpa menatap Ipan.
"Terimakasih."
"Sama-sama."
Sitapun kembali ke kamar menemui sang suami sebelum ia pergi kedapur untuk membuatkan kopi.
"Sayang, ada Ipan," kata Sita mendekati sang suami, yang sedang mencari bajunya di lemari.
"Ipan! Sudah kamu suruh menunggu?"
"Sudah," jawab Sita.
Melihat Dino yang sedang kebingungan mencari baju Sita pun bertanya, "Kamu cari baju yang mana?"
"Kaos putih yang tipis, Sayang. Aku gerah."
"Kaos putih, aku pindah ke atas, biar aku ambilkan," ucap Sita lalu melangkah mengambil kaos itu.
Dino memperhatikan.
Sita pun mengambil kaos itu dan menyerah kannya pada Dino.
"Nih!"
"Pakaikan!" pinta Dino tiba-tiba.
"Apa? Pakaikan!" Sita mengerutkan keningnya.
"Iya." Dino mengangkat Alisnya dan tersenyum menggoda.
Heumm ...
"Dasar manja!" Sita pun memakaikan bajunya dengan tersenyum.
Saat tangan Sita sudah sampai di sekitar pinggang Dino pun meraihnya dan melingkarkan tangan sang istri di pinggangnya, kemudian melingkarkan tangannya dipinggang sang istri, lalu mengecup keningnya.
"Sudah! Ipan sudah menunggu." Sita melepaskan tangannya dari pinggang sang suami.
"Mau dibuatkan kopi apa?" lanjutnya.
"Apa saja, terserah kamu," ucap Dino lalu melangkah, "Oh, ya, kapan kamu bebas dari larangan?" lanjut Dino bertanya.
Heuheum ...
__ADS_1
Sita tersenyum.
"Hitung aja sendiri!" ucap Sita lalu melangkah pergi ke dapur.
Hehemm ...
"Awas, ya!" Dino pun tersenyum. Kemudian pergi menemui Ipan.
"Hay, Pan. Sorry nunggu lama," ucap Dino.
"Tidak apa-apa, Din. Sorry aku ganggu kamu, suntuk di rumah sendiri."
"Oke, tidak masalah."
Tiba-tiba terdengar suara Arvi menangis. Dino segera menghapirinya, dan menggendongnya.
"Cup, cup, cup, anak papa kenapa? Pengen mimi ya, tunggu bentar, mama lagi bikin kopi."
"Waahh, sini om gendong!" kata Ipan, "Jadi penasaran gendong bayimu," lanjutnya.
"Emang kamu bisa, Pan?"
"Bisa dong, masa gak bisa, gini-gini juga kalo masalah gendong bayi pasti bisa."
"Boleh, nih sama om Ipan." Dino menyerahkan Arvi pada Ipan.
Ipan pun menggendongnya dengan sangat hati-hati, dan berhasil.
"Hayy, Arvi. Main sama om yuk, kita main bola di lapangan, tar yang kalah gendong, ya," canda Ipan.
Hahaha ...
"Kayak kita dulu ya," kata Dino.
"Iya bener. Kamu paling sering gendong aku dulu, Din," ucap Ipan.
Hahaha ...
Mereka pun terus berbincang mengingat masa kecil mereka, yang penuh keseruan tantap beban.
"Eh, anak mama bangun?" Sita datang membawa dua cangkir kopi panas. Lalu di letakannya di meja.
"Sini! Sama mama, Nak," kata Sita.
Seketika Ipan menyerahkannya pada Sita. Namun Sita tiba-tiba mundur, "Maaf!" ucap Sita, lalu melihat Dino. Sita tidak enak mengambil Arvi langsung dari tangan Ipan karna pasti akan berdekatan dan bersentuhan.
Ipan jadi terlihat kaku.
Dino tersenyum, dan mengambilnya dari Ipan. Lalu menyerahkannya pada sang istri.
Lalu Sita pun kembali kekamarnya.
'Dia benar-benar menjaga diri dari laki-laki yang bukan mahramnya, senang sekali memiliki istri seperti dia. Astagfirullah, kenapa aku jadi mikirin dia' batin Ipan.
"Pan!" panggil Dino membuyarkan lamunan Ipan.
"Eu ... Iya, Din. Maaf, tiba-tiba aku ingat kerjaan," elaknya.
Dino sedikit heran. Akh mungkin dia keingat Syakila saat melihat Sita, itu yang dipikirkan Dino.
Mereka pun kembali berbincang, membicarakan banyak hal sampai tak terasa kopi panas mereka sudah habis tanpa tersisa.
Malam pun semakin larut, Ipan pun akhirnya pamit pulang.
Dengan langkah yang lelah, Dino pun kembali ke kamarnya, tidak lupa sebelum itu mengunci pintu dan memeriksa keadaan rumah, ibu pun dilihatnya sudah terlelap tidur. Begitu masuk kamar ternyata Sita belum tidur, ia terlihat sedang melipat baju, "Sayang, kamu belum tidur?" tanyanya pada sang istri.
"Belum, aku masih harus menyelesaikan pekerjaanku, tadi siang Rafka rewel sekali, jadi aku menunda pekerjaanku," tutur Sita.
"Sudahlah, besok saja kamu lanjutkan, ini sudah larut, lebih baik kamu istirahat," kata Dino.
__ADS_1
"Tidak, ini masih banyak, jika di tunda besok akan semakin menumpuk, kalo kamu mau istirahat duluan saja, nanti aku nyusul," tutur Sita.
Dino malah ikut duduk bersama Sita, membantu sang istri melipat baju.
"Sayang, mau ngapain? Kamu istirahat saja!" kata Sita.
"Mana tega aku tidur enak, sementara kamu masih bekerja," kata Dino.
"Ya, tidak apa-apa, besok kan kamu juga harus bekerja," ucap Sita.
"Kamu juga besok harus bekerja, mengurus Arvi, Rafka dan rumah ini, apakah itu bukan kerja?" ucap Dino sambil melipat baju.
"Ya, tapi 'kan saya di rumah, bisa istirahat kapan saja, sementara kamu di luar dan berkendara membutuhkan istirahat yang cukup."
"Sudahlah jangan banyak ngomel, kapan selesainya."
Hemmm mereka pun saling lempar senyum, namun tiba-tiba terdengar bunyi kriukkk kriukkk berbunyi di perut Sita.
"Sayang, kamu bekum makan?" tanya Dino.
"Hehe ... aku lupa," jawab Sita.
"Astagfirullahhaladzim." Dino menyimpan baju yang sedang di pegangnya, dan menyimpan pula baju yang sedang di pegang Sita. Lalu membimbing sang istri kedapur.
"Sayang, mau kemana? Ini belum selesai."
Dino tidak menghiraukan. Dia terus membimbing Sita kedapur dan di dudukannya di kursi meja makan.
Diletakkannya piring dan diisinya dengan nasi dan lauk pauk. Dino pun duduk disebelah sang istri. Dan menyuapinya.
Aaaa ...
Dino meminta Sita membuka mulutnya.
"Sayang aku belum selesai," keluh Sita. Namun, tak dihiraukan Dino.
Aaaa ....
Dino terus memaksa.
Hemmm ...
Akhirnya Sita pun membuka mulutnya dan makan disupi sang suami. Tidak mau makan sendiri Sita pun menyuapi sang suami agar makan bersamanya.
Setelah selesai makan, Dino pun menyuruh sang istri tidur dan melanjutkannya besok. Dino mengerti kalau sang istri sudah sangat kelelahan. Mengurus dua bayi dan rumah itu bukanlah hal yang mudah.
Setelah dipaksa, akhirnya Sita pun tertidur, mengikuti kemauan sang suami. Namun ketika bangun tidur, Sita kaget semua pekerjaannya sudah selesai, tertata dengan sangat rapih. Dino pun tidak terlihat dikamar, dia sudah berada di dapur terlihat sedang mencuci pakaian.
Melihat Sita menghampirinya, Dino tersenyum, "Assalamualaikum, kamu sudah bangun, Sayang?" tanya Dino pada sang istri.
Sita menjawabnya dengan senyum
"Waalaikumsalam, kamu sedang nyuci, Sayang?"
"Iya, biar kamu tidak keropatan, takutnya Arvi atau Rafka rewel lagi."
Heemmm ...
"Kamu kok baik sih, aku jadi gak enak."
"Enakin dong, sini peluk suamimu, biar tambah semangat nyucinya."
Heemmm ...
Sita pun menghampiri dan memeluk suaminya yang sedag mencuci baju dari belakang.
"Makasih, Sayang, semoga Allah selalu melindungimu, melimpahkan rejekimu, dan selalu diberi kesehatan, juga tambah sayang sama aku," kata Sita.
"Aamiin."
__ADS_1
Bersambung ...